Kincai Media ,JAKARTA -- Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali menguraikan secara mendalam tentang zuhud sebagai perjalanan jiwa. Ia membaginya ke dalam tiga tingkatan, mulai dari zuhud yang penuh perjuangan hingga zuhud sempurna yang lahir dari ma‘rifat kepada Allah SWT.
Mengosongkan hati dari bumi bukan perkara instan. Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa zuhud adalah proses spiritual bertingkat, yang mencerminkan sejauh mana seorang hamba mengenal dan memandang Tuhannya.
Imam Al Ghazali menerangkan bahwa sikap zuhud pada diri seorang hamba mempunyai beberapa tingkatan sesuai dengan kekuatan dan kedalaman jiwanya. Secara umum, zuhud terbagi menjadi tiga tingkatan.
Tingkatan pertama (terendah) adalah ketika seseorang bersikap zuhud terhadap urusan dunia, tetapi hatinya tetap menyukai bumi dan condong kepada perkara-perkara duniawi. Nafsunya tetap beralih kepada dunia, meskipun dia bersungguh-sungguh memeranginya dan berupaya menahan diri. Orang seperti ini disebut al-mutazahid, ialah orang yang sedang berupaya untuk zuhud. Inilah permulaan jalan zuhud bagi mereka yang mau mencapai derajat zuhud melalui kesungguhan dan perjuangan.
Seorang al-mutazahid mula-mula menghancurkan nafsunya agar mau berzuhud, kemudian menghancurkan kantongnya dengan mengeluarkan segala sesuatu yang dicintainya, lampau kembali menghancurkan nafsunya agar alim menjalankan perintah agama. Ia belum sampai pada tahap ridha terhadap apa yang terpisah darinya. Al-mutazahid berada dalam kondisi yang berbahaya, lantaran terkadang dia dikalahkan oleh jiwanya dan ditarik oleh syahwatnya, sehingga dia kembali kepada bumi dan beristirahat dengannya, sedikit ataupun banyak.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·