Privilege: Mengubah Keistimewaan jadi Ibadah (Bag. 2)

Akidah dan Sunnah oleh Waktu baca 7 menit 8432x dilihat
Privilege: Mengubah Keistimewaan jadi Ibadah (Bag. 2)

Bagikan Postingan

Privilege ketenaran dan pengaruh

Di zaman digital, ketenaran dan pengaruh di media sosial merupakan bentuk privilege yang sangat berpengaruh. Sebuah unggahan atau video dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan menit—sebuah kekuatan yang dulunya langka, tetapi kini bisa dimiliki banyak orang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka dia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengingatkan bahwa pengaruh dapat menjadi sumber pahala yang mengalir jika diarahkan ke kebaikan: mengajak salat, menyebarkan ilmu yang benar, memberi semangat berbuat baik, meluruskan kesalahpahaman, atau menyampaikan pesan-pesan positif—semua itu dapat menjadi kebaikan jariyah selama pengaruh terus berlanjut.

Di sisi lain, pengaruh yang disalahgunakan juga berpotensi menimbulkan dosa berkelanjutan. Menyebarkan maksiat, membuka aib, menormalisasi kemungkaran, memprovokasi kebencian, atau menyesatkan orang lain akan menyebabkan orang-orang yang terpengaruh menanggung konsekuensi dosa atas penyebarnya.

Karena itu, privilege ketenaran bukan sekadar angka pengikut; yang paling penting adalah arah pengaruh tersebut. Apakah ia menerangi atau malah menimbulkan api yang melahap? Setiap kata adalah amanah, dan pemilik pengaruh akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Privilege waktu dan kesehatan

Tidak semua privilege berupa kekayaan atau jabatan. Waktu luang dan kesehatan adalah nikmat besar yang sering kali diabaikan. Banyak orang baru merasakan nilainya ketika sakit atau ketika waktu telah berlalu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فَيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Allah Azza wa Jalla juga bersumpah atas waktu dalam surah Al-‘Ashr,

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُرْدٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَارَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَارَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia betul-betul dalam kerugian, selain orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Bila seseorang diberi waktu dan kesehatan, ia memperoleh kesempatan besar untuk memperbanyak ibadah, menuntut ilmu, membantu sesama, dan membangun amal jariyah. Namun jika keduanya dipakai untuk kelalaian, maka kerugianlah yang menanti. Oleh karena itu, privilege waktu dan kesehatan harus diperlakukan sebagai amanah: dimanfaatkan sebelum sakit datang dan sebelum waktu benar-benar habis.

Jangan tertipu oleh privilege

Privilege sering membuat manusia merasa aman, hebat, dan lebih tinggi dari orang lain, padahal semua itu hanyalah titipan sementara. Allah Azza wa Jalla memberi peringatan melalui kisah Qarun, yang kaya raya tetapi tersesat karena merasa hartanya adalah hasil usahanya semata.

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ

“Lalu dia keluar kepada kaumnya dengan kemegahannya.” (QS. Al-Qashash: 79)

Qarun memamerkan kekayaannya dengan penuh kebanggaan, merasa istimewa dan pantas dihormati, hingga lupa bahwa semua itu berasal dari Allah. Saat dinasihati ia berkata,

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي

“Sesungguhnya saya diberi kekayaan itu lantaran pengetahuan yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)

Dia mengira keberhasilan semata karena kemampuannya sendiri—itulah akar kesombongan. Akibatnya, Allah menghancurkannya dan menenggelamkan hartanya. Kisah ini mengajarkan bahwa privilege tanpa sikap syukur bisa berujung kehancuran.

Setiap keistimewaan yang tidak disyukuri berpotensi berubah menjadi ujian berat. Harta yang menjauhkan dari Allah akan melalaikan; jabatan yang tak dipakai untuk keadilan akan merusak; ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi tuduhan; dan popularitas yang tidak diarahkan kepada kebaikan dapat berubah menjadi sumber dosa.

Teladan para Nabi dalam mengelola privilege

Al-Qur’an tidak hanya memperingatkan bahaya privilege, tetapi juga memberi teladan tentang bagaimana keistimewaan harus dipergunakan untuk taat. Dua contoh teladan yang menonjol adalah Nabi Sulaiman dan Nabi Yusuf عليهما السلام.

Nabi Sulaiman عليه السلام dianugerahi kerajaan luas, kekuasaan besar, kemampuan mengendalikan angin, dan jin yang tunduk padanya. Ini adalah privilege langka. Namun beliau tidak sombong dan tidak menisbahkan semua itu pada dirinya sendiri. Beliau berkata,

هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku, apakah saya berterima kasih alias kufur.” (QS. An-Naml: 40)

Kalimat ini menunjukkan bahwa bagi Nabi Sulaiman, keistimewaan adalah ujian—sebuah kesempatan untuk bersyukur dan tunduk, bukan untuk membanggakan diri.

Begitu pula Nabi Yusuf عليه السلام. Setelah melalui cobaan berat—dibuang ke sumur, dijual, dan dipenjara—beliau akhirnya diberi posisi tinggi di Mesir, mengelola urusan ekonomi negara. Beliau berkata,

اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

“Jadikan saya pengelola perbendaharaan negeri ini, sesungguhnya saya orang yang menjaga dan berilmu.” (QS. Yusuf: 55)

Permintaan Nabi Yusuf bukan karena nafsu kekuasaan, melainkan tanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan umat. Dengan kedudukan itu, beliau menyelamatkan Mesir dan wilayah sekitarnya dari kelaparan.

Dari dua kisah ini terlihat jelas: privilege bukan untuk dipamerkan atau dinikmati semata, melainkan untuk diamanahkan dan dimanfaatkan demi kebaikan. Bila dikelola dengan syukur dan amanah, keistimewaan menjadi jalan kemuliaan; bila dikelola dengan kesombongan, ia berujung pada kehancuran.

Bagaimana menggunakan privilege untuk ketaatan

Privilege menjadi berarti ketika dikembalikan kepada fungsi ketaatan. Langkah awal ialah menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan segala nikmat yang ada pada kalian, maka itu berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)

Kesadaran akan asal nikmat menumbuhkan syukur dan rendah hati. Selanjutnya, praktikkannya: gunakan harta untuk sedekah, ilmu untuk membimbing, kedudukan untuk menegakkan keadilan, relasi untuk membuka peluang kebaikan, dan pengaruh untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. Dengan niat yang benar, segala fasilitas hidup dapat berubah menjadi ibadah. Allah Ta’ala memerintahkan,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)

Dengan pengelolaan yang tepat, privilege mempercepat langkah menuju kebaikan; bila disalahgunakan, ia memperberat hisab. Karena itu, privilege bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk dipertanggungjawabkan.

Semua kenikmatan adalah privilege dan amanah

Hakikatnya, semua nikmat yang Allah berikan adalah bentuk privilege—keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain dalam kadar yang sama. Privilege bukan hanya harta, jabatan, ilmu, atau popularitas; anak, pasangan yang harmonis, keluarga, kesehatan, keamanan, dan terutama hidayah serta kemudahan beribadah adalah nikmat-nikmat istimewa yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Dan Dia menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya yang lahir dan yang batin.” (QS. Luqmaan: 20)

Allah juga mengingatkan,

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian kalian pasti bakal ditanya pada hari itu tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap nikmat tidak luput dari pertanggungjawaban.

Memiliki anak adalah privilege besar sekaligus ujian. Allah berfirman,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ

“Sesungguhnya kekayaan dan anak-anak kalian adalah ujian.” (QS. At-Taghabun: 15)

Anak bisa menjadi sumber pahala berkelanjutan bila dididik dalam ketaatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa ketika seseorang meninggal, amalnya terputus kecuali tiga hal, termasuk anak saleh yang mendoakannya (HR. Muslim). Jadi anak bukan sekadar kebahagiaan dunia, tetapi juga amanah akhirat.

Pasangan hidup yang penuh ketenangan juga termasuk privilege. Allah berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian pasangan agar kalian merasa tenteram kepadanya.” (QS. Ar-Rum: 21)

Tidak semua orang menikmati ketenangan rumah tangga; maka keharmonisan itu harus dijaga dengan amanah, kasih sayang, dan keadilan.

Keamanan dan kesehatan juga termasuk privilege besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa siapa yang bangun pagi dalam keadaan aman, sehat, dan memiliki bekal makanan untuk hari itu, seakan-akan telah diberikan seluruh dunia kepadanya (HR. Tirmidzi). Banyak manusia hidup dalam ketakutan atau kebutuhan; maka hidup dalam ketenangan adalah anugerah yang sering dilupakan.

Paling utama adalah privilege hidayah. Tidak semua orang dikaruniai hati yang terbuka untuk menerima kebenaran. Allah berfirman,

يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213)

Mencintai salat, menikmati Al-Qur’an, rutin hadir di majelis ilmu, dan takut kepada Allah adalah nikmat besar yang wajib disyukuri dan dimanfaatkan.

Pada akhirnya, setiap kenikmatan adalah amanah. Setiap privilege membuka dua kemungkinan: menjadi jalan menuju surga bila disyukuri dan digunakan untuk ketaatan, atau menjadi sumber penyesalan dan hisab bila disalahgunakan dan dilalaikan.

Jadi, pertanyaan penting bukan seberapa banyak yang kita miliki, melainkan untuk apa kita menggunakannya. Karena pada hari ketika semua manusia berdiri di hadapan Allah, setiap nikmat akan berbicara, dan setiap amanah akan dimintai jawaban.

Ya Allah, jadikan setiap nikmat yang Engkau berikan kepada kami sebagai jalan menuju rida-Mu, bukan karena kelalaian dan penyesalan. Bimbing kami untuk mensyukuri dan menggunakannya dalam ketaatan kepada-Mu. Aamiin.

Wallahu Ta’ala a’lam.

Artikel Lainnya Akidah dan Sunnah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads