Luruskan Niat Saat Memberi Nafkah

Jan 11, 2026 03:01 PM - 4 bulan yang lalu 136038

Kincai Media , BOGOR -- Bagi Muslim yang bekerja, mulailah semuanya dengan niat yang baik. Niat mencari ridha Allah, niat menjalankan sunnah Rasulullah, niat mencari nafkah untuk keluarga, niat menjauhkan diri dari malas dan miskin dengan bekerja, dan beragam niat lainnya. Semua niat yang baik itu bakal menjadi pahala.

Berikut ini tiga keistimewaan bagi umat Islam yang bekerja mencari nafkah:

Besarnya pahala memberi nafkah

Orang-orang yang bekerja dan menggunakan rezeki yang diperoleh dari hasil kerja kerasnya untuk memberikan nafkah pada keluarganya bakal mendapatkan pahala yang besar. Bahkan rezeki yang digunakan untuk memberi nafkah pada keluarganya itu lebih besar pahalanya dibanding dengan rezekinya yang dikeluarkan untuk bersedekah pada orang lain. Sebagaimana dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda,

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lampau satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lampau satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar,” (HR. Muslim).

Orang yang bekerja sedang berjihad di jalan Allah

Orang yang bekerja agar bisa menafkahi keluarganya sehingga menjauhkan diri dan keluarganya dari kefakiran dan mencapai kesejahteraan sehingga bisa menjadi orang yang dermawan, sejatinya mereka tengah berjihad di jalan Allah SWT.

عن أبي هُريرةَ ؛ قالَ : بَيْنَا نحنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ _ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ _ ، إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا شَابٌّ منَ الثَنِيَّةِ ، فَلَمَّا رَمَيْنَاهُ بِأَبْصَارِنَا ، قُلْنَا : لَوْ أنَّ ذَا الشَّابَّ جَعَلَ نَشَاطَهُ وَشَبَابَهُ وقوَّتَهُ في سَبِيلِ اللَّهِ ، فَسَمِعَ مَقَالَتَنَا رَسُولُ اللَّهِ _ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ _ ؛ فقالَ : ” ومَا سَبِيلُ اللَّهِ إلاَّ منْ قُتِلَ ؟ ، مَنْ سَعَى عَلَى وَالِدَيْهِ ؛ فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ ، ومَنْ سَعَى عَلَى عِيَالِهِ ؛ فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ ، ومَنْ سَعَى مُكَاثِراً ؛ فَفِي سَبِيلِ الشَّيطَانِ ”

Dari abu Hurairah, dia berkata: Pada saat kami berbareng Rasulullah SAW, tiba-tiba muncul di hadapan kami, seorang pemuda dari lembah. Ketika kami terfokus kepadanya, kami berkata, “Semoga pemuda itu menjadikan kerajinannya, kepemudaanya, dan kekuatannya di jalan Allah. Rasulullah mendengar ucapan kami, lampau beliau bersabda: Apakah yang dinilai syahid hanya orang yang wafat di medan perang? Barangsiapa yang bekerja untuk kedua orang tuanya maka dia di jalan Allah, barangsiapa yang bekerja untuk keluarganya maka dia di jalan Allah, barangsiapa bekerja hanya untuk memperbanyak kekayaan maka dia di jalan syaithan. Sungguh mulianya orang yang bekerja untuk memenuhi kehidupan keluarganya, jika dia meninggal dalam bekerja maka dia dinilai syahid

Terhindar dari neraka

Orang yang bekerja kemudian rezekinya digunakan untuk keperluan keluarganya, maka Insya Allah dia bakal terhindar dari neraka.

مَنْ أَنْفَقَ عَلَى ابْنَتَيْنِ أَوْ أُخْتَيْنِ أَوْ ذَوَاتَىْ قَرَابَةٍ يَحْتَسِبُ النَّفَقَةَ عَلَيْهِمَا حَتَّى يُغْنِيَهُمَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ يَكْفِيَهُمَا كَانَتَا لَهُ سِتْراً مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa mengeluarkan hartanya untuk keperluan kedua anak perempuannya, kedua kerabat perempuannya alias kepada dua orang kerabat perempuannya dengan mengharap pahala dari Allah, lampau Allah mencukupi mereka dengan karunianya, maka ibadah tersebut bakal membentengi dirinya dari neraka” (HR. Ahmad)

sumber : Dok Republika

Selengkapnya