Terkadang ketika kita menasihati seseorang untuk tidak taklid buta kepada pendapat ustadz dan kembali kepada dalil Al-Qur’an dan As-Sunah, biasanya ada yang berceloteh: “Jika perkataan ustadz bukan dalil, perkataan Anda lebih bukan dalil!”
Maka kita jawab syubhat ini dalam beberapa poin:
Pertama, kentara sekali perkataan ini mau memaksakan bahwa perkataan ustadz kudu dianggap sebagai dalil. Jelas ini penyimpangan yang nyata, lantaran perkataan ustadz bukanlah dalil. Tidak manusia yang maksum (pasti benar) selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan,
لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَيُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ إِلَّا النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Tidak ada satu orang pun selain perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan, selain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (maka wajib diambil dan tidak boleh ditinggalkan).” (Irsyadus Salik ila Manaqibi Malik, hal. 227)
Imam Al-Barbahari rahimahullah mengatakan,
واعلم – رحمك الله – أن الدين إنما جاء من قبل الله تبارك وتعالى، لم يوضع على عقول الرجال وآرائهم، وعلمه عند الله وعند رسوله، فلا تتبع شيئا بهواك، فتمرق من الدين
“Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, bahwa kepercayaan ini datang dari Allah Tabaraka wa Ta’ala, tidak diserahkan kepada akal-akal manusia dan pendapat-pendapat mereka. Ilmunya ada di sisi Allah dan Rasul-Nya. Maka jangan engkau mengikuti hawa nafsumu, sehingga engkau melesat dari agama.” (Syarhus Sunnah, hal. 36)
Kedua, Ahlussunnah tidak membujuk untuk meninggalkan pendapat ustadz yang bertentangan dengan dalil, untuk beranjak kepada pendapat diri sendiri. Subhanallah, siapa diri kita ini?!?
Dan ini tuduhan yang sangat aneh. Karena syi’ar Ahlussunnah itu jelas, “Kembali kepada Al-Qur’an, As-Sunah dengan pemahaman salafus shalih.” Bukan membujuk kepada pemahaman pribadi. Abul Muzhaffar As-Sam’ani (wafat tahun 489 H) mengatakan,
شعار أهل السّنة اتباعهم السّلف الصَّالح وتركهم كل مَا هُوَ مُبْتَدع مُحدث
“Syi’ar Ahlussunnah adalah (mengajak) mengikuti Salafus Shalih, dan meninggalkan semua (perkara agama) yang diada-adakan dan bid’ah.” (Al-Intishar li Ash-habil Hadits, 1: 31)
Salafus shalih itu ulama. Artinya, Ahlussunnah tidak anti ustadz dan tidak anti penjelasan ulama. Bahkan senantiasa membujuk untuk kembali kepada penjelasan ulama salaf dan ulama khalaf (ulama belakangan) yang pemahamannya sejalan dengan pemahaman dan praktek salaf.
Ahlussunnah juga menerapkan nasihat Imam Ahmad rahimahullah,
إيَّاكَ أنْ تتكلمَ في مسألةٍ ليسَ لكَ فيها إمامٌ
“Janganlah engkau berbicara tentang suatu masalah agama, yang engkau tidak mempunyai pemimpin (pendahulu) dalam masalah tersebut.” (Siyar A’lamin Nubala, 11: 296)
Ahlussunnah senantiasa menasihati untuk jangan bicara dari kantong sendiri, namun hendaknya mengambil dari para ulama. Bahkan jika mau jujur, tulisan-tulisan para ustadz dan dai Ahlussunnah yang paling banyak dipenuhi kalam-kalam para ulama, komplit dengan sumber penukilannya yang valid, apalagi dicek sahih alias tidaknya penisbatannya. Ciri unik tulisan-tulisan mereka sejak dulu selalu dipenuhi catatan kaki dan referensi kitab-kitab ustadz yang sangat banyak. Bisa-bisanya dituduh anti ustadz dan memahami sendiri dari Al-Qur’an dan As-Sunah?!?
Namun, jika para ustadz berbeda pendapat, seorang Ahlussunnah mengambil pendapat ustadz yang lebih sejalan dengan dalil. Bukan yang sesuai mazhabnya, sesuai kelompoknya, sesuai mayoritas, alias sesuai selera.
Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan menjelaskan,
فالواجب أن نَجتمع على كتاب الله وسُنة رسوله، و ما اختلفنا فيه نردُّه إلى كتاب الله وسُنة رسوله، لايعذر بعضنا بعضاً و نبقى على الاختلاف؛ بل نردُّه إلَى كتاب الله وسُنة رسوله، و ما وافق الْحَقَّ أخذنا به، و ما وافق الخطأ نرجع عنه . هذا هو الواجب علينا ، فلا تبقى اﻷمة مُختلفةً
“Wajib bagi kita semua untuk berasosiasi di atas Al-Qur’an dan As-Sunah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang betul adalah kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunah Rasul. Pendapat yang sesuai dengan kebenaran, kita ambil; sedangkan pendapat yang salah, maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan.” (Syarah Ushul As-Sittah, hal. 19)
Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,
الواجب الالتزام بما شرعه الله، على لسان رسوله محمد عليه الصلاة والسلام، وليس هناك شخص معين يلزم الأخذ بقوله، لا الأئمة الأربعة ولا غيرهم، فالواجب اتباع النبي صلى الله عليه وسلم والسير على منهاجه في الأحكام والتشريع، ولا يجوز أن يقلد أحد بعينه في ذلك، بل الواجب هو اتباع النبي ﷺ، والأخذ بما شرع الله على يده عليه الصلاة والسلام سواء وافق الأئمة الأربعة أو خالفهم، هذا هو الحق
“Yang wajib bagi kita adalah berpegang teguh kepada hukum Allah dan kepada tuntunan Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. Bukan mengikuti person tertentu untuk diambil semua pendapatnya. Apakah dia pemimpin yang empat alias person yang lain. Yang wajib bagi kita adalah mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan melangkah di atas manhaj beliau dalam fikih dan norma syariat. Dan tidak boleh taklid buta kepada seorang pun dalam masalah ini. Bahkan wajib mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengambil apa yang Allah syariatkan melalui tangan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Baik sesuai dengan pendapat pemimpin yang empat ataupun tidak sesuai. Ini yang merupakan kebenaran.” (Nurun ‘alad Darbi, no. 73; pertanyaan ke-4)
Ketiga, Ahlussunnah tidak anti mazhab. Bermazhab itu baik, namun tidak boleh taklid buta dan ekstrem terhadap pendapat mazhab. Jika telah sampai kepada kita pendapat ustadz dengan dalil yang terang-benderang, namun berbeda dengan pendapat ajaran kita, maka kita tinggalkan pendapat ajaran kita.
Syekh Abzul Aziz bin Baz menjelaskan, “Tentang memilih salah satu pendapat mazhab, ini hanya layak dilakukan oleh orang yang serius belajar agama. Dan merekapun tetap tidak boleh taklid terhadap salah satu mazhab. Selain itu, jika seseorang menisbahkan diri pada ajaran tertentu lantaran dia memandang kaidah-kaidah, landasan, dan kesesuaian terhadap dalil secara umum pada ajaran ini, maka perihal ini diperbolehkan. Namun, dia tetap tidak boleh taklid, baik kepada Imam Asy-Syafi’i, alias kepada Imam Ahmad, alias kepada Imam Malik, alias kepada Imam Abu Hanifah, alias yang selain mereka. Yang wajib baginya adalah memandang sumber pendapat dan langkah pendalilan dari para pemimpin tersebut. Pendapat yang lebih kuat dalilnya dari beberapa pendapat yang ada, maka itulah yang diambil. Sedangkan dalam perkara ijmak, tidak boleh ada yang mempunyai pendapat lain. Karena para ustadz tidak mungkin bermufakat dalam kebatilan.” (Fatawa Nurun ‘Ala Ad Darb, Juz 1, no. 4729)
Syekh Shalih bin Fauzan al-Fauzan menjelaskan, “Diperbolehkan bagi seseorang untuk mengambil suatu pendapat dari ajaran selain mazhabnya, jika dia memandang bahwa dalilnya lebih kuat. Bahkan, itu wajib hukumnya. Karena dengan demikian, berfaedah dia tidak ekstrem mazhab, namun dia mengikuti dalil. Baik dalil itu berada dalam mazhabnya maupun dalam ajaran lain. Tidak diperbolehkan baginya mengikuti pendapat yang paling mudah alias yang sesuai dengan hawa nafsunya semata demi mencari keringanan alias senang lantaran kemudahannya. Hal ini tidak diperbolehkan.” (Fatawa Thariqul Islam, no. 5687)
Kesimpulannya, Ahlussunnah tidak anti ustadz dan tidak anti mazhab. Namun, yang dilarang oleh Ahlussunnah adalah mengikuti pendapat ustadz yang bertentangan dengan dalil dan taklid buta kepada ulama. Ahlussunnah juga tidak membujuk kepada pendapat pribadi, namun kepada pemahaman salafus shalih dan para ustadz yang mengikuti mereka dengan baik.
Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.
Baca juga:
Kedudukan Ulama Di Tengah Umat
***
Penulis: Yulian Purnama
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·