Keresahan bakal penyimpangan iktikad
Di antara akibat negatif dari era digital saat ini adalah mudahnya tersebar beragam info dan pengetahuan pengetahuan yang tidak jeli serta tidak mempunyai landasan yang kuat dan benar. Padahal, tidak setiap pengguna teknologi maupun internet mempunyai kredibilitas yang cukup untuk menilai kebenaran dari setiap info maupun pengetahuan pengetahuan yang ada di dalamnya.
Tentu perihal ini memicu keresahan, terutama bagi diri seorang muslim. Karena info dan pengetahuan tentang kepercayaan juga tidak luput dari konten-konten yang miskonsepsi (berisi pemahaman yang salah alias keliru dan bertentangan dengan kebenaran yang sebenarnya). Setiap orang dapat berbincang dan berkomentar tentang kepercayaan tanpa adanya filter (penyaring) yang menunjukkan mana pemahaman yang betul dan mana yang salah.
Keresahan tersebut kian membesar, jika topik dari konten-konten miskonsepsi berangkaian dengan pengetahuan akidah. Di mana iktikad adalah pengetahuan pokok dalam kepercayaan Islam. Ia merupakan dasar keislaman dan pondasi dari setiap kebaikan yang dikerjakan oleh seorang muslim.
Penyimpangan dalam iktikad dapat menyebabkan terjatuhnya seorang muslim pada dosa besar, terhapusnya seluruh amal, apalagi diharamkan untuk masuk ke dalam surga dan kekal di neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ قَالُوْا بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ
“Maukah saya beritahukan tentang dosa besar yang paling besar?” Para sahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.” Nabi bersabda, “Syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua.” (HR. Bukhari no. 5976)
Allah Ta’ala berfirman,
ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهْدِى بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۚ وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
“Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka ibadah yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,
لَقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ ٱلْمَسِيحُ يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam”; padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang kejam itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72)
Membentengi diri dari iktikad menyimpang
Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata dalam kitab beliau ‘Aqidah At-Tauhid (hal. 16-17), “Berbagai metode untuk membentengi dari penyimpangan ini (dalam masalah akidah) teringkas seperti di bawah ini:
Pertama: Kembali kepada Kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan sunah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk mendapatkan iktikad (keyakinan) yang benar. Sebagaimana dulu para salafus shalih mengambil sumber iktikad mereka dari keduanya. Dan tidak bakal baik akhir umat Islam selain dengan perihal yang memperbaiki generasi pertamanya. Disertai dengan mempelajari iktikad kelompok-kelompok yang menyimpang dan mengetahui syubhat-syubhat mereka, agar bisa membantah penyimpangan tersebut dan memperingatkan yang lain darinya. Karena orang yang tidak mengenal keburukan, dikhawatirkan bakal terjatuh di dalamnya.
Kedua: Perhatian untuk mengajarkan iktikad yang betul –aqidah salafus shalih– dalam setiap jenjang pendidikan yang beraneka ragam, dan juga memberikan sesi-sesi yang lebih komplit dalam masalah manhaj. Disertai kepedulian yang tinggi dalam memperdalam training ketika mempelajari materi-materi tersebut.
Ketiga: Menjadikan pedoman yang berasal dari kitab-kitab iktikad yang betul dan murni, dan menyingkirkan kitab-kitab yang mengandung akidah-akidah yang menyimpang. Seperti kitab-kitab kaum sufi, ahli bid’ah, golongan Jahmiyyah, golongan Mu’tazilah, golongan Asya’irah, golongan Maturidiyyah, dan selainnya. Kecuali dalam rangka untuk mengetahui prinsip mereka, membantah, dan memperingatkan kebatilan mereka.
Keempat: Gerakan para da’i yang menginginkan untuk memperbaiki masyarakat menuju kepercayaan salaf. Dan membantah kesesatan-kesesatan golongan yang menyimpang.”
Teruslah antusias dalam mempelajari pengetahuan agama, terutama pengetahuan akidah. Pelajari pengetahuan kepercayaan dengan tahapan-tahapan yang benar, di bawah pengarahan para ustadz dan ustaz yang jelas latar belakang keilmuannya. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semuanya.
Baca juga: Ambillah Aqidahmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah (Bag. 1): Hak Allah atas Hamba-Nya
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Kincai Media
Referensi:
- Al-Fauzan, Syekh Shalih bin Fauzan. 1432 H. ‘Aqidah At-Tauhid. Riyadh: Maktabah Dar Al-Minhaj.
- Salam, Abu Isa Abdullah bin. Mutiara Faidah Kitab Tauhid. Yogyakarta: Pustaka Muslim.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·