Allah memilihkan waktu terbaik untuk hamba beramal
Allah Ta’ala berfirman,
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Ia kehendaki dan memilih apa yang terbaik untuk mereka. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.” (QS. Al-Qashash: 68)
Di dalam ayat di atas, Allah membedakan antara pembuatan dan pemilihan. Allah menciptakan sesuatu yang Ia inginkan, dan Allah memilihkan sesuatu yang terbaik, meskipun kita dapat memahami bahwa ketika Allah memilihkan sesuatu yang baik untuk hamba-Nya, Allah pula lah yang menciptakannya. Dan di antara corak kasih sayang Allah adalah Allah memilihkan hari-hari terbaik kepada hamba-Nya dengan memberikan kekhususan pada hari tersebut dengan banyak keistimewaan dan tambahan pahala. Hal ini agar kita sebagai seorang hamba dapat mempersiapkan diri dalam menyambut hari-hari itu, dan untuk membulatkan tekad kita dalam berlomba-lomba dalam ketaatan kepada Allah. Hari-hari tersebut adalah sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah, yang Allah memberi kekhususan di hari-hari tersebut dengan keistimewaan yang banyak.
Allah Ta’ala bersumpah di dalam Al-Quran, memuji hari-hari itu dengan kemuliaan dan keagungan. Allah Ta’ala berfirman,
وَالۡفَجۡرِۙ (١) وَلَيَالٍ عَشۡرٍۙ (٢) وَٱلشَّفْعِ وَٱلْوَتْرِ (٣)
“Demi waktu fajar, malam yang sepuluh, dan yang genap dan ganjil.” (QS. Al-Fajr: 1-3)
Beberapa ustadz mengatakan bahwa hari-hari yang dimaksud di dalam ayat ini adalah sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersaksi bahwa hari-hari ini adalah hari terbaik di dunia. Amal saleh yang dikerjakan di hari ini adalah kebaikan yang paling afdal dibandingkan jika dikerjakan di hari yang lain. Sebagaimana terdapat di dalam sabda yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر، فقالوا: يارسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء
“Tidak ada hari-hari di mana kebaikan saleh di hari itu lebih Allah cintai daripada di sepuluh hari pertama (bulan Zulhijah). Mereka (para sahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, selain jika seseorang keluar membawa diri dan hartanya, namun dia pulang tanpa membawa apapun.” (HR. Bukhari, At-Tirmidzi, dan lain-lain)
Dan juga terdapat di dalam sabda dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه العشر، فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد
“Tidak ada kebaikan di hari yang lebih agung di sisi Allah dan juga lebih dicintai-Nya daripada sepuluh hari ini. Maka, perbanyaklah (amal saleh) di hari-hari itu dengan mengucapkan tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad)
Hari yang sangat istimewa
Di dalam sepuluh hari tersebut, ada hari Arafah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ceritakan melalui sabda dari Aisyah radhiallahu ‘anha,
ما من يوم أكثر من أن يعتق الله فيه عبداً من النار من يوم عرفة، وإنه ليدنو ثم يباهي بهم الملائكة، فيقول: ما أراد هؤلاء ؟
“Tidak ada hari di mana Allah paling banyak memerdekaan hamba dari api neraka daripada hari Arafah. Karena (pada hari itu), Allah mendekat kemudian membanggakan mereka di hadapan malaikat. Kemudian Allah berbicara (yang artinya), ‘Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim)
Itulah hari ketika dosa-dosa diampuni dan puasa di hari itu dapat menghapuskan dosa sebanyak dua tahun.
Di dalam sepuluh hari itu pula ada hari An-Nahr, hari paling mulia di sisi Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أعظم الأيام عند الله تعالى، يوم النحر، ثم يوم القرّ
“Hari paling mulia di sisi Allah Ta’ala adalah hari An-Nahr, kemudian hari Al-Qarr.” (HR. Abu Daud)
Hari Al-Qarr adalah hari setelah hari An-Nahr, yaitu tanggal 11 Zulhijah. Karena para jemaah haji di hari itu sedang berdiam di Mina setelah mereka menyelesaikan thawaf ifadhah, kemudian mereka menyembelih dan beristirahat.
Selain itu, hanya tanggal 10 Zulhijah yang mempunyai kedudukan dan derajat yang paling istimewa, lantaran di hari tersebut berkumpul induk dari beragam peribadahan; ialah salat, puasa, sedekah, dan haji, yang ini tidak dapat ditemui di hari-hari yang lain.
Dibandingkan sepuluh hari terakhir Ramadan, mana yang lebih afdal?
Para ustadz berbincang tentang manakah yang lebih afdal antara sepuluh hari di awal bulan Zulhijah alias sepuluh hari di akhir bulan Ramadan. Pendapat terbaik dari pertanyaan tersebut yang diungkapkan ustadz adalah pada siang harinya, sepuluh hari pertama bulan Zulhijah lebih utama daripada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Adapun pada malam harinya, sepuluh hari terahir di bulan Ramadan lebih afdal daripada sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah. Pendapat tersebut timbul dari kompromi nash-nash tentang keistimewaan keduanya. Sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan spesial dikarenakan adanya lailatul qadar pada malam itu, dan itu terjadi di malam hari; sedangkan sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah spesial di siang harinya lantaran di hari tersebut ada hari An-Nahr, hari Arafah, dan hari Tarwiyah.
[Bersambung]
***
Penulis: Triani Pradinaputri
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·