Kehamilan dan melahirkan merupakan fase besar yang membawa banyak perubahan pada tubuh perempuan. Namun, di kembali perubahan hormon yang terjadi, ada kondisi kesehatan yang perlu diwaspadai lho Bunda, salah satunya adalah kanker tetek yang terdiagnosis setelah melahirkan.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa wanita yang mengalami pemeriksaan kanker tetek dalam beberapa tahun setelah melahirkan dapat mempunyai akibat penyakit yang lebih garang dibandingkan wanita yang belum pernah melahirkan alias mereka yang didiagnosis kanker tetek jauh setelah masa persalinan.
Kondisi ini dikenal sebagai postpartum breast cancer alias kanker tetek pasca persalinan.
Mengapa kanker tetek setelah melahirkan bisa lebih berisiko?
Salah satu argumen utama adalah perubahan biologis pada jaringan tetek selama kehamilan dan menyusui.
Saat hamil, tetek mengalami perkembangan besar untuk mempersiapkan produksi ASI. Hormon seperti estrogen, progesteron, dan prolaktin menyebabkan sel-sel tetek tumbuh dan berkembang.
Setelah melahirkan, terutama ketika proses menyusui berhenti, jaringan tetek mengalami proses yang disebut involusi, ialah kembalinya jaringan tetek ke kondisi sebelum hamil.
Dalam proses ini, terjadi perubahan pada sel dan lingkungan sekitar jaringan tetek yang dapat menciptakan kondisi tertentu yang mendukung perkembangan sel kanker.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention, akibat kematian akibat kanker tetek dapat meningkat pada wanita yang didiagnosis dalam periode sekitar 5 tahun setelah melahirkan dibandingkan wanita yang belum pernah melahirkan. Risiko tersebut terlihat lebih tinggi terutama pada wanita dengan usia lebih muda saat melahirkan.
Perubahan hormon bisa memengaruhi pertumbuhan sel kanker
Hormon reproduksi mempunyai peran besar dalam perkembangan kanker tetek tertentu. Selama kehamilan, kadar hormon meningkat secara signifikan untuk mendukung pertumbuhan jaringan payudara. Pada sebagian mini kasus, perubahan hormonal ini dapat mempercepat pertumbuhan sel abnormal yang sebelumnya sudah ada tetapi belum terdeteksi.
Peneliti dari University of North Carolina Lineberger Comprehensive Cancer Center menemukan bahwa kanker tetek yang muncul setelah kehamilan condong mempunyai karakter lebih garang dan lebih sering ditemukan pada stadium lanjut.
Salah satu dugaan penyebabnya adalah perubahan mikro lingkungan jaringan tetek setelah melahirkan yang dapat memengaruhi keahlian sel kanker untuk berkembang dan menyebar.
Gejalanya sering disalahartikan sebagai pengaruh menyusui
Salah satu tantangan terbesar dalam mendeteksi kanker tetek setelah melahirkan adalah gejalanya sering dianggap normal akibat menyusui.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Benjolan pada tetek yang tidak lenyap setelah beberapa minggu
- Perubahan corak alias ukuran salah satu payudara
- Kulit tetek tampak seperti kulit jeruk (peau d'orange)
- Puting tertarik ke dalam secara tiba-tiba
- Keluar cairan dari puting selain ASI
- Nyeri alias perubahan yang terasa berbeda dari biasanya
Banyak ibu menyusui mengalami tetek keras, bengkak, alias nyeri akibat sumbatan ASI dan mastitis. Namun, jika keluhan tidak membaik dengan perawatan biasa, pemeriksaan medis tetap diperlukan.
Usia muda bukan berfaedah bebas risiko
Sebagian wanita menganggap kanker tetek hanya terjadi pada usia lanjut. Padahal, kanker tetek yang berangkaian dengan masa kehamilan dan setelah melahirkan lebih sering ditemukan pada wanita usia muda.
Data dari American Cancer Society menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar kanker tetek terjadi pada usia lebih tua, kasus pada wanita muda dapat mempunyai tantangan tersendiri lantaran sering terlambat dikenali.
Selain itu, wanita yang baru melahirkan terkadang menunda pemeriksaan lantaran konsentrasi merawat bayi alias menganggap perubahan pada tetek sebagai bagian normal dari masa menyusui.
Meski pemeriksaan kanker tetek setelah melahirkan mempunyai akibat tertentu, menyusui tetap mempunyai banyak faedah kesehatan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa menyusui dalam jangka waktu tertentu berangkaian dengan penurunan akibat kanker tetek sepanjang hidup. Efek perlindungan ini diduga terjadi lantaran menyusui mengurangi jumlah siklus menstruasi selama hidup sehingga paparan hormon tertentu menjadi lebih rendah. Namun, faedah menyusui tidak berfaedah seseorang sepenuhnya terbebas dari akibat kanker payudara.
Sebuah kajian besar oleh Collaborative Group on Hormonal Factors in Breast Cancer yang melibatkan informasi dari nyaris 50.000 wanita dengan kanker tetek dan lebih dari 96.000 wanita tanpa kanker menemukan bahwa, akibat kanker tetek menurun sekitar 4,3 persen untuk setiap 12 bulan menyusui sepanjang hidup. Selain itu, setiap kali melahirkan juga dikaitkan dengan penurunan akibat sekitar 7 persen, terlepas dari pengaruh menyusui.
Sementara itu, World Health Organization (WHO) dan American Cancer Society (ACS) juga menyatakan bahwa menyusui merupakan salah satu aspek yang dapat membantu menurunkan akibat kanker tetek dan kanker ovarium.
Pentingnya mengenali perubahan tubuh setelah melahirkan
Masa setelah melahirkan sering membikin ibu lebih konsentrasi pada kesehatan bayi dibandingkan dirinya sendiri. Padahal, menjaga kesehatan ibu juga menjadi bagian krusial dalam keluarga.
Jika menemukan perubahan yang tidak biasa pada payudara, jangan menunggu terlalu lama untuk berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu meningkatkan kesempatan mendapatkan penanganan yang tepat.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·