Menjaga Lingkungan Merupakan Pahala Jariyah

Dec 26, 2025 11:00 AM - 5 bulan yang lalu 160813

Terdapat sabda dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَبْعٌ يَجْرِي لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ: مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا، أَوْ كَرَى نَهْرًا، أَوْ حَفَرَ بِئْرًا، أَوْ غَرَسَ نَخْلًا، أَوْ بَنَى مَسْجِدًا، أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا، أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ

“Ada tujuh yang pahalanya mengalir kepada hamba setelah kematiannya sedangkan dia berada di kuburnya, (yaitu) orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf, dan meninggalkan anak yang saleh yang memohonkan pembebasan untuknya setelah kematiannya.” (HR. Ibnu Majah no. 242, dihasankan oleh Albani di dalam Sahih Al–Jami’ no. 2231)

Dari sabda ini, kita mengetahui bahwasanya ada tujuh pahala yang tetap mengalir setelah kematian seorang hamba sedangkan dia berada di kuburnya, di antaranya adalah mengalirkan sungai, menggali sumur, dan menanam pohon kurma yang ini merupakan kegiatan melestarikan lingkungan.

Mengalirkan sungai

Mengalirkan sungai di dalam sabda ini maksudnya adalah membikin percabangan dari mata air alias sungai yang besar, agar air tersebut bisa mengalir ke tempat-tempat yang dibutuhkan, baik untuk kebutuhan manusia (untuk minum, memasak, mencuci, menyirami persawahan dan perkebunan), dan juga untuk memberikan minum manusia maupun hewan ternak. Termasuk juga di dalam perihal ini, mengalirkan air melalui pipa-pipa menuju tempat-tempat yang dibutuhkan. Terdapat sabda sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

Donasi Kincai Media

وَاِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِيْ دَلْوِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Menuangkan air dari embermu ke dalam ember saudaramu itu adalah sedekah.” (HR. At-Tirmidzi no. 1956, disahihkan oleh Al-Albani di dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 576)

Bahkan ketika Sa’ad bin ‘Ubadah radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang infak apa yang terbaik, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

سَقْيُ الْمَاءِ

“Memberikan air.” (HR. An-Nasai no. 3664 disahihkan Al-Albani di dalam Sahih At-Targhib no. 962)

Menjaga kebersihan sungai

Dari sabda ini, mengalirkan air ke tempat-tempat yang dibutuhkan adalah infak jariyah. Maka, begitu pula menjaganya. Menjaga sungai dari sampah dengan tidak membuang sampah sembarangan ke sungai. Menjaga kebersihan sungai agar airnya tidak tercemar, sehingga airnya senantiasa bisa dimanfaatkan oleh banyak orang, membersihkan sungai yang kotor sehingga alirannya tidak tersumbat. Ini semua termasuk kebaikan jariyah.

Termasuk dengan menggunakan eco-enzym dalam perihal mencuci dan lain-lain, lantaran ketika eco-enzym tersebut disiram ke sungai, maka dia mempunyai beberapa manfaat:

1) Menjernihkan dan membersihkan air.

2) Menurunkan polutan.

3) Meningkatkan kadar oksigen.

4) Menghilangkan aroma tidak sedap.

5) Memperbaiki ekosistem air.

6) Membunuh kuman dan bakteri.

Menggali sumur

Bentuk lain dari menjaga lingkungan yang merupakan pahala jariyah adalah menggali sumur. Dikisahkan dari sabda yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Bahwasanya dulu ada seorang laki-laki yang sangat kehausan, kemudian dia menemukan sumur. Lalu dia turun ke sumur tersebut, dan minum darinya, kemudian dia keluar. Tiba-tiba ada seekor anjing yang terengah-engah, dia menjilati tanah yang basah lantaran kehausan.

Kemudian laki-laki tersebut berkata, ‘Sungguh anjing ini sangat kehausan sebagaimana saya tadi sangat kehausan.’ Kemudian dia turun ke dalam sumur, mengisi air dengan sepatunya, kemudian dia tahan sepatu tersebut dengan mulutnya sampai akhirnya dia naik dari sumur. Lalu dia beri minum anjing tersebut. Dan Allah berterima kasih kepadanya dan Allah mengampuninya.”

Setelah itu, sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, apakah terhadap hewan-hewan kami juga punya pahala?” Kemudian beliau menjawab,

فِيْ كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

“Di setiap hati (bagian tubuh) yang basah ada pahalanya.” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244)

Allah Ta’ala mengampuni dosa laki-laki ini lantaran dia sudah memberikan minum kepada seekor anjing, maka gimana pahala bagi orang yang menggali sumur sehingga sumur tersebut bisa melepaskan dahaga banyak orang dan berfaedah bagi mereka?!

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَفَرَ مَاءً لَمْ يَشْرَبْ مِنْهُ كَبِدُ حَرَّى مِنْ جِنٍّ وَلَا إِنْسٍ وَلَا سَبُعٍ وَلَا طَائِرٍ إِلَّا آجَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang menggali sumur, tidaklah bagian tubuh yang kehausan meminumnya dari kalangan jin, manusia, hewan buas, dan burung, selain Allah memberikannya pahala di hari kiamat.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1292 dan Bukhari di dalam Tarikh-nya 1: 332, disahihkan oleh Al-Albani Shahih At-Targhib no. 271)

Selain menjadi sumber air bersih, menggali sumur juga mempunyai faedah dalam menjaga lingkungan, di antaranya adalah:

1) Mengurangi genangan dan banjir.

2) Mencegah intrusi air laut.

3) Menambah persediaan air tanah.

Dengan menggali sumur, maka sumur tersebut bisa menjadi resapan air yang menggenang, dan bisa mencegah banjir. Selain itu, air hujan bisa terserap di dalam tanah, perihal tersebut mencegah aliran air hujan ke laut, sehingga mencegah aliran air laut yang asin ke tanah. Air sumur yang merupakan air dari dalam tanah juga tingkat kontaminasi lebih rendah dibandingkan air sungai alias danau, sehingga lebih bersih.

Menanam pohon

Setiap orang yang menanam pohon yang berfaedah untuk manusia, hewan, burung, maka itu adalah infak untuknya, dan bakal sampai pahalanya ketika dia tetap hidup, dan juga setelah kematiannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيْمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim yang menanam pohon, alias menanam tanaman, kemudian burung alias manusia alias hewan makan darinya, selain dari itu baginya sedekah.” (HR. Bukhari no. 2320 dan Muslim no. 1553)

Menanam pohon termasuk ibadah yang pahalanya tetap mengalir setelah kematian. Di dalam sabda tersebut, tidak terbatas pohon apa yang ditanam, yang pasti kudu memberikan faedah kepada manusia alias hewan yang ada di sekitarnya. Namun, ada beberapa sabda yang mengkhususkan bahwa pohon yang ditanam adalah pohon kurma. Karena pohon kurma mempunyai faedah yang banyak dan penuh dengan keberkahan. Setiap bagian dari pohon kurma tidak lepas dari faedah untuk manusia maupun hewan. Buah kurma termasuk buah yang paling bermanfaat, manis dari buah kurma tidak ada yang menyamainya, begitu juga tunasnya yang mempunyai banyak faedah untuk tubuh. Setiap bagian dari pohon kurma bisa dimanfaatkan. Kayunya bisa digunakan untuk mendirikan bangunan, dan lainnya. Oleh lantaran itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 مِثْلُ الْمُؤْمِنِ مِثْلُ النَّخْلَةِ مَا أَخَذْتَ مِنْهَا مِنْ شَيْءٍ نَفَعَكَ

“Permisalan seorang mukmin sebagaimana pohon kurma. Apapun yang kau ambil darinya bakal berfaedah untukmu.” (HR. Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Kubra no. 13514, disahihkan oleh Al-Albani di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 2285)

Sehingga siapa pun yang menanam pohon, kemudian dia bagikan buahnya untuk kaum muslimin, maka pahalanya bakal tetap selama buahnya ada yang memakannya, dan selama pohonnya dimanfaatkan baik oleh manusia maupun hewan.

Selain itu, menanam pohon juga mempunyai faedah yang lainnya bagi lingkungan:

  1. Meningkatkan kualitas udara;
  2. Mengurangi erosi tanah;
  3. Mencegah banjir;
  4. Menjaga keanekaragaman hayati;
  5. Mengatur suhu;
  6. Menyimpan persediaan air;
  7. Mengurangi akibat perubahan iklim.

Dan tetap banyak lagi faedah dari menanam pohon

Maka, selain mempunyai beragam faedah bumi dari menjaga lingkungan, perihal tersebut juga berfaedah bagi seorang mukmin sebagai pahala jariyahnya. Tentu dengan meniatkan apa yang dia lakukan dari beragam perbuatan menjaga lingkungan, mengharapkan rida Allah Ta’ala, agar apa yang dia lakukan berfaedah untuk kaum muslimin, dan juga makhluk Allah yang lain di kehidupan mendatang setelah kematiannya. Allahul Muwaffiq.

***

Penulis: Triani Pradinaputri

Artikel Kincai Media

Referensi:

Al-Badr, Abdurrazaq bin Abdil Muhsin. 2024. Asyrun Yajrii Tsawabuha Ba’dal Mamat. Maktabah Itqan. Madinah

Purwoko, Satria Adji. 2022. 7 Manfaat Menanam Pohon Untuk Kesehatan dan Lingkungan Hidup. Diakses pada tanggal 22 Oktober 2025.

Yusri, Nabila Hisanah. 2023. Kenali Ekoenzim, Sobat Lingkungan Yang Bermanfaat Bagi Air. Diakses pada tanggal 22 Oktober 2025.

Selengkapnya