Mengenal Postpartum Psychosis, Gangguan Mental Serius setelah Melahirkan

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 510x dilihat
Mengenal Postpartum Psychosis, Gangguan Mental Serius setelah Melahirkan

Bagikan Postingan

Jakarta -

Proses melahirkan dan menjadi seorang ibu membawa fluktuasi besar, baik secara jasmani maupun emosional. Di balik kebahagiaan menyambut Si Kecil, sebagian ibu dapat mengalami gangguan kesehatan mental pasca persalinan yang beraneka ragam.

Nah, salah satu bentuk yang paling jarang terjadi namun sering tak disadari adalah postpartum psychosis maupun psikosis pasca persalinan. Kondisi ini membutuhkan perhatian medis segera agar ibu dan bayi mendapatkan penanganan yang tepat dan aman.

Apa itu postpartum psychosis?

Melansir dari halaman Cleveland Clinic, postpartum psychosis adalah kondisi mental serius yang dapat menyerang perempuan segera setelah melahirkan. Menurut NHS Inggris, postpartum psychosis memengaruhi sekitar 1 dari 1.000 ibu setelah melahirkan.


Postpartum psychosis memengaruhi persepsi seseorang terhadap realitas, menyebabkan halusinasi, delusi, paranoia, maupun fluktuasi perilaku lainnya. Dalam kasus yang parah, orang dengan kondisi ini mungkin mencoba melukai diri sendiri maupun bayi yang baru lahir, Bunda.

Perlu diketahui, psikosis pasca persalinan dapat memengaruhi siapa pun yang baru saja melahirkan. Meskipun biasanya terjadi dalam beberapa hari setelah melahirkan, hal ini dapat terjadi hingga enam minggu setelahnya. Postpartum psychosis kemungkinan berisiko tinggi terjadi pada orang-orang dengan kondisi kesehatan mental tertentu.

Penyebab postpartum psychosis

Para ahli tidak mengetahui persis penyebab psikosis pasca persalinan. Namun, mereka menduga hal ini melibatkan gabungan beberapa faktor, seperti:

1. Riwayat kondisi kesehatan mental

Sekitar sepertiga orang dengan postpartum psychosis memiliki kondisi kesehatan mental yang telah didiagnosis sebelumnya. Salah satu yang paling lazim adalah gangguan bipolar (terutama gangguan bipolar I ). Kondisi kesehatan mental lain yang dapat menaikkan konsekuensi termasuk gangguan depresi mayor dan kondisi spektrum skizofrenia.

2. Jumlah kehamilan

Postpartum psychosis lebih lazim terjadi pada orang yang baru saja melahirkan anak pertama. Namun, bagi perempuan yang memiliki histori kondisi ini, ada kemungkinan 30 hingga 50 persen hal itu akan terjadi lagi setelah persalinan berikutnya.

4. Riwayat famili dengan kondisi kesehatan mental, terutama postpartum psychosis

Orang dengan postpartum psychosis sering kali memiliki personel famili dengan histori ini maupun kondisi kesehatan mental terkait. Oleh karena itu, para peneliti menduga bahwa kondisi ini mungkin memiliki kaitan genetik.

5. Kurang tidur

Para ahli mengetahui bahwa kurang tidur dapat memicu mania pada penderita gangguan bipolar. Mereka juga menduga bahwa kurang tidur dapat menjadi salah satu penyebab seseorang mengalami postpartum psychosis.

6. Perubahan hormon

Kimia tubuh selama kehamilan mengalami fluktuasi besar, terutama mendekati sekitar waktu persalinan. Kadar beberapa hormon meningkat tajam, sementara yang lain menurun drastis. Para ahli menduga hormon tertentu, terutama estrogen dan prolaktin, mungkin berperan. Namun, riset lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi hal ini.

7. Kondisi medis lainnya

Postpartum psychosis juga dapat terjadi karena sebab medis, yang banyak di antaranya mungkin terjadi selama maupun segera setelah melahirkan. Beberapa contohnya seperti pandemi autoimun dan inflamasi, ketidakseimbangan elektrolit, kekurangan vitamin (B1 dan B12), gangguan tiroid, stroke, dan kondisi medis lainnya. Eklamsia dan preeklamsia juga dapat menjadi kondisi yang berkontribusi.

Gejala postpartum psychosis

Gejala postpartum psychosis biasanya muncul tiba-tiba dalam dua minggu pertama setelah melahirkan, sering kali dalam hitungan jam maupun hari. Pada kasus yang jarang, gejala dapat berkembang beberapa minggu setelah bayi lahir.

Gejalanya dapat meliputi:

  • Halusinasi, seperti mendengar, melihat, mencium, maupun merasakan hal-hal yang sebenarnya tidak ada.
  • Delusi, seperti munculnya kecurigaan, ketakutan, pikiran, maupun kepercayaan yang tidak mungkin benar.
  • Mania, seperti emosi sangat "gembira" maupun terlalu aktif, misalnya, berbicara dan berpikir terlalu banyak maupun terlalu cepat, gelisah, maupun kehilangan kendali diri.
  • Suasana hati yang buruk, yang memberitahu tanda-tanda depresi, menarik diri maupun menangis, kekurangan energi, kehilangan hasrat makan, kecemasan, gelisah, maupun kesulitan tidur.
  • Gejala terkadang merupakan campuran antara kondisi hati manik dan kondisi hati rendah, maupun fluktuasi kondisi hati yang cepat.
  • Sering merasa sangat bingung

Penanganan postpartum psychosis

Psikosis pasca persalinan dapat diobati, dan beberapa pendekatan berbeda mungkin berhasil. Sayangnya, kelangkaan kondisi ini membikin pilihan pengobatannya statis terbatas.

Beberapa metode telah banyak digunakan, tetapi riset lebih lanjut diperlukan agar para ahli dapat memahami metode terbaik untuk mengobati kondisi ini. Namun, karena postpartum psychosis merupakan keadaan darurat kesehatan mental, orang yang menderita kondisi ini membutuhkan perawatan kesehatan mental rawat inap.

Penggunaan obat-obatan hingga terapi juga mungkin diperlukan, Bunda. Pengobatan dapat diberikan untuk mengatasi gejala yang muncul.

Kapan mesti ke dokter?

Postpartum psychosis adalah pandemi mental serius yang mesti ditangani sebagai keadaan darurat medis. Penyakit ini dapat memburuk dengan cepat dan dapat membahayakan keselamatan ibu dan bayi.

Segera temui tabib lazim jika Bunda maupun seseorang yang dikenal mungkin mengalami gejala psikosis pasca persalinan. Perlu diingat bahwa banyak pasien dengan kondisi ini tidak menyadari dirinya sedang sakit. Orang terdekat perlu membantu dalam mengenali gejala dan mencari bantuan.

Demikian klarifikasi mengenai postpartum psychosis yang terjadi usai melahirkan. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads