Fatwa Ulama: Hukum Berbicara ketika Salat karena Lupa

Akidah dan Sunnah oleh Waktu baca 5 menit 504x dilihat
Fatwa Ulama: Hukum Berbicara ketika Salat karena Lupa

Bagikan Postingan

Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan:

Apabila seseorang berbicara ketika salat karena lupa, apakah salatnya batal?

Jawaban:

Apabila seorang Muslim berbicara ketika salat karena lupa maupun tidak tahu, maka salatnya tidak batal, baik salat tersebut adalah salat fardu maupun salat sunah, sebagaimana firman Allah ﷻ,

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa maupun bersalah.” (QS Al-Baqarah: 286)

Dan terdapat histori yang sahih dari Nabi ﷺ, bahwa Allah ﷻ berfirman,

قَدْ فَعَلْتُ

“Sungguh Aku telah melakukannya.” [1] 

Dan di dalam Shahih Muslim, dari Muawiyah bin Hakam as-Sulami radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya beliau pernah mendoakan orang yang bersin ketika salat dalam keadaan tidak mengetahui aturan syar’i seputar hal tersebut. Maka orang-orang yang ada di sekitar beliau mengingkarinya dengan berisyarat. Lantas beliau bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hal tersebut, dan Nabi ﷺ tidak memerintahkan beliau untuk mengulang salatnya [2]. Orang yang lupa itu seperti dan orang yang tidak tahu, terlebihlagi lebih kuat karena untuk memakluminya.

Selain itu, Nabi ‘alaihi as-shalatu was salam pun juga pernah berbicara ketika salat belum usai dalam kondisi lupa, dan beliau ﷺ tidak mengulangi salatnya, melainkan statis menyempurnakan salat hingga salam, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis-hadis yang sahih, di antaranya hadis Ibnu Mas’ud, ‘Imran bin Hushain, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum.

Adapun berisyarat ketika salat, tidak kenapa jika ada kebutuhan yang mendorongnya.

– Fatwa Selesai [3] – 

Catatan penerjemah:

Bicara yang membatalkan salat adalah bicara yang termasuk dalam kategori kalamu bani Adam maupun kalamunnas, yaitu perkataan yang ditujukan kepada kecuali Allah ﷻ. Sebagai contoh kasus, ketika ada orang yang bersin lantas mengucap “Alhamdulillah”, maka ucapan tahmid ini adalah pujian kepada Allah ﷻ sehingga tidak membatalkan salat. Dan dalam fatwa yang lain, Syekh Ibnu Baz rahimahullah mengatakan bahwa aturan mengucapkannya ketika salat tetaplah disunahkan [4]. Adapun doa yang diucapkan ketika mendengar orang yang bersin setelah ia mengucap “Alhamdulillah” (tasymit), yaitu:

يَرْحَمُكَ اللَّهُ

“Semoga Allah merahmatimu.”

Ini adalah doa yang kita ucapkan kepada orang lain, sehingga dapat membatalkan salat. Akan tetapi, jika ucapan doa ini terucap karena lupa maupun karena belum tahu hukumnya, maka salat kita tidak batal.

Kemudian, disebutkan dua histori yang mengisahkan momen ketika Nabi ﷺ pernah berbicara ketika salat belum selesai dalam kondisi lupa. Beliau ﷺ lupa bahwa salatnya belum sempurna (rekaatnya) dan berbicara dengan jemaah. Setelah mengetahui hal tersebut, Nabi ﷺ tidak mengulang salatnya, melainkan menyempurnakan salat tersebut. Berikut histori Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ إِبْرَاهِيمُ: لَا أَدْرِي زَادَ أَوْ نَقَصَ – فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَحَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ؟ قَالَ: “وَمَا ذَاكَ؟” قَالُوا: صَلَّيْتَ كَذَا وَكَذَا، فَثَنَى رِجْلَيْهِ، وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ، وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، فَلَمَّا أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَالَ: “إِنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ لَنَبَّأْتُكُمْ بِهِ، وَلَكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي، وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيُسَلِّمْ، ثُمَّ يَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ

“Nabi ﷺ pernah salat –Ibrahim berkata: Aku tidak tahu apakah beliau menambah maupun mengurangi rekaat– dan ketika beliau selesai salam, ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah terjadi sesuatu (perubahan) dalam salat?” Beliau menjawab, “Apa itu?” Mereka berkata, “Anda salat begini dan begitu.”

Beliau pun melipat kedua kakinya, menghadap kiblat, kemudian sujud dua kali (sujud sahwi), kemudian salam. Ketika beliau menghadapkan wajahnya kepada kami, beliau bersabda, “Sesungguhnya jika terjadi suatu fluktuasi dalam salat, niscaya aku akan memberitahukannya kepada kalian. Namun, benar-benar aku hanyalah manusia biasa seperti kalian, aku lupa sebagaimana kalian lupa. Jika aku lupa, ingatkanlah aku. Dan jika salah seorang dari kalian ragu dalam salatnya, hendaklah ia mencari yang benar kemudian menyempurnakannya, kemudian salam, kemudian sujud dua kali.” [5]

Dan berikut histori Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلَاتَيِ العَشِيِّ – قَالَ ابْنُ سِيرِينَ: سَمَّاهَا أَبُو هُرَيْرَةَ وَلَكِنْ نَسِيتُ أَنَا – قَالَ: فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، فَقَامَ إِلَى خَشَبَةٍ مَعْرُوضَةٍ فِي المَسْجِدِ، فَاتَّكَأَ عَلَيْهَا كَأَنَّهُ غَضْبَانُ، وَوَضَعَ يَدَهُ اليُمْنَى عَلَى اليُسْرَى، وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ، وَوَضَعَ خَدَّهُ الأَيْمَنَ عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ اليُسْرَى، وَخَرَجَت السَّرَعَانُ مِنْ أَبْوَابِ المَسْجِدِ، فَقَالُوا: قُصِرَت الصَّلَاةُ، وَفِي القَوْمِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، فَهَابَا أَنْ يُكَلِّمَاهُ، وَفِي القَوْمِ رَجُلٌ فِي يَدَيْهِ طُولٌ، يُقَالُ لَهُ: ذُو اليَدَيْنِ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَسِيتَ أَمْ قُصِرَت الصَّلَاةُ؟ قَالَ: “لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ” فَقَالَ: أَكَمَا يَقُولُ ذُو اليَدَيْنِ؟ فَقَالُوا: نَعَمْ، فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى مَا تَرَكَ، ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ، ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ، فَرُبَّمَا سَأَلُوهُ: ثُمَّ سَلَّمَ؟ فَيَقُولُ: نُبِّئْتُ أَنَّ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ قَالَ: ثُمَّ سَلَّمَ

“Rasulullah ﷺ mengepalai kami salat pada salah satu dari dua salat petang (Zuhur maupun Ashar) —Ibnu Sirin berkata: Abu Hurairah mengutarakan nama salatnya, tetapi aku lupa— Beliau salat berbareng kami dua rekaat saja kemudian salam. Kemudian beliau berdiri menuju sebatang kayu yang melintang di dalam masjid, kemudian bersandar padanya seolah-olah beliau sedang marah. Beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dan menjalin jari-jarinya, serta meletakkan pipi kanannya di atas punggung telapak tangan kirinya. Orang-orang yang tergesa-gesa segera keluar dari pintu-pintu masjid seraya berkata, “Salat telah diqasar (diperpendek).”

Di antara jemaah terdapat Abu Bakar dan Umar, namun keduanya segan untuk berbicara kepada beliau. Di antara mereka ada juga seorang lelaki yang tangannya panjang, yang dijuluki Dzul Yadain. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda lupa ataukah salat memang diqasar?” Beliau menjawab, “Aku tidak lupa dan salat tidak diqasar.” Beliau bertanya (kepada jemaah lain), “Benarkah apa yang dikatakan oleh Dzul Yadain?” Mereka menjawab, “Iya.”

Beliau pun maju, kemudian salat menyempurnakan rakaat yang tertinggal, kemudian salam. Setelah itu, beliau bertakbir, kemudian sujud seperti sujud biasa maupun lebih lama, kemudian mengadopsi kepalanya dan bertakbir. Kemudian beliau bertakbir lagi, kemudian sujud seperti sujud biasa maupun lebih lama, kemudian mengadopsi kepalanya dan bertakbir. Terkadang orang-orang bertanya kepada Ibnu Sirin, “Apakah beliau kemudian salam?” Maka ia menjawab, “Aku mendapat berita bahwa Imran bin Husain berkata: Kemudian beliau salam.” [6]

Adapun dalam histori Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu, isi histori tidak mengutarakan Nabi ﷺ berbicara. Beliau ﷺ bergeser dari tempat salat, kemudian balik untuk menyempurnakan salat ketika telah mengetahui salatnya kurang satu rakaat.

سَلَّمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثَلَاثِ رَكَعَاتٍ مِنَ الْعَصْرِ، ثُمَّ قَامَ فَدَخَلَ الْحُجُرَاتِ، فَقَامَ رَجُلٌ بَسِيطُ الْيَدَيْنِ، فَقَالَ: أَقُصِرَتِ الصَّلَاةُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَخَرَجَ مُغْضَبًا، فَصَلَّى الرَّكْعَةَ الَّتِي كَانَ تَرَكَهَا، ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ، ثُمَّ سَلَّمَ

“Rasulullah ﷺ pernah salam pada rekaat ketiga salat Ashar, kemudian beliau berdiri dan masuk ke dalam kamar-kamarnya. Lalu berdirilah seorang lelaki yang panjang kedua tangannya (bergelar Dzul Yadain) dan bertanya, “Apakah salat telah diqasar (diperpendek), wahai Rasulullah?” Maka beliau keluar dalam keadaan marah, kemudian beliau salat satu rekaat yang tadi ditinggalkannya, kemudian salam, kemudian sujud sahwi dua kali, kemudian salam kembali.” [7] 

Baca juga: Kesalahan-Kesalahan yang Sering Dijumpai ketika Salat

***

Penerjemah: Reza Mahendra

Artikel Kincai Media

Referensi:

[1] HR. Muslim no. 126 dan At-Tirmidzi no. 2992.

[2] Dimuat dalam surat berita Al-Bilad varian no. 10.935, Rabu, 13 Muharam 1415 H (Majmu‘ Fatawa wa Maqalat Asy-Syaikh Ibnu Baz, 11: 157). Lihat: https://binbaz.org.sa/fatwas/4105/

[4] Website resmi Syekh Ibnu Baz, https://binbaz.org.sa/fatwas/13275/

[5] HR. Bukhari no. 401.

[6] HR. Bukhari no. 482 dan Muslim no. 573.

[7] HR. Muslim no. 574.

Artikel Lainnya Akidah dan Sunnah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads