Khutbah Jumat: Menjauhi Ghibah, Menyucikan Hati dengan Taubat

Bincang Syariah Jul 23, 2026 02:49 PM 6933
 Menjauhi Ghibah, Menyucikan Hati dengan TaubatKhutbah Jumat: Menjauhi Ghibah, Menyucikan Hati dengan Taubat

Kincai Media - Di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah lisan. Dengan lisan, seseorang dapat berdzikir mengingat Allah, membaca Al-Qur’an, menyampaikan ilmu, menghibur orang yang sedang bersedih, dan menebarkan kebaikan kepada sesama. Nah berikut Khutbah Jumat: Menjauhi Ghibah, Menyucikan Hati dengan Taubat.

Khutbah Jumat I


الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَزْمَانَ مَوَاسِمَ لِلطَّاعَاتِ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِ عَلَى بَعْضٍ بِالْحِكَمِ وَالْبَرَكَاتِ, وَجَعَلَ شَهْرَ شَعْبَانَ شَهْرَ الصَّلَاةِ وَالْإِعْتِيَادِ. وَأَشْهَدُ أنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ،  فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Tidak sedikit persaudaraan yang rusak bukan lantaran perebutan harta, bukan pula lantaran permusuhan yang telah lama dipendam. Justru, banyak hubungan retak berasal dari sesuatu yang tampak sepele: percakapan sehari-hari.

Obrolan setelah salat, percakapan di tempat kerja, obrolan di warung kopi, hingga pesan yang beranjak dari satu grup media sosial ke grup lainnya dapat berubah menjadi ruang yang mempertaruhkan kehormatan seseorang.

Pada era sekarang, orang tidak perlu lagi berjumpa untuk menggunjing. Cukup dengan telepon genggam di tangan, seseorang dapat mengetahui kehidupan orang lain, membicarakannya, lampau menyebarkannya kepada banyak orang. Aib yang dulu hanya diketahui oleh beberapa orang sekarang dapat tersebar kepada ribuan orang hanya dalam hitungan menit.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Yang lebih memprihatinkan, semua itu sering dilakukan tanpa rasa bersalah. Bahkan, ada yang merasa sedang memihak kebenaran. “Saya hanya menyampaikan fakta,” demikian alasannya. Padahal, tidak setiap kebenaran layak disampaikan, dan tidak setiap keburukan orang lain boleh dijadikan bahan pembicaraan.

Lantas, gimana Islam memandang kebiasaan yang semakin berkawan dengan kehidupan kita ini?

Rasulullah ﷺ telah menjelaskan prinsip ghibah dalam sabda yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ.

Artinya, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Engkau menyebut sesuatu tentang saudaramu yang tidak dia sukai.” Seseorang bertanya,

“Bagaimana jika apa yang saya katakan itu memang benar?” Rasulullah menjawab, “Jika apa yang engkau katakan betul ada padanya, maka engkau telah berghibah. Namun, jika tidak benar, maka engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim No. 2589).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Perhatikanlah gimana Rasulullah ﷺ mendidik para sahabat. Beliau tidak menjelaskan bahwa ghibah adalah kebohongan. Sebaliknya, beliau menegaskan bahwa menyebut sesuatu yang betul tentang kerabat kita tetap termasuk ghibah andaikan dia tidak menyukai perihal itu disampaikan kepada orang lain. Adapun jika apa yang dikatakan tidak benar, maka dosanya lebih besar lagi, ialah fitnah.

Dari sabda ini kita memahami bahwa persoalan ghibah bukan sekadar betul alias salahnya suatu informasi. Yang menjadi persoalan adalah rusaknya kehormatan seorang muslim akibat lisan yang tidak dijaga.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Karena itu, Al-Qur’an menggambarkan ghibah dengan perumpamaan yang sangat mengguncang hati. Allah Swt. berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah Anda mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian Anda menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara Anda menyantap daging saudaranya yang telah mati? Tentu Anda merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Mengapa Al-Qur’an memilih perumpamaan menyantap buntang kerabat sendiri?

Karena orang yang digunjing tidak bisa memihak kehormatannya, sebagaimana mayit tidak bisa mempertahankan tubuhnya ketika dagingnya dimakan. Betapa mengerikannya gambaran tersebut.

Melalui perumpamaan ini, Allah Swt. mengajarkan bahwa kehormatan seorang mukmin mempunyai kemuliaan yang kudu dijaga. Ketika lisan kita merusaknya, sesungguhnya kita sedang melukai kemuliaan yang Allah anugerahkan kepadanya.

Namun, Islam tidak berakhir pada larangan semata. Islam selalu membuka pintu kembali bagi siapa pun yang terjatuh ke dalam dosa.

Sebab manusia memang tidak diciptakan sebagai makhluk yang terbebas dari kesalahan. Yang membedakan seorang mukmin dengan yang lain bukanlah apakah dia pernah berdosa, melainkan seberapa sigap dia menyadari kesalahannya, bertaubat, dan kembali kepada Allah Swt.

Lalu, gimana jika seseorang pernah terjatuh dalam ghibah?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Di sinilah letak keelokan aliran Islam. Islam tidak hanya menjelaskan pemisah antara yang legal dan yang haram, antara kebaikan dan keburukan. Lebih dari itu, Islam juga menunjukkan jalan kembali bagi siapa pun yang pernah terjatuh dalam kesalahan.

Allah Swt. mengetahui bahwa manusia bukanlah malaikat. Manusia mempunyai hawa nafsu, emosi, dan beragam kelemahan. Terkadang lisan tergelincir, hati dipenuhi iri dan dengki, alias lingkungan pergaulan menyeret seseorang untuk ikut membicarakan keburukan orang lain.

Namun, sebesar apa pun dosa seorang hamba, Allah tidak pernah menutup pintu taubat selama nyawa belum sampai di tenggorokan.

Karena itu, Allah Swt. memerintahkan orang-orang beragama agar segera kembali kepada-Nya dan tidak menunda taubat. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا ۚ عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ…

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Mudah-mudahan Tuhanmu menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan Anda ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At-Tahrim [66]: 8).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Ayat ini menunjukkan bahwa taubat bukan sekadar pilihan, melainkan perintah dari Allah. Menariknya, Allah menggunakan istilah taubatan nasūḥā, ialah taubat yang dilakukan dengan kesungguhan hati: ada penyesalan atas dosa yang telah dilakukan, ada tekad untuk meninggalkannya, dan ada upaya untuk memperbaiki diri.

Dengan demikian, taubat bukan hanya sebatas ucapan astaghfirullah. Taubat adalah perubahan sikap dan perjalanan kembali menuju ketaatan. Orang yang betul-betul bertaubat bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi juga berupaya menjauhi hal-hal yang dapat menariknya kembali kepada dosa tersebut.

Dalam perkara ghibah, misalnya, seseorang tidak cukup hanya memohon maaf kepada Allah dengan lisannya, sementara setelah itu dia kembali duduk di majelis yang sama, berbareng orang-orang yang menjadikan kehormatan orang lain sebagai bahan pembicaraan dan hiburan.

Sebab, lingkungan mempunyai pengaruh besar terhadap hati dan perilaku seseorang. Kebiasaan yang terus dilakukan berbareng orang-orang di sekitar kita dapat membikin dosa terasa ringan dan dianggap biasa.

Karena itu, para ustadz menjelaskan bahwa meninggalkan lingkungan yang jelek termasuk bagian dari kesempurnaan taubat. Sebab hati manusia sangat mudah terpengaruh oleh kebiasaan dan perilaku orang-orang di sekitarnya.

Maka, siapa pun yang mau membersihkan dirinya dari dosa ghibah hendaknya memulai dengan menjaga lisannya, memilih pergaulan yang baik, serta memperbanyak zikir dan mengingat Allah. Karena hati yang selalu dekat dengan Allah bakal lebih mudah menjaga perkataan dan perbuatannya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Marilah kita menjaga lisan sebelum lisan itu menjadi saksi yang memberatkan kita di hadapan Allah. Marilah kita membersihkan hati sebelum hati itu mengeras oleh dosa yang terus dipelihara. Dan marilah kita menyegerakan taubat sebelum kesempatan itu dicabut dari kehidupan kita.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang bisa menjaga kehormatan sesama muslim, memperbaiki kesalahan dengan taubat yang tulus, serta menghidupkan hati kita dengan sinar ketaatan dan ketakwaan.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Jumat II

   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى  فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ  اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ


 عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Sertifikasi Halal

Selengkapnya