Kepribadian Ternyata Menentukan Jenis Olahraga yang Cocok Menurut Penelitian

Jul 23, 2026 06:50 AM - 3 minggu yang lalu 7586

Memilih olahraga sering kali didasarkan pada tujuan kesehatan alias tren yang sedang berkembang. Namun, penelitian menunjukkan bahwa ada aspek lain yang tak kalah penting, ialah kepribadian.

Ya, karakter alias kepribadian seseorang rupanya dapat menentukan jenis olahraga yang cocok dan lebih mungkin dipertahankan dalam jangka panjang. Studi ini membuka perspektif baru bahwa menemukan olahraga yang sesuai bukan hanya soal keahlian fisik, tetapi juga gimana memahami karakter diri sendiri, Bunda.

Dalam studi yang diterbitkan di Frontiers in Psychology tahun 2025, disebutkan bahwa orang dengan karakter kepribadian yang berbeda menikmati jenis olahraga yang juga berbeda. Simak hasil studinya berikut ini ya.


Studi tentang kepribadian dan pilihan olahraga

Dalam studi ini, peneliti melibatkan 132 peserta, yang berumur antara 25 dan 51 tahun. Mereka diminta untuk mengisi kuesioner yang mengungkapkan ciri-ciri kepribadian. Studi ini menggunakan model yang umum digunakan untuk menjabarkan kepribadian seseorang melalui lima sifat, ialah ekstroversi, neurotisme, keramahan, keterbukaan, dan ketelitian.

Di studi ini, para peneliti kemudian melakukan tes kebugaran pada para peserta dan secara random membagi mereka menjadi dua kelompok. Satu golongan diberi rencana bersepeda dan latihan kekuatan selama delapan minggu, sementara golongan kontrol melakukan latihan peregangan selama 10 menit per minggu. Dari 132 peserta awal, 86 menyelesaikan pengetesan pra dan pasca di kedua sisi delapan minggu tersebut.

Hasil penelitian mengungkap, orang yang ekstrovert lebih menyukai sesi latihan intensitas tinggi berbareng orang lain, seperti olahraga tim. Sedangkan, orang yang mendapat skor tinggi pada neurotisme lebih menyukai latihan pribadi tanpa ada orang yang menonton dan diselingi rehat singkat.

Neurotisme adalah metrik yang mengukur ketidakstabilan emosional seseorang. Orang dengan neurotisme tinggi biasanya mudah cemas, emosinya tidak stabil, dan sensitif terhadap stres.

Hasil lainnya mengungkap bahwa mereka yang mendapat skor tinggi dalam perihal ketelitian, lebih condong mempunyai kebugaran yang menyeluruh. Menurut peneliti, perihal itu bisa terjadi lantaran perseorangan yang teliti lebih condong termotivasi oleh kebenaran bahwa olahraga itu baik untuk mereka.

"Kepribadian menentukan intensitas dan corak latihan apa yang menarik bagi kita. Jika kita dapat memahami perihal itu, maka kita dapat mengambil langkah pertama untuk memulai olahraga, terutama pada perseorangan yang kurang akti," kata salah satu penulis utama studi dan guru besar madya pengetahuan olahraga di University College London, Flaminia Ronca, dilansir CNN.

Menurut guru besar di Florida State University, Angelina Sutin, jika kita dapat berfokus pada jenis kepribadian, maka penyedia jasa kesehatan mungkin dapat menawarkan pendekatan yang lebih individual terhadap pilihan olahraga seseorang. Hal tersebut pada akhirnya dapat membantu setiap orang tetap segar terlepas dari perbedaan kepribadian, Bunda.

"Biasanya kita menyuruh orang berolahraga dan hanya mengatakan, 'Kami tahu latihan interval intensitas tinggi itu baik untuk kamu, jadi Anda kudu melakukannya," ungkap Ronca.

"Namun, bagi orang yang mempunyai tingkat neurotisme tinggi, mereka tidak bakal melakukannya, dan kita juga tahu bahwa olahraga intensitas rendah pun bisa bermanfaat. Dengan mengetahui bahwa seseorang mempunyai tingkat neurotisme tinggi, merekomendasikan jenis olahraga tersebut, mungkin membuatnya mau memulai aktivitas."

Penting juga untuk dicatat bahwa sifat kepribadian saling berkaitan, Bunda. Orang dengan skor tinggi pada neurotisme dan ketelitian mungkin merasa olahraga menimbulkan kecemasan, namun mereka jauh lebih mungkin melakukannya lantaran mereka tahu itu baik untuk kesehatan.

"Sifat kepribadian itu hanyalah penjelasan tentang langkah orang berperilaku dalam situasi tertentu," ujar guru besar pengetahuan saraf di UCL, Paul Burgess.

"Cara orang berperilaku dalam situasi tertentu sebagian besar ditentukan oleh keahlian otak mereka, apa yang mereka perhatikan, apa yang mereka soroti, apa yang dapat mereka ingat, dan seberapa sigap mereka dapat bereaksi," lanjutnya.

Kepribadian dan olahraga bisa memengaruhi tingkat stres

Para peneliti di studi tak lupa untuk menilai tingkat stres dalam penelitian ini, Bunda. Menurut mereka, sifat kepribadian juga memengaruhi gimana olahraga dapat berangkaian tingkat stres seseorang.

Studi menemukan bahwa mereka yang lebih rentan terhadap stres dan kekhawatiran mempunyai tubuh yang memerlukan waktu lebih lama untuk pulih setelah beraktivitas.

Salah satu temuan yang cukup menarik adalah orang dengan tingkat neurotisme tinggi menjadi satu-satunya golongan yang melaporkan penurunan stres setelah olahraga. Bagi orang-orang ini, olahraga terstruktur secara teratur mungkin bertindak sebagai pengatur stres, yang membantu mereka merasa lebih tenang secara keseluruhan.

"Mereka yang paling banyak mendapat faedah dari pengurangan stres adalah mereka yang betul-betul menunjukkan penurunan stres setelah delapan minggu berolahraga. Saya pikir itu adalah pesan yang sangat krusial untuk disampaikan," kata Ronca.

Peneliti berambisi temuan mereka dapat mendorong orang untuk menemukan langkah berolahraga di luar latihan yang mungkin tidak mereka sukai.

Demikian penelitian yang mengungkap kepribadian rupanya dapat menentukan jenis olahraga yang cocok bagi seseorang. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/som)

Selengkapnya