Anak yang pemalu dan sedang mengalami kekhawatiran memang punya tanda-tanda serupa. Nah, gimana langkah mengetahui perbedaan anak pemalu dan cemas?
Nyatanya, tidak semua anak yang terlihat pendiam alias enggan berinteraksi mempunyai masalah perkembangan lho, Bunda.
Sebagian anak memang mempunyai sifat pemalu alias sekadar memerlukan waktu lebih lama untuk merasa nyaman di lingkungan baru saja.
Namun memang dalam beberapa kondisi, perilaku tersebut bisa menjadi tanda adanya kekhawatiran dan perlu perhatian lebih.
Oleh karena itu, krusial bagi orang tua memahami perbedaan antara sifat pemalu yang tetap wajar dengan gangguan kecemasan. Dengan begitu, konsultasi di waktu yang tepat bisa dilakukan.
Apa perbedaan anak pemalu dan cemas?
Dikutip dari Today's Parent, orang tua sering kali melabeli anak sebagai 'pemalu' ketika mereka menunjukkan sikap waspada yang sebenarnya tetap sangat wajar terhadap orang asing maupun situasi dan tempat yang belum dikenal.
Namun menurut psikolog klinis Jean Otto, orang tua perlu membedakan antara sifat pemalu yang merupakan bagian dari tahap perkembangan anak dengan gangguan kecemasan.
Sebab jika tidak ditangani dengan tepat sejak awal, masalah kekhawatiran bisa saja terus terbawa hingga dewasa.
"Anak yang pemalu biasanya merasa tidak nyaman dalam situasi sosial dan merasa rentan. Namun, anak-anak seperti ini umumnya hanya memerlukan waktu lebih lama untuk merasa nyaman. Seiring meningkatnya rasa aman, mereka bakal mulai lebih terlibat," ungkap Otto.
Biasanya mereka hanya merasa pemalu ketika berada di situasi baru alias berjumpa dengan orang yang belum dikenal.
Berbeda dengan sifat pemalu, kekhawatiran merupakan suatu kondisi yang sering disertai indikasi bentuk dan biasanya menimbulkan rasa tidak nyaman. Tak jarang ini juga memicu tekanan emosional bagi anak yang mengalaminya.
Pentingnya tidak terburu-buru melabeli anak
Perlu diingat bahwa memberi label 'pemalu' alias perihal lainnya kepada anak sebagai argumen untuk memaklumi perilaku yang dianggap memalukan alias kurang sopan, seperti menolak menyapa orang dewasa, justru dapat membawa akibat negatif.
Psikoterapis dan penulis The Self-Aware Parent, Fran Walfish, mengatakan bahwa jika orang tua terus menyebut anak sebagai pemalu, mereka bakal menganggap dirinya mempunyai kekurangan.
"Anak juga lama-kelamaan bakal menganggap ada sesuatu yang salah pada dirinya," ungkap Walfish.
Lalu apa akibat kekhawatiran pada anak?
Seperti disebutkan sebelumnya, kekhawatiran merupakan suatu kondisi yang sering disertai indikasi bentuk dan memicu tekanan emosional.
Menurut Social Anxiety Institute, sifat pemalu merupakan karakter kepribadian, sedangkan kekhawatiran sosial umumnya disertai emosi negatif yang sangat kuat.
"Orang dengan kekhawatiran sosial condong mengalami rasa takut, cemas, tertekan, malu, dan merasa dipermalukan nyaris setiap hari," imbuh Otto.
Tingkat kekhawatiran yang anak rasakan apalagi bisa cukup besar, hingga menimbulkan akibat emosional yang mendalam.
Akibatnya, mereka condong menghindari beragam situasi daripada menghadapinya dan merasakan ketakutan maupun kekhawatiran tersebut.
"Perhatikan keluhan bentuk seperti sakit kepala alias sakit perut, terutama ketika anak bakal menghadapi situasi yang membuatnya takut alias khawatir. Hal ini bisa menjadi tanda masalah kecemasan," sambungnya.
Tips mendampingi anak pemalu
Supaya anak yang pemalu bisa lebih berani mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya, Walfish menyarankan orang tua memberi support secara optimal.
Salah satunya dengan menciptakan kesempatan bagi anak untuk melatih keahlian sosial dalam suasana yang kondusif dan tidak menekan.
Bunda bisa mengatur waktu bermain (playdate) hanya dengan satu orang kawan dulu. Menurutnya, golongan yang terdiri dari tiga anak alias lebih sering kali membikin anak yang kurang berani malah merasa tersisihkan.
Walfish juga menyarankan orang tua lebih selektif dalam memilih kawan bermain anak.
"Coba undang anak yang ramah dan berkarakter lembut untuk bermain bersama. Jika anak merasa lebih kondusif ketika orang tua berada di dekatnya, duduklah tidak jauh darinya, tetapi tetap beri jarak," pesan Walfish.
Tujuannya adalah memberikan support pada anak, tapi tetap tidak membuatnya semakin berjuntai kepada Bunda.
Kapan sifat pemalu perlu dikonsultasikan lebih lanjut?
Perilaku pemalu pada anak dapat menjadi masalah andaikan membikin mereka mengalami tekanan emosional yang cukup besar alias mulai mengganggu kegiatan sehari-hari.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Orang tua maupun anak menjadi kesulitan pergi ke beragam tempat lantaran dia terlalu pemalu.
- Anak menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran dalam situasi sosial, seperti saat menghadiri pesta alias berada di sekolah.
- Anak mengatakan dirinya merasa kesepian, tetapi tidak tahu gimana langkah berasosiasi bermain dengan teman-teman lain.
- Anak merasa tidak bisa menjawab maupun mengusulkan pertanyaan di kelas.
Sebagian anak yang pemalu dapat berkembang menjadi mengalami gangguan kecemasan. Oleh lantaran itu, andaikan perilaku pemalu anak tergolong berat dan susah berubah, Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga profesional. Termasuk di antaranya seperti master ahli anak alias psikolog.
Beberapa contoh penyebab masalah sosial pada anak
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/Rawpixel
Dikutip dari Raising Children, selain pemalu alias kecemasan, ada beberapa argumen lain yang memicu masalah sosial pada anak, seperti:
1. Keterlambatan bahasa
Anak yang mengalami keterlambatan bicara sebenarnya mungkin mau berkomunikasi dengan orang lain, misalnya dengan melakukan kontak mata alias berupaya menjalin hubungan sosial.
Namun, terbatasnya bahasa membikin anak stres lantaran dia merasa tidak bisa dipahami oleh orang lain.
2. Gangguan pendengaran
Anak dengan gangguan pendengaran mungkin tidak mendengar alias tidak merespons pembicaraan orang lain, serta mengalami kesulitan mengikuti instruksi.
Kondisi ini juga bisa membikin mereka tampak pendiam alias enggan berinteraksi, sehingga disalahartikan sebagai pemalu.
3. Autisme
Anak dengan autisme dapat mengalami kesulitan memahami isyarat sosial, mempunyai langkah bermain yang berbeda dengan kawan sebayanya, alias tampak kurang tertarik melakukan hubungan sosial.
4. Selective mutism
Anak dengan selective mutism tidak bisa berbincang pada situasi tertentu, dengan orang tertentu, alias dalam kegiatan sosial tertentu akibat kekhawatiran yang mereka alami. Bukan lantaran mereka tidak mau berbicara, melainkan lantaran rasa resah yang sangat kuat.
5. Kecemasan sosial
Anak dengan kekhawatiran sosial juga perlu mendapatkan perhatian. Mereka condong merasa sangat cemas terhadap situasi yang mengharuskannya berinteraksi dengan orang lain.
Termasuk saat kudu berbincang di kelas, bermain berbareng teman, alias menghadiri pesta ulang tahun.
Itulah penjelasan tentang perbedaan anak pemalu dan sedang mengalami kecemasan, serta kapan tanda-tanda anak perlu support ahli. Pastikan Bunda selalu mendampingi anak saat belajar untuk mengenali situasi sekitarnya, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·