Dinyatakan Harus Angkat Rahim karena Endometriosis, Ibu Ini Malah Hamil Secara Tak Terduga

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 15662x dilihat
Dinyatakan Harus Angkat Rahim karena Endometriosis, Ibu Ini Malah Hamil Secara Tak Terduga

Bagikan Postingan

Perjalanan untuk memiliki anak tidak selalu mulus. Bagi sebagian ibu, kondisi medis seperti endometriosis dapat menyebabkan nyeri berkepanjangan dan mengganggu peluang kehamilan.

Kisah ini dialami Alyssa Fisher, ibu dari Houston, Amerika Serikat. Setelah berjuang melawan endometriosis selama bertahun-tahun, mengalami beberapa keguguran, dan memutuskan menjadwalkan operasi pengangkatan rahim, Alyssa mendapatkan kabar yang tak terduga: beberapa minggu sebelum tindakan, ia dinyatakan hamil secara alami. Berikut rangkuman dari People.

Divonis kudu angkat rahim lantaran endometriosis

Alyssa dan suaminya, Breckan, sudah dikaruniai seorang putri bernama Olive dan sangat berharap memberikan adik untuknya.


Namun harapan itu tidak mudah. Setelah sekitar setahun berusaha, Alyssa mengalami dua kehamilan kimia. Pemeriksaan kemudian mengonfirmasi ia menderita endometriosis, adenomyosis, dan sindrom ovarium polikistik (PCOS), kondisi yang membuat peluang hamil semakin menantang.

Mereka berkonsultasi dengan spesialis fertilitas. Dokter menjelaskan bahwa peluang terbaik untuk kehamilan mungkin melalui program fertilisasi in vitro (IVF), namun Alyssa merasa belum siap untuk prosedur tersebut.

Sementara itu, nyeri akibat endometriosis semakin sering dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan lanjutan juga menunjukkan adanya adenomyosis, yaitu jaringan yang menyerupai lapisan rahim tumbuh ke otot dinding rahim.

Dilansir dari Mayo Clinic, adenomyosis umumnya terjadi berbarengan dengan endometriosis. Menurut data, sekitar 30 hingga 50 persen orang dengan endometriosis juga memiliki adenomyosis, sehingga kedua kondisi ini kerap saling memperberat keluhan.

Alyssa menggambarkan dampaknya dengan, 'Endometriosis mengambil alih hidup saya; saya sulit berjalan dan selalu kelelahan.'

Karena gejala memburuk, dokter menyarankan histerektomi (operasi pengangkatan rahim) sebagai salah satu opsi untuk mengurangi nyeri kronis. Bagi Alyssa, keputusan itu berat karena artinya ia tidak lagi dapat hamil.

'Dari Januari hingga Agustus 2025, saya merasa tidak berfungsi sebagai manusia. Dokter mengatakan operasi bisa membantu, meski ada kemungkinan endometriosis masih kambuh. Jika saya sudah selesai punya anak, histerektomi mungkin memberi kelegaan,' ujar Alyssa.

Meski sulit, Alyssa memutuskan menjalani operasi demi mengakhiri rasa sakit yang berkepanjangan, sebagai bentuk perawatan terhadap dirinya sendiri.

'Saya sudah mencoba berbagai pengobatan. Histerektomi terasa seperti jalan yang paling menjanjikan untuk meringankan siklus menstruasi yang berat dan adenomiosis saya,' tambahnya.

Kejutan manis dua minggu sebelum operasi

Persiapan operasi pun berjalan. Namun sekitar dua minggu sebelum jadwal, Alyssa menyadari menstruasinya terlambat. Karena riwayat keguguran, awalnya ia ragu, tetapi tetap mencoba tes kehamilan dan mendapat hasil positif.

'Sebagai upaya terakhir, saya memakai test pack kertas dan melihat garis samar. Saya menyuruh suami membeli tes digital, dan ketika saya menggunakannya, hasilnya menulis "hamil",' kenang Alyssa.

'Itu seperti kejutan besar. Saya sempat membuang banyak perlengkapan bayi karena merasa tidak akan hamil lagi. Tidak percaya ketika melihat hasilnya; rasanya seperti keajaiban yang biasanya hanya saya dengar dari orang lain,' lanjutnya.

Setelah pemeriksaan ke dokter memastikan kehamilan, rencana histerektomi dibatalkan. Kini Alyssa dan keluarganya menantikan kelahiran anak perempuan mereka, sementara Olive tak sabar menyambut adik.

Mengenal endometriosis

Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang mirip lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim, misalnya pada ovarium, tuba falopi, atau organ di panggul.

Kondisi ini dapat menimbulkan gejala seperti:

  • Nyeri menstruasi yang sangat hebat.
  • Nyeri saat berhubungan intim.
  • Nyeri saat buang air kecil atau besar saat menstruasi.
  • Perdarahan menstruasi berlebihan.
  • Kesulitan hamil.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), endometriosis merupakan salah satu penyebab infertilitas yang cukup umum; sekitar 30 hingga 50 persen wanita dengan kondisi ini mengalami kesulitan untuk hamil, meski tidak semua penderitanya mengalami gangguan kesuburan.

Ahli menduga endometriosis mengganggu kesuburan melalui peradangan kronis, pembentukan jaringan parut di rongga panggul, serta gangguan pada pelepasan sel telur, pembuahan, atau implantasi embrio.

Apakah penderita endometriosis masih bisa hamil?

Bisa. Diagnosis endometriosis tidak otomatis menghilangkan kesempatan untuk hamil.

Menurut American Society for Reproductive Medicine (ASRM), peluang kehamilan tergantung pada usia, tingkat keparahan endometriosis, kualitas sel telur, dan adanya gangguan reproduksi lain.

Pada kasus endometriosis ringan, beberapa wanita dapat hamil secara alami. Untuk kasus yang lebih berat, dokter mungkin menyarankan operasi pengangkatan jaringan endometriosis atau teknologi reproduksi dibantu seperti inseminasi buatan atau fertilisasi in vitro (IVF).

Meskipun kisah Alyssa berakhir bahagia, setiap perjalanan menuju kehamilan berbeda. Jika mengalami nyeri menstruasi hebat, nyeri panggul berkepanjangan, atau kesulitan hamil, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi agar pemeriksaan dan penanganan tepat dapat meningkatkan peluang kehamilan sesuai kondisi masing-masing.

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads