Kehidupan di bumi penuh dengan yang namanya ketidakpastian. Karena memang tidak ada satu pun manusia mengetahui apa yang bakal terjadi di masa yang bakal datang. Sebagian orang lantas terjebak dalam emosi resah dan takut; menghadapi realita yang seakan-akan gelap berkabut. Namun, kondisi ini tidak bertindak bagi seorang muslim, yang mempunyai Rabb sebagai tempat sandaran dan bergantung.
Seorang mukmin didorong untuk melangkah melalui kehidupan dengan selalu berpikir positif dan berbaikan sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَقُوْلُ اللهُ تَعَالى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ
“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai dengan apa yang disangkakan oleh hamba-Ku.” (HR. Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675)
Juga diriwayatkan dari sahabat Watsilah Ibn al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، فَلْيَظُنُّ بِيْ مَا شَاءَ
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Aku sesuai dengan apa yang disangkakan oleh hamba-Ku, maka hendaklah dia berprasangka kepada-Ku semaunya.” (HR. Ahmad no. 16016)
Bahkan, berbaikan sangka kepada Allah merupakan salah satu ibadah yang agung dan tingkatan yang tinggi dalam kepercayaan Islam. Ia merupakan bagian dari ihsan, yang disebutkan definisinya di dalam sabda Jibril,
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau beragama kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu.”
Berbaik sangka kepada Allah adalah buah dari pengenalan seorang hamba terhadap Allah Tabaraka wa Ta’ala. Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafizahullah berkata,
فَكُلَّمَا ازْدَادَ الْعَبْدُ مَعْرِفَة بِاللهِ زَادَ حَظُّهُ وَنَصِيْبُهُ مِنْ حُسْنِ ظَنِّهِ بِهِ؛ لِأَنَّ مَنْشَأَ حُسْنَ الظَّنِّ وَمَبْنَاهُ عَلَى حُسْنِ المعْرِفَةِ بِاللهِ جَلَّ وَعَلَا وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ
“Setiap kali bertambah pengenalan seorang hamba terhadap Allah, bertambah pula bagian dan porsinya dalam berbaikan sangka kepada Allah. Karena tempat tumbuh dan pondasi prasangka baik kepada Allah berjuntai pada baiknya pengetahuan seorang hamba bakal Allah Jalla wa ‘Ala, begitu pula nama-nama dan sifat-sifat-Nya.” (Ahadits Ishlahul Qulub, hal. 302)
Seorang muslim yang meyakini Allah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, dia bakal berbaikan sangka bahwa Allah sangat menyayangi hamba-hamba-Nya melampaui kasih sayang sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, walaupun sangat besar rasa kasih sayang tersebut.
Seorang muslim yang meyakini nama Allah Al-Hayyu Al-Qayyum, dia akan berbaikan sangka bahwa Allah bakal mengabulkan permohonan yang dia mohonkan kepada-Nya dan Allah bakal menghilangkan beragam kesusahannya.
Seorang muslim yang meyakini nama Allah Ar-Razzaq, dia akan berbaikan sangka bahwa Allah menjamin rezekinya dan Allah bakal mencukupi semua kebutuhannya.
Seorang muslim yang meyakini nama Allah Al-Muhsin, dia bakal berbaikan sangka bahwa Allah bakal memberikan kenikmatan dan karunia yang berlimpah kepada hamba-hamba-Nya yang melakukan baik. Allah bakal melapangkan dadanya, menenangkan jiwanya, dan menentramkan hatinya. Karena Allah berfirman,
فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang melakukan kebaikan.” (QS. Hud: 115)
Alangkah bahagianya kehidupan seperti ini. Kehidupan seorang hamba yang senantiasa menyandarkan hatinya kepada Rabb-nya ‘Azza wa Jalla dan berbaikan sangka kepada-Nya. Sebagaimana perkataan Khalil Ar-Rahman, Nabi Ibrahim ‘alahissalam,
ٱلَّذِى خَلَقَنِى فَهُوَ يَهْدِينِ • وَٱلَّذِى هُوَ يُطْعِمُنِى وَيَسْقِينِ •وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ •وَٱلَّذِى يُمِيتُنِى ثُمَّ يُحْيِينِ • وَٱلَّذِىٓ أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِى خَطِيٓـَٔتِى يَوْمَ ٱلدِّينِ
“(yaitu Tuhan) yang telah menciptakanku, maka Dialah yang memberi hidayah kepadaku. Dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. Dan andaikan saya sakit, Dialah Yang menyembuhkanku. Dan yang bakal mematikan aku, kemudian bakal menghidupkan saya (kembali). Dan yang banget ku inginkan bakal mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu’ara: 78-82)
Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafizahullah berkata,
وَبِهذَا يُعلَمُ أَنَّ حُسْنَ الظَّنِّ بِاللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُصَاحِبُ المؤْمِنَ فِيْ جَمِيْعِ شُؤُوْنِهِ وَأَحْوَالِهِ وَجَمِيْعَ عِبَادَاتِهِ وَأَعْمَالِهِ
“Dan dengan ini diketahui bahwa prasangka baik kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala akan menemani seorang mukmin di dalam segala urusan dan keadaannya, serta semua ibadah dan kebaikan perbuatannya.”
وَمَبْنَاهُ عَلَى عَقِيْدَةٍ رَاسِخَةٍ وَإِيمَانٍ قَوِيٍّ فِيْ قَلْبِ الْمُؤْمِنِ وَثِقَةٍ بِاللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَلَا يحسن عبد الظن بِرَبِّهِ وَيَكُوْنُ صَادِقًا فِيْ حُسْنِ ظَنِّهِ بِهِ سُبْحَانَهُ إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ ظَنَّهُ، وَذلِكَ أَنَّ الخَيْرَ كُلَّهُ بِيَدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَكُلُّ مَا يَرْجُوْهُ المَرْءُ وَيُؤَمِّلُهُ وَيُرِيْدُهُ لِنَفْسِهِ أَوْ لِغَيْرِهِ بِيَدِهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Pondasinya (berprasangka baik kepada Allah) berasas kepercayaan yang tertancap dan keagamaan yang kuat di hati seorang mukmin. Begitu pula kepercayaan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dan tidaklah seorang hamba berprasangka baik kepada Rabb-Nya dan tidaklah pula dia jujur dalam pengakuan perihal tersebut selain Allah bakal mengaruniakan kepadanya sesuatu yang dia sangkakan itu. Hal tersebut lantaran semua kebaikan berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka segala perihal yang diharapkan dan diimpikan oleh seorang hamba untuk dirinya sendiri ataupun orang lain, semuanya berada di tangan-Nya ‘Azza wa Jalla.” (Ahadits Ishlahul Qulub, hal. 304)
‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
وَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ مَا أُعْطِيَ عَبْدٌ مُؤْمِنٌ شَيْئًا خَيْرًا مِنْ حُسْنِ الظَّنِّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ لَا يُحْسِنُ عَبْدٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ الظَّنَّ إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ ظَنَّهُ؛ ذَلِكَ بِأَنَّ الْخَيْرَ فِي يَدِهِ
“Dan demi Dzat yang tiada Tuhan yang berkuasa untuk disembah selain diri-Nya, tidaklah seorang hamba yang beragama diberikan sesuatu yang lebih baik daripada berprasangka baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan demi Dzat yang tiada Tuhan yang berkuasa untuk disembah selain diri-Nya, tidaklah seorang hamba berbaikan sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, selain Allah ‘Azza wa Jalla bakal memberikan kepadanya apa yang dia sangkakan. Hal itu lantaran segala kebaikan berada di tangan-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Husnuzhan Billah, no. 83)
Namun, perlu untuk diingat, bahwa persangkaan baik kepada Allah hendaknya juga diikuti dengan baiknya kebaikan ibadah. Karena seseorang yang berprasangka baik kepada Allah tanpa beramal dengan baik pula adalah seperti orang yang berdusta. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,
إِنَّ المؤْمِنَ أَحْسَنَ الظَّنَّ بِرَبِّهِ فَأَحْسَنَ الْعَمَلَ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ أَسَاءَ الظَّنَّ بِرَبِّهِ فَأَسَاءَ الْعَمَلَ
“Sesungguhnya seorang mukmin berprasangka baik kepada Rabb-nya, maka dia pun membaguskan amalnya. Adapun seorang yang fajir, dia berprasangka jelek kepada Rabb-nya dan beramal dengan jelek pula.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf no. 37925)
Dalam setiap kondisi, seorang mukmin ditekankan untuk selalu berprasangka baik kepada Allah. Akan tetapi, terdapat kondisi-kondisi tertentu dimana persangkaan baik kepada Allah lebih ditekankan lagi.
Pertama, ketika berdoa. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُونَ بِالْإجَابَةِِ
“Berdoalah kepada Allah sedang engkau berada di dalam kepercayaan bahwa angan itu bakal dikabulkan.” (HR. At-Tirmidzi no. 3479)
Kedua, ketika bertobat. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran,
قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
“Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui pemisah terhadap diri mereka sendiri, janganlah Anda berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
Ketiga, ketika berada dalam kondisi genting. Lihatlah gimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berprasangka baik kepada Allah dalam menenangkan hati sahabatnya, Abu Bakar ash-Shiddiq, ketika mereka nyaris tertangkap oleh orang-orang kafir di gua Tsur. Allah Ta’ala mengabadikan peristiwa tersebut di dalam firman-Nya,
إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِىَ ٱلْعُلْيَا ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Jikalau Anda tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berbicara kepada temannya, “Janganlah Anda bersungkawa cita, sesungguhnya Allah berbareng kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang Anda tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah: 40)
Keempat, ketika menjelang wafat. Diriwayatkan dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tiga hari sebelum wafatnya beliau,
لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ
“Janganlah salah seorang dari kalian wafat selain dalam keadaan dia berprasangka baik kepada Allah.” (HR. Muslim no. 2877)
Demikian apa yang dapat penulis sampaikan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa berbaikan sangka kepada Allah dan senantiasa beragama dengan baik kepada-Nya. Karena di antara sifat orang-orang munafik dan kafir lagi musyrik adalah mereka senantiasa berburuk sangka kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,
وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ وَٱلْمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلْمُشْرِكِينَ وَٱلْمُشْرِكَٰتِ ٱلظَّآنِّينَ بِٱللَّهِ ظَنَّ ٱلسَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَآئِرَةُ ٱلسَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
“Dan agar Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan wanita dan orang-orang musyrik laki-laki dan wanita yang mereka itu berprasangka jelek terhadap Allah. Mereka bakal mendapat giliran (kebinasaan) yang banget jelek dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.” (QS. Al-Fath: 6)
Hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon taufik.
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Kincai Media
Referensi:
- Al-Badr, ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin. 2023. Ahadits Ishlahul Qulub’. Madinah Al-Munawwarah: Darul Imam Muslim.
- Al-Badr, ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin. 2022. Fiqih Doa dan Zikir. (A. Djalil, jenis terjemahan). Jakarta: Penerbit Griya Ilmu.
- Kajian Berbaik Sangka Kepada Allah – Hadist-Hadist Perbaikan Hati#4, Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·