Tim Pejuang Mushola mengumandangkan azan usai membersihkan Mushola At-Taqwa di area perbatasan TPST Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (10/3/2026). Pejuang Mushola dan Artha Graha Peduli kembali bekerja-sama menggelar kegiatan sosial yang diisi dengan kerja hormat membersihkan area mushola agar tetap bersih, nyaman, dan layak digunakan masyarakat untuk beribadah. Selain kerja bakti, Artha Graha Peduli juga membagikan paket sembako kepada masyarakat di sekitar mushola.
Kincai Media , Setiap hari, umat Islam mendengar kumandang azan sebagai panggilan untuk menunaikan sholat. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa awal mula hukum azan berangkat dari mimpi seorang sahabat Nabi Muhammad SAW berjulukan Abdullah bin Zaid, yang kemudian mendapat pengakuan langsung dari Rasulullah SAW.
Abdullah bin Zaid bin Tsa'labah adalah seorang sahabat Nabi dari kalangan Anshar yang berasal dari suku Khazraj, keturunan Bani Haritsi.
Kejadian terpenting yang dialami Abdullah bin Zaid adalah ketika bermimpi tentang azan. Saat terbangun, dia langsung menceritakan mimpinya kepada Rasulullah SAW sebagaimana dijelaskan dalam sabda Muhammad ibn Ishaq dari Muhammad ibn Ibrahim ibn al-Harits al-Taimi, dari Muhammad ibn Abdullah bin Zaid, bahwa ayahnya berkata, “Di pagi hari saya menemui Rasulullah dan kuceritakan mimpiku. Beliau bersabda, ‘Ini adalah mimpi yang benar. Berdirilah berbareng Bilal! Karena dia mempunyai bunyi yang lebih lantang. Lalu, sampaikan kepadanya apa yang diucapkan padamu (dalam mimpi) dan serukanlah kalimat-kalimat itu.’”
Ketika mendengar bunyi Bilal yang berseru membujuk sholat, Umar bin Khattab bergegas keluar menemui Rasulullah SAW sembari mengangkat selendangnya, lampau berkata, “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, sungguh saya pernah mendengar kalimat-kalimat yang diserukannya itu.”
Rasulullah SAW bersabda, “Hanya bagi Allah segala puji! Seperti itulah ketetapannya.”
Muhammad Raji Hasan Kinas dalam Nafahat Athirah fi Sirah Shahabath Rasulillah SAW menerangkan, Muhammad bin Isa al-Tirmidzi mengatakan bahwa Abdullah bin Zaid adalah putra Abdi Rabbih. Kami tidak tahu sabda lain yang diriwayatkan darinya selain sabda yang satu ini, sementara Abdullah bin Zaid bin Ashim al-Mazini, om Ibad bin Tamim, punya beberapa sabda yang diriwayatkan darinya.
Ketika menceritakan beragam kejadian pada tahun 32 Hijriah, al-Thabari mengatakan bahwa pada tahun tersebut Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbih wafat. Dialah yang memimpikan kalimat-kalimat dalam azan.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·