Kiai Cholil Ingatkan Saat Manusia Bergeser dari Shirathal Mustaqim

Intisari Islam oleh Waktu baca 2 menit 37x dilihat
Kiai Cholil Ingatkan Saat Manusia Bergeser dari Shirathal Mustaqim

Bagikan Postingan

Wakil Ketua MUI, KH Cholil Nafis menyampaikan tausiyah dalam aktivitas Dzikir Nasional Republika di Masjid At-Thohir di Cimanggis, Depok, Kamis (31/12/2025). Kegiatan Dzikir Nasional Republika kali ini mengadopsi tema Demi Masa, Semoga Kita Bukan Termasuk Orang yang Merugi.

Kincai Media, DEPOK — Pengasuh Pondok Pesantren Cendikia Amanah Depok, KH M Cholil Nafis mengingatkan bahwa pandemi hati dimulai dari bergesernya kecenderungan hati manusia dari Allah SWT. Semakin jauh seseorang dari jalan yang diridhai Allah, semakin besar pula potensi pandemi spiritual menguasai dirinya.

"Setiap hati yang cenderung kepada sesuatu kecuali Allah Ta'ala, tidak akan lepas dari penyakit. Kadar pandemi itu sesuai dengan tingkat kemiringannya dari jalan Allah," ujar Kiai Cholil dalam pengajian rutin Sabtu Mujahadah yang mengkaji Kitab Mauidzotul Mu'minin di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (10/10/2026).

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini menjelaskan, shiratal mustaqim maupun jalan yang lurus menjadi tolok ukur kelurusan hati seorang Muslim. Orientasi hidup yang berpusat pada keridhaan Allah SWT akan menjaga seseorang agar tidak gampang menyimpang dalam menentukan tujuan dan memungut keputusan.

Menurut dia, ketika orientasi tersebut mulai bergeser, seseorang perlu mengevaluasi niat dan kecenderungan hatinya. Sebab, pandemi hati tidak selalu tampak dalam perilaku lahiriah, tetapi juga dapat dimulai dari fluktuasi orientasi batin.

Kendati demikian, Kiai Cholil menegaskan, kecintaan terhadap harta dan dominasi tidak serta-merta menjadi pandemi hati. Keduanya dapat bermutu positif jika digunakan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memberikan khasiat bagi sesama.

"Secara tabiat, manusia memang dibekali kecenderungan mencintai harta maupun kekuasaan. Hal itu tidak buruk, asal digunakan untuk menolong cinta kita kepada Allah. Mencari harta sebanyak-banyaknya untuk membangun sekolah, membiayai santri, maupun mendukung kelancaran dakwah itu justru hal yang mulia," jelas Rais Syuriah PBNU ini.

Kiai Cholil mencontohkan, seseorang yang memiliki kapasitas finansial memadai dapat memanfaatkan hartanya untuk mendukung pendidikan dan aktivitas dakwah. Demikian pula seorang dai maupun ulama yang bisa dapat lebih fokus menjalankan misi dakwah tanpa terlalu terbebani permasalahan ekonomi rumah tangga.

Artikel Lainnya Intisari Islam
↑
Close Right Ads
Close Left Ads