Khutbah Jumat: Bertaubat dari Dosa dan Membersihkan Hati dari Noda Maksiat

Bincang Syariah Jul 23, 2026 03:16 PM 7145
 Bertaubat dari Dosa dan Membersihkan Hati dari Noda MaksiatKhutbah Jumat: Bertaubat dari Dosa dan Membersihkan Hati dari Noda Maksiat

Kincai Media – Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak ada seorang pun di bumi ini yang terbebas dari dosa dan kekurangan. Namun, Islam mengajarkan bahwa sebesar apa pun kesalahan seorang hamba, selama dia tetap mempunyai kemauan untuk kembali kepada Allah, maka pintu taubat selalu terbuka. Nah berikut Khutbah Jumat: Bertaubat dari Dosa dan Membersihkan Hati dari Noda Maksiat.

Khutbah I

 اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أمَّا بَعْدُ. فَإِنِّيْ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن. قَالَ اللهُ تعالى: حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab bekal terbaik yang bakal kita bawa menghadap Allah bukanlah harta, kedudukan, alias pujian manusia, melainkan hati yang bersih dan kebaikan yang diterima di sisi-Nya.

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Artinya; “Pada hari ketika kekayaan dan anak-anak tidak lagi berguna, selain orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 88-89)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Salah satu perkara yang sering dianggap ringan oleh manusia adalah dosa. Banyak orang mengira bahwa dosa bakal lenyap dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Padahal, dosa bukanlah sesuatu yang berlalu tanpa bekas. Setiap dosa meninggalkan pengaruh dalam diri manusia, terutama pada hati.

Rasulullah  telah mengingatkan bahwa dosa dapat mengotori hati seorang hamba.

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

Artinya; “Sesungguhnya seorang hamba andaikan melakukan sebuah dosa, bakal ditorehkan satu titik hitam dalam hatinya. Jika dia berhenti, memohon ampun, dan bertaubat, maka hatinya bakal dibersihkan. Namun jika dia kembali melakukan dosa, maka titik hitam itu bakal bertambah hingga menutupi hatinya.” (HR. At-Tirmidzi).

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa dosa bukan hanya persoalan catatan amal, tetapi juga persoalan kondisi hati. Dosa yang dilakukan tanpa penyesalan bakal meninggalkan noda. Pada awalnya hanya sebuah titik kecil, tetapi andaikan terus dibiarkan, dia dapat menutupi sinar hati.

Ketika hati mulai tertutup oleh dosa, manusia kehilangan kepekaan. Ia tidak lagi merasa berat ketika menyakiti orang lain. Ia tidak lagi malu ketika membuka kejelekan saudaranya. Bahkan terkadang dia merasa biasa saja ketika melakukan sesuatu yang Allah tidak sukai.

Allah SWT berfirman:

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya; “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin [83]: 14)

Ayat ini menjelaskan bahwa kemaksiatan yang terus dilakukan dapat menjadi hijab yang menghalangi hati manusia dari kebenaran.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Salah satu dosa yang sering dianggap ringan namun mempunyai akibat besar adalah dosa lisan, khususnya ghibah alias membicarakan keburukan orang lain.

Allah SWT memberikan peringatan yang sangat keras tentang ancaman ghibah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Artinya; “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian Anda menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara Anda menyantap daging saudaranya yang sudah mati? Tentu Anda merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat [49]: 12)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah menggambarkan ghibah dengan perumpamaan yang sangat mengerikan: menyantap daging kerabat sendiri yang telah meninggal. Hal ini menunjukkan sungguh besar kehormatan seorang muslim di sisi Allah.

Namun hari ini, kita memandang banyak manusia mudah sekali membicarakan keburukan orang lain. Kesalahan mini dibesar-besarkan, kekurangan seseorang disebarkan, dan kehormatan seorang muslim terkadang menjadi bahan pembicaraan tanpa rasa takut kepada Allah.

Lebih menyedihkan lagi, di era media sosial, ghibah tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Ia sering dipertontonkan, disebarkan, apalagi mendapatkan perhatian dan support dari banyak orang.

Padahal Rasulullah  bersabda:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ

“Wahai orang-orang yang beragama dengan lisannya namun belum masuk ke dalam hatinya keimanan, janganlah kalian menggunjing kaum muslimin dan jangan mencari-cari kejelekan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Setelah kita mengetahui ancaman dosa, khususnya dosa yang berasal dari lisan, maka pertanyaan krusial bagi kita adalah: gimana jalan keluar bagi seorang hamba yang pernah terjatuh dalam dosa?

Apakah dosa yang telah dilakukan bakal terus menjadi beban sepanjang hidupnya?

Jawabannya adalah: tidak. Selama seseorang tetap mau kembali kepada Allah, pintu taubat tetap terbuka.

Allah SWT berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui pemisah terhadap dirinya sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar [39]: 53)

Ayat ini adalah berita ceria bagi setiap manusia yang merasa dirinya penuh kesalahan. Sebesar apa pun dosa seorang hamba, selama dia kembali dengan taubat yang benar, Allah bisa menghapusnya.

Namun taubat bukan hanya sekadar mengucapkan “astaghfirullah” dengan lisan. Taubat yang sebenarnya adalah kembali kepada Allah dengan hati yang menyesal, meninggalkan dosa, dan berupaya memperbaiki diri.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Para ustadz menjelaskan bahwa taubat mempunyai beberapa tanda:

Pertama, menyesali dosa yang telah dilakukan. Kedua, meninggalkan dosa tersebut. Ketiga, berkeinginan untuk tidak mengulanginya.

Dan andaikan dosa tersebut berangkaian dengan kewenangan manusia, maka kudu berupaya mengembalikan kewenangan alias memperbaiki kesalahan tersebut.

Rasulullah  bersabda:

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

Artinya; “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak mempunyai dosa.” (HR. Ibnu Majah)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Termasuk dosa yang berangkaian dengan kewenangan manusia adalah ghibah. Sebab ghibah bukan hanya hubungan antara seorang hamba dengan Allah, tetapi juga berangkaian dengan kehormatan seorang muslim.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Lalu gimana jika seseorang pernah menggunjing saudaranya?

Para ustadz memberikan nasihat agar orang tersebut memperbanyak kebaikan sebagai corak perbaikan.

Imam Murtadha az-Zabidi ketika mensyarah kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam al-Ghazali dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin menyebut sebuah hikmah:

كَفَّارَةُ آكِلِ لَحْمِ أَخِيكَ أَنْ تُثْنِيَ عَلَيْهِ وَتَدْعُوَ لَهُ بِخَيْرٍ

“Kafarat bagi orang yang telah menyantap daging saudaranya (dengan ghibah) adalah memujinya dan mendoakan kebaikan untuknya.” (Ithaf as-Sadah al-Muttaqin, Juz VII)

Makna dari perkataan ini sangat dalam. Jika dulu lisan kita menjadi karena jatuhnya kehormatan seseorang, maka lisan pula kudu digunakan untuk memperbaikinya.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Jika dulu kita menyebut keburukannya, maka sekarang kita belajar menyebut kebaikannya. Jika dulu kita membikin orang lain berprasangka jelek kepadanya, maka sekarang kita berupaya mendoakan kebaikan baginya.

Inilah keelokan aliran Islam. Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk berakhir dari kesalahan, tetapi juga mengajarkan gimana memperbaiki kerusakan yang pernah dilakukan. Allah SWT berfirman:

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِۗ اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ ۝١١٤

Artinya; Dirikanlah salat pada kedua ujung hari (pagi dan petang) dan pada bagian-bagian malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan. Itu adalah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Namun kita kudu memahami bahwa memperbaiki dosa lisan tidak cukup hanya dengan memperbanyak pujian kepada orang lain. Akar masalahnya kudu diperbaiki, ialah hati. Sebab lisan hanyalah mengikuti apa yang ada di dalam hati.

Apabila hati dipenuhi iri, dengki, kesombongan, dan merasa diri lebih baik daripada orang lain, maka lisan bakal mudah mencari kekurangan manusia. Tetapi andaikan hati dipenuhi rasa takut kepada Allah dan kasih sayang kepada sesama, maka lisan bakal lebih mudah berbicara baik alias memilih diam.

Rasulullah  bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya; “Barang siapa beragama kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbicara yang baik alias diam.” (HR. Bukhari dan Mulism)

Hadis ini mengajarkan bahwa menjaga lisan bukan hanya persoalan sopan santun, tetapi bagian dari kesempurnaan iman. Seseorang yang menjaga lisannya berfaedah sedang menjaga hatinya.

Sebab hati yang bersih tidak bakal merasa nyaman dengan menyakiti orang lain. Hati yang dekat dengan Allah bakal lebih sibuk memperbaiki diri daripada mencari kesalahan manusia.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Betapa banyak waktu kita habiskan untuk membicarakan kehidupan orang lain, sementara kehidupan kita sendiri tetap penuh kekurangan.

Kita mengetahui kesalahan orang lain yang jauh, tetapi lupa memandang dosa yang melekat pada diri sendiri. Kita mudah menjadi pengadil bagi manusia, tetapi lupa bahwa suatu hari kelak kita sendiri bakal berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan seluruh perkataan kita.

Allah SWT berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya; “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf [50]: 18)

Maka sebelum berbincang tentang orang lain, hendaknya kita bertanya kepada diri:

Apakah ucapan ini mendekatkan saya kepada Allah? Apakah ucapan ini membawa manfaat?

Apakah saya rela jika perkataan ini ditulis dalam catatan kebaikan dan diperlihatkan di hadapan Allah kelak?

Jika jawabannya tidak, maka tak bersuara adalah keselamatan. Karena terkadang satu kalimat yang keluar dari lisan dapat menghancurkan kehormatan seseorang, tetapi satu kalimat yang baik dapat menjadi karena Allah mengangkat derajat seorang hamba.

Pada akhirnya, marilah kita menyadari bahwa setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak ada di antara kita yang terbebas dari dosa dan kekurangan. Namun yang membedakan seorang hamba yang dekat dengan Allah dan yang jauh dari-Nya adalah sikapnya ketika melakukan kesalahan.

Apakah dia tetap memperkuat dalam dosa, alias segera kembali kepada Allah dengan taubat?

Jangan sampai kita menjadi orang yang sibuk menghitung kesalahan orang lain, tetapi lupa menghitung dosa diri sendiri. Jangan sampai lisan kita begitu mudah membuka kejelekan manusia, sementara kita lupa bahwa Allah telah menutup begitu banyak kejelekan kita.


بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى  فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ  اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

 عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ 

Sertifikasi Halal

Selengkapnya