Pergaulan di Era Digital: Relevansi Nasihat Bughyatul Mustarsyidin tentang Memilih TemanKincai Media– Manusia adalah makhluk sosial yang secara kodrati selalu memerlukan pergaulan alias keberadaan orang lain di sekitarnya. Tidak ada seorangpun yang bisa hidup menyendiri tanpa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Namun, dalam proses hubungan tersebut, ada satu perihal esensial yang kerap kali diabaikan, ialah kualitas dari lingkungan alias kawan bergaul.
Setiap orang yang datang dalam lingkaran terdekat kita sesungguhnya membawa warna, energi, dan kecenderungan yang secara perlahan tapi pasti meresap ke dalam jiwa. Apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan dari kawan yang berinteraksi sehari-hari membentuk langkah berpikir, bersikap, hingga menentukan arah hidup.
Dalam tradisi intelektual dan spiritual Islam, pentingnya memilih lingkaran pergaulan mendapat perhatian yang sangat mendalam. Salah satu rujukan klasik yang membahas kejadian psikologis dan spiritual ini secara lugas adalah kitab “Bughyatul Mustarsyidin” karya Al-Allamah Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar Al-Masyhur.
Ia mengutip sebuah nasihat berbobot mengenai akibat pembentukan karakter akibat hubungan sosial. Bunyinya seperti ini:
من جلس مع ثمانية أصناف زاده الله ثمانية أشياء: من جلس مع الأغْنياء زاده الله حب الدنيا والرغبة فيها، ومن جلس مع الفقراء حصل له الشكر والرضا بقسمة الله تعالى، ومن جلس مع السلطان زاده الله القسوة والكبر، ومن جلس مع النساء زاده الله الجهل والشهوة، ومن جلس مع الصبيان ازداد من اللهو، ومن جلس مع الفساق ازداد من الجراءة على الذنوب وتسويف التوبة أي تأخيرها، ومن جلس مع الصالحين ازداد رغبة في الطاعات، ومن جلس مع العلماء ازداد من العلم والعمل
Secara rinci, ungkapan tersebut menjelaskan bahwa barangsiapa yang sering duduk alias berbaur dengan delapan golongan manusia, maka Allah bakal menambahkan kepadanya delapan akibat alias sifat tertentu yang selaras dengan karakter dari golongan yang dia gauli. Matriks pergaulan ini menjadi cermin bagi siapa saja yang mau melacak ke mana arah jiwanya sedang melangkah.
Dosa Konsumerisme: Bergaul dengan Orang-Orang Kaya
Poin pertama yang disorot dalam kitab tersebut menyatakan bahwa peralatan siapa yang sering berbaur dengan orang-orang kaya, Allah bakal menambah kecintaannya terhadap bumi serta memperbesar nafsu untuk memilikinya.
Ungkapan ini tidak melarang seseorang untuk berbisnis, bekerja sama, alias menjalin relasi ahli dengan kalangan berada. Namun, penekanannya terletak pada orientasi pergaulan (pola interaksi) yang berpusat semata-mata pada style hidup, kemewahan, dan akumulasi materi.
Ketika seseorang terus-menerus mengikatkan dirinya dalam lingkaran yang mengukur segala sesuatu dengan kacamata kepemilikan harta, tolok ukur kebahagiaannya bakal ikut bergeser. Rasa cukup (qana’ah) yang ada dalam dada perlahan mengikis, digantikan oleh dahaga yang tak pernah tuntas untuk mengejar standar hidup orang lain.
Setiap kali memandang apa yang dimiliki rekan bergaulnya, timbul dorongan untuk menyaingi, meskipun kudu mengorbankan ketenangan jiwa alias apalagi batas-batas kehalalan. Lingkaran yang didominasi oleh obsesi materi condong menjebak seseorang dalam lingkaran syahwat duniawi yang melalaikan tujuan akhir hidup.
Pelajaran Kesederhanaan: Membuka Mata Bersama Orang-Orang Fakir
Sebaliknya, ungkapan kedua dalam kitab tersebut memberikan jalan penawar bagi penyakit hati: barangsiapa yang berbaur dengan orang-orang fakir dan kurang beruntung, dia bakal memperoleh hidayah berupa rasa syukur dan ketenteraman (ridha) atas pembagian dan ketetapan Allah.
Mata manusia sering kali hanya terbiasa mendongak ke atas, memandang mereka yang mempunyai lebih banyak akomodasi hidup. Hal ini memicu prasangka jelek kepada Takdir dan melahirkan kegelisahan yang tiada henti. Namun, ketika seseorang bersedia duduk, mendengar, dan berinteraksi secara tulus dengan mereka yang hidup dalam keterbatasan, perspektif pandangnya bakal berbalik secara dramatis.
Ia bakal menyaksikan gimana ketabahan, daya tahan, serta senyuman tetap bisa terukir di tengah kesederhanaan. Interaksi semacam ini mengikis kesombongan, menumbuhkan empati sosial yang mendalam, dan membimbing jiwa untuk menyadari sungguh melimpahnya nikmat kesehatan, keselamatan, dan rezeki dasar yang selama ini dianggap biasa.
Pitfat Kekuasaan: Jebakan Hati Keras dan Kesombongan
Poin ketiga mengingatkan ancaman pergaulan di sekeliling para penguasa alias pemegang otoritas politik dan kekuasaan tanpa landasan niat yang lurus. Barangsiapa yang sering duduk berbareng kalangan penguasa, Allah bakal menambah kekerasan dalam hatinya dan rasa takabur.
Kekuasaan pada hakikatnya mempunyai watak yang condong melanggengkan kekuasaan dan kehendak. Ketika seseorang berada terlalu dekat dengan pusaran kedudukan tanpa dibentengi oleh integritas moral, dia rentan terpengaruh oleh atmosfer keangkuhan politik. Ia mulai merasa di atas hukum, memandang rendah orang biasa, dan kepekaan nuraninya terhadap penderitaan sesama menjadi tumpul.
Kekerasan hati (qaswatul qalb) lahir dari kebiasaan dipuji, ditaati, dan dijunjung tinggi. Tanpa adanya kontrol diri dan masukan yang jujur dari kawan sejati, kedekatan dengan kekuasaan sering kali menjerumuskan seseorang ke dalam lembah kesombongan yang merusak hubungan sosial maupun spiritualnya.
Dorongan Hawa Nafsu: Pergaulan yang Melalaikan
Poin keempat mengurai akibat pergaulan berbareng wanita yang diwarnai oleh suasana melalaikan, di mana pergaulan tersebut menambah kegoblokan dan gejolak syahwat. Tentu, konteks kalimat ini perlu dimaknai secara tepat dan tidak diambil secara parsial.
Isyarat yang dimaksud dalam teks klasik ini adalah pergaulan antara musuh jenis yang tidak diikat oleh syariat, etika moral, serta batas kehormatan, yang tujuannya sekadar mengejar kenikmatan biologis alias kegemaran hedonistik.
Interaksi bebas yang tidak terkontrol bakal meruntuhkan tembok kepintaran spiritual dan intelektual. Ketika daya jiwa hanya dihabiskan untuk memenuhi dorongan sensual dan obrolan tanpa faedah, kepekaan logika terhadap pengetahuan pengetahuan yang asasi bakal menurun.
Kebodohan yang dimaksud bukan sekadar tidak tahunya seseorang bakal teori ilmiah, melainkan ketidakmampuan logika dalam membedakan mana yang membawa kemanfaatan kekal dan mana yang sekadar kenikmatan sesaat yang berujung pada kerugian.
Terjebak dalam Kematangan Semu: Pelajaran dari Dunia Anak-Anak
Poin kelima menyatakan bahwa barangsiapa yang porsi pergaulannya didominasi oleh anak-anak secara berlebihan, dia bakal bertambah dalam sikap senda gurauan dan permainan (al-lahwu).
Anak-anak adalah bumi yang dipenuhi kepolosan, kegembiraan, dan kebebasan dari beban tanggung jawab besar. Berinteraksi dengan anak-anak tentu krusial dalam konteks pengasuhan, pendidikan, dan kasih sayang keluarga. Namun, yang dikritisi dalam nasihat ini adalah ketika seorang dewasa menjadikan pola pikir, tingkat pembicaraan, dan kepribadian anak-anak sebagai standar pergaulan utamanya tanpa batas.
Akibatnya, dia kehilangan kematangan sikap, kedewasaan berpikir, serta keberanian dalam menghadapi realitas kehidupan yang menuntut tanggung jawab serius. Waktunya terbuang untuk hal-hal yang kurang berbobot strategis, sehingga potensi kepemimpinan dan produktivitasnya menjadi tumpul akibat terlalu nyaman berada dalam lingkaran pergaulan yang serba main-main.
Bahaya Fasik: Keberanian Melanggar dan Pengakhiran Taubat
Poin keenam membawa peringatan yang sangat krusial bagi keselamatan ketaatan dan moralitas seseorang: peralatan siapa yang duduk dan berkawan dengan orang-orang fasik (mereka yang terang-terangan bermaksiat dan mengabaikan tuntunan agama), dia bakal bertambah berani melakukan dosa dan terbiasa menunda-nunda taubat (taswif).
Dampak dari pergaulan dengan orang fasik bekerja secara lembut namun sangat mematikan. Pada tahap awal, seseorang mungkin merasa risi alias tidak nyaman saat menyaksikan suatu keburukan. Namun, lantaran terus-menerus terpapar dan berada di lingkungan tersebut, emosi risi itu perlahan hilang. Dosa yang tadinya dianggap besar mulai terlihat biasa, apalagi menjadi perihal yang lumrah.
Lebih rawan lagi, lingkungan yang fasik senantiasa menawarkan ilusi kesenangan dan menanamkan pemikiran bahwa “masih ada waktu untuk bertobat nanti”. Sikap menunda-nunda taubat ini adalah perangkap tak kasatmata. Seseorang diposisikan dalam area nyaman yang semu hingga akhirnya ajal datang menjemput dalam keadaan belum sempat membenahi diri.
Magnet Keharmonisan Jiwa: Lingkaran Orang-Orang Saleh
Di tengah beragam potensi jebakan pergaulan di atas, ungkapan ketujuh memberikan jalan terang: barangsiapa yang berbaur dengan orang-orang saleh, dia bakal bertambah dorongannya dan keinginannya untuk melakukan ketaatan kepada Allah.
Orang-orang saleh adalah mereka yang hidupnya dipenuhi dengan kesadaran ketuhanan dan ketulusan dalam melakukan baik. Berada di dekat mereka membawa akibat atmosferik yang menenangkan. Tanpa perlu banyak menggurui, perilaku, tutur kata, dan ketenangan wajah mereka bisa menjadi pengingat (mudzakkir) bakal prinsip hidup.
Lingkungan yang saleh bakal menciptakan kejuaraan positif (fastabiqul khairat). Ketika memandang kawan di sekitar kita berpacu dalam kebaikan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama, diri kita secara alami tergerak untuk ikut serta, malu jika kudu tertinggal dalam meraih keridhaan Tuhan.
Puncak Keutamaan: Majelis Para Ulama dan Pemburu Ilmu
Poin kedelapan sekaligus puncaknya menegaskan bahwa barangsiapa yang meluangkan waktu untuk duduk dan menimba pengetahuan berbareng para ulama, dia bakal bertambah pengetahuan pengetahuan dan pengamalannya.
Ulama adalah pewaris para nabi yang memegang lentera kebenaran. Duduk di majelis mereka bukan sekadar mentransfer info alias menambah wawasan intelektual semata, melainkan menyerap keberkahan, pemahaman yang mendalam, serta etika hidup (adab).
Ilmu yang didapat dari ustadz sejati tidak berakhir sebagai wacana di kepala, melainkan menjelma menjadi dorongan kuat untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari (ilmu yang berbuah amal). Bergaul dengan mahir pengetahuan menjaga seseorang agar tidak tersesat dalam pemikiran yang dangkal dan memberikan pedoman yang kokoh dalam mengarungi kompleksitas zamannya.
Epilog: Menata Lingkaran Pergaulan untuk Masa Depan Jiwa
Petikan dari kitab “Bughyatul Mustarsyidin” ini sesungguhnya merupakan sebuah peta navigasi sosial yang sangat relevan sepanjang masa. Apa yang disampaikan Al-Habib Abdurrahman Al-Masyhur tidak lain adalah penegasan kembali atas sabda Nabi Muhammad SAW bahwa kepercayaan dan kualitas karakter seseorang sangat ditentukan oleh kepercayaan kawan dekatnya.
Di era modern yang ditandai oleh meluasnya ruang hubungan digital, konsep “duduk bersama” tidak lagi terbatas pada ruang bentuk semata. Siapa yang kita ikuti di media sosial, konten apa yang kita konsumsi setiap hari, serta organisasi virtual apa yang kita tempati, semuanya adalah corak “pergaulan” baru yang mempengaruhi jiwa kita secara langsung.
Dengan kata lain, jika linimasa kita dipenuhi oleh pamer kemewahan, ujaran kebencian, alias kemaksiatan, maka akibat negatif yang dijelaskan dalam kitab klasik ini bakal tetap terjadi pada diri kita.
Oleh lantaran itu, pertimbangan terhadap lingkaran pergaulan (baik bentuk maupun digital) adalah sebuah keniscayaan. Kita perlu bersikap bijak dan selektif dalam memilih kepada siapa kita menyerahkan waktu, perhatian, dan kedekatan emosional kita. Pilihan kawan duduk hari ini adalah gambaran dari kepribadian dan takdir spiritual kita di masa depan. Wallahu a’lam bishawab.
———————
*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.