Kiat Memperbarui Keimanan Dengan Mempelajari Ilmu Syar’i

Dec 20, 2025 11:00 AM - 5 bulan yang lalu 167910

Iman merupakan hidayah terbesar yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada seorang hamba. Dengan keimanan, seorang muslim dapat menjalani kehidupannya dengan penuh makna, beramal dengan ilmu, dan tujuan yang jelas dalam kehidupan bumi maupun akhirat. Namun, ketaatan bukanlah sesuatu yang statis. Ia bisa bertambah dengan ketaatan, dan berkurang lantaran kemaksiatan. Oleh karena itu, setiap muslim dituntut untuk senantiasa menjaga, memperkuat, apalagi memperbarui keimanannya setiap saat.

Salah satu langkah paling utama dalam memperbarui keagamaan adalah dengan mempelajari pengetahuan syar’i  yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena pengetahuan syar’i berfaedah sebagai sinar yang menyingkap kegelapan kebodohan, mengokohkan keyakinan, dan menuntun kebaikan ibadah agar sesuai dengan tuntunan syariat.

Keimanan bertambah dengan mempelajari pengetahuan yang bermanfaat

Ilmu syar’i mencakup pemahaman terhadap Al-Qur’an, As-Sunnah, serta penjelasan dari ustadz ahlussunnah wal jama’ah. Dengan pengetahuan inilah, seseorang dapat mengenal Allah ‘Azza wa Jalla, memahami sifat-sifat-Nya, mengetahui perintah dan larangan-Nya, serta menjalani ibadah sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ilmu yang berfaedah bakal meningkatkan keimanan, menumbuhkan rasa takut kepada Allah, sekaligus menumbuhkan angan bakal rahmat-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Donasi Kincai Media

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Ayat ini menegaskan bahwa pengetahuan merupakan kunci munculnya rasa takut dan ketundukan kepada Allah, sehingga ketaatan menjadi kokoh dan tidak mudah goyah. Tanpa ilmu, ibadah seseorang bisa menyimpang; dan tanpa pengetahuan pula, ketaatan bisa rentan ketika menghadapi syubhat (kerancuan pemikiran) dan syahwat (godaan hawa nafsu).

Al-Qur’an, sumber utama bertambahnya keimanan

Al-Qur’an bukan hanya tulisan, tetapi juga pedoman yang dapat meningkatkan keagamaan ketika dibaca, ditadabburi (direnungkan), dan diamalkan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَـٰذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ. وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ

“Dan andaikan diturunkan suatu surat (Al-Qur’an), maka di antara mereka (orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surah itu menambah imannya dan mereka bergembira. Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surah itu, bertambahlah kekafiran mereka di samping kekafirannya, dan mereka meninggal dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 124–125)

Ayat ini menunjukkan perbedaan sikap orang beragama dan orang munafik. Bagi orang beriman, turunnya ayat-ayat Al-Qur’an bakal menambah keyakinan, ketenangan, serta kegembiraan. Sebaliknya, bagi orang munafik, ayat-ayat Allah justru menambah keraguan dan penolakan.

Hal ini menjadi pelajaran bahwa untuk memperbarui iman, seorang muslim kudu senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an; tidak hanya membacanya, tetapi juga mentadabburi maknanya.

Di ayat yang lain, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ هَـٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9)

Ayat ini juga menegaskan bahwa siapa saja yang mau memperbarui keimanannya, haruslah menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan utama dalam segala aspek kehidupannya, baik dalam berakidah maupun bermuamalah. Dengan mengikuti petunjuk Al-Qur’an, ketaatan bakal terpelihara dari penyimpangan dan penyelewengan.

Urgensi taddabur Al-Qur’an

Adapun yang lebih utama dari membaca Al-Qur’an adalah merenungkan maknanya, memahami kandungannya, dan berupaya mengamalkannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, niscaya mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’: 82)

Dan dalam ayat lain, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا ٱلْأَلْبَٰبِ

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah, agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya, dan agar orang-orang yang berakal mendapatkan pelajaran.” (QS. Shad: 29)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa tadabbur adalah sarana utama untuk memperkuat keimanan. Ketika seorang hamba merenungi ayat-ayat Allah, dia bakal semakin menyadari bakal kebesaran-Nya, kelemahan dirinya, serta pentingnya ketaatan dan ketundukan kepada-Nya.

Beramal dengan ilmu, bentuk keagamaan yang nyata

Ilmu syar’i yang dipelajari haruslah diwujudkan dalam corak amalan. Iman bukan hanya kepercayaan di dalam hati saja, tetapi juga mencakup ucapan dengan lisan dan perbuatan dengan personil badan. Oleh karena itu, memperbarui ketaatan tidak cukup hanya dengan memahami dalil, tetapi juga kudu tercermin dalam ketaatan, ibadah, dan adab sehari-hari.

Mempelajari pengetahuan syar’i bakal menuntun seorang muslim untuk memperbaiki salatnya, memperindah akhlaknya, mengikhlaskan niat, serta menghindari perkara yang diharamkan. Dengan demikian, ketaatan bukan hanya bertambah secara teori, melainkan betul-betul nampak dalam perilaku seorang hamba yang beriman.

Memperbarui keagamaan adalah kebutuhan utama setiap muslim, mengingat ketaatan dapat naik dan turun. Di antara langkah terpenting untuk memperbarui keagamaan adalah dengan mempelajari pengetahuan syar’i yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Melalui pengetahuan yang benar, seorang hamba dapat mengenal Allah ‘Azza wa Jalla, memahami perintah dan larangan-Nya, serta mengamalkan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh lantaran itu, seorang muslim hendaknya menjadikan pengetahuan syar’i sebagai bagian dari kehidupannya, agar keagamaan senantiasa diperbarui, menjadi lebih kokoh, dan menuntun kepada kebahagiaan di dunia, terlebih kehidupan di akhirat.

Semoga bermanfaat, wallahu a’lam bisshawab.

Baca juga: Mencerdaskan Diri dengan Ilmu Syar’i

***

Penulis: Chrisna Tri Hartadi

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Tajdidu Al-Iman, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 13-14.

Selengkapnya