Hukum Bermazhab dalam Islam, Wajib alias Tidak?Kincai Media – Di era media sosial seperti sekarang, tidak jarang muncul dugaan bahwa setiap Muslim dapat langsung mengambil norma dari Al-Qur’an dan sabda tanpa perlu mengikuti ajaran tertentu. Sebagian apalagi mempertanyakan, apakah beraliran memang diwajibkan dalam Islam?
Pertanyaan ini krusial dijawab, mengingat tradisi beraliran telah menjadi praktik kebanyakan umat Islam selama berabad-abad. Para ustadz Ahlussunnah wal Jamaah pun memberikan penjelasan yang cukup tegas mengenai kedudukan beraliran bagi seorang Muslim.
Mengenal Empat Mazhab Fikih
Dalam sejarah Islam, terdapat banyak ajaran fikih yang pernah berkembang. Namun, yang memperkuat dan terdokumentasi secara komplit hingga saat ini adalah empat ajaran besar, ialah Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Mazhab Hanafi didirikan oleh Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit (w. 150 H), Mazhab Maliki oleh Imam Malik bin Anas (w. 179 H), Mazhab Syafi’i oleh Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (w. 204 H), dan Mazhab Hanbali oleh Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H).
Keempat ajaran tersebut mempunyai metodologi istinbath norma yang matang, sanad keilmuan yang jelas, serta literatur fikih yang diwariskan secara berkesinambungan hingga sekarang.
Mengapa Bermazhab Diperlukan?
Berdasarkan Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabiul Tsani, 21 Oktober 1926 M, menjelaskan bahwa pada masa sekarang, wajib bagi umat Islam mengikuti salah satu dari empat ajaran yang tersohor dan mazhabnya telah dikodifikasikan.
Alasannya, menggali norma langsung dari Al-Qur’an dan sabda bukanlah perkara mudah. Seorang mujtahid kudu menguasai beragam disiplin ilmu, seperti bahasa Arab, ushul fikih, pengetahuan hadis, tafsir, nasikh-mansukh, qiyas, serta memahami pendapat para ustadz terdahulu.
Karena itu, kebanyakan umat Islam yang belum mencapai derajat ijtihad diperintahkan untuk mengikuti hasil ijtihad para ustadz yang mempunyai kompetensi dalam bagian tersebut. Praktik inilah yang dikenal dengan istilah taklid alias bermazhab.
Keterangan Imam Asy-Sya’rani tentang Kewajiban Bermazhab
Dalam kitab Al-Mizan al-Kubra, Imam Asy-Sya’rani mengutip pendapat gurunya, Syekh Ali al-Khawwash:
وَفِي الْمِيزَانِ لِلشَّعْرَانِيِّ مَا نَصُّهُ: كَانَ سَيِّدِي عَلِيٌّ الْخَوَّاصُ رَحِمَهُ اللهُ إِذَا سَأَلَهُ إِنْسَانٌ عَنْ التَّقَيُّدِ بِمَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ الْآنَ، هَلْ هُوَ وَاجِبٌ أَمْ لَا؟ يَقُولُ لَهُ: يَجِبُ عَلَيْكَ التَّقَيُّدُ بِمَذْهَبٍ مَا دُمْتَ لَمْ تَصِلْ إِلَى شُهُودِ عَيْنِ الشَّرِيعَةِ الْأُولَى؛ خَوْفًا مِنْ الْوُقُوعِ فِي الضَّلَالِ، وَعَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ الْيَوْمَ.
Artinya: “Guru kami, Ali al-Khawwash rahimahullah, andaikan ditanya tentang tanggungjawab mengikuti ajaran tertentu pada masa sekarang, beliau menjawab: ‘Wajib bagimu mengikuti suatu ajaran selama engkau belum mencapai tingkatan bisa memahami sumber hukum secara langsung, lantaran dikhawatirkan bakal terjatuh ke dalam kesesatan. Dan demikianlah praktik yang dijalankan oleh umat Islam pada masa sekarang.’“
Dari keterangan ini, para ustadz menjelaskan bahwa tanggungjawab beraliran bertindak bagi orang yang belum mempunyai keahlian berijtihad. Adapun para mujtahid yang memenuhi syarat ijtihad mempunyai kedudukan yang berbeda.
Mengapa Harus Empat Mazhab?
Penjelasan mengenai perihal ini dapat ditemukan dalam kitab Al-Fatawa al-Kubra karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami:
وَفِي الْجُزْءِ الرَّابِعِ مِنَ الْفَتَاوَى الْكُبْرَى فِي بَابِ الْقَضَاءِ مَا نَصُّهُ: وَبِأَنَّ التَّقْلِيدَ مُتَعَيِّنٌ فِي الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ، لِأَنَّ مَذَاهِبَهُمْ انْتَشَرَتْ حَتَّى ظَهَرَ تَقْيِيدُ مُطْلَقِهَا وَتَخْصِيصُ عَامِّهَا بِخِلَافِ غَيْرِهَا.
Artinya: “Taklid pada masa sekarang ditentukan kepada empat pemimpin mazhab. Sebab mazhab-mazhab mereka telah tersebar luas sehingga diketahui batasan-batasan norma yang absolut dan pengkhususan terhadap dalil-dalil yang umum, berbeda dengan ajaran selain mereka.”
Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa mazhab-mazhab tersebut mempunyai sistem norma yang komplit dan terdokumentasi. Karena itu, umat Islam dapat merujuk kepadanya secara kondusif dan terukur.
Mengikuti Mayoritas Ulama (As-Sawad Al-A’zham)
Dalam kitab Sullamul Ushul Syarh Nihayatis Sul disebutkan:
وَقَالَ فِي الْجُزْءِ الرَّابِعِ مِنْ سُلَّمِ الْأُصُولِ شَرْحِ نِهَايَةِ السُّولِ: قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اتَّبِعُوا السَّوَادَ الْأَعْظَمَ». وَلَمَّا انْدَرَسَتِ الْمَذَاهِبُ الْحَقَّةُ بِانْقِرَاضِ أَئِمَّتِهَا إِلَّا الْمَذَاهِبَ الْأَرْبَعَةَ الَّتِي انْتَشَرَ اتِّبَاعُهَا، كَانَ اتِّبَاعُهَا اتِّبَاعًا لِلسَّوَادِ الْأَعْظَمِ، وَالْخُرُوجُ عَنْهَا خُرُوجًا عَنِ السَّوَادِ الْأَعْظَمِ.
Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Ikutilah golongan kebanyakan (as-sawad al-a’zham).’ Ketika mazhab-mazhab yang betul telah lenyap seiring wafatnya para imamnya, selain empat ajaran yang pengikutnya tetap tersebar luas, maka mengikuti empat ajaran tersebut berfaedah mengikuti golongan kebanyakan umat Islam. Sebaliknya, keluar dari empat ajaran tersebut berfaedah keluar dari golongan kebanyakan tersebut.”
Keterangan ini menunjukkan bahwa mengikuti salah satu dari empat ajaran merupakan bagian dari menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam yang telah diwariskan oleh generasi ustadz sepanjang sejarah.
Mayoritas ustadz Ahlussunnah wal Jamaah beranggapan bahwa beraliran merupakan tanggungjawab bagi Muslim yang belum mempunyai keahlian berijtihad secara mandiri. Kewajiban tersebut bukan berfaedah mendahulukan pendapat pemimpin ajaran di atas Al-Qur’an dan hadis, melainkan menjadikan ajaran sebagai metode yang betul dalam memahami keduanya.
Oleh lantaran itu, mengikuti salah satu dari empat mazhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i, alias Hanbali, merupakan jalan yang ditempuh kebanyakan ustadz untuk menjaga pemahaman kepercayaan agar tetap berada dalam koridor hukum yang betul dan terhindar dari kesalahan dalam beristinbath hukum.