Privilege sebagai Amanah: Memanfaatkan Keistimewaan untuk Meningkatkan Ketaatan (Bag. 1)

Akidah dan Sunnah oleh Waktu baca 6 menit 9633x dilihat
Privilege sebagai Amanah: Memanfaatkan Keistimewaan untuk Meningkatkan Ketaatan (Bag. 1)

Bagikan Postingan

Dalam hidup ini, tidak semua orang memulai dari kondisi yang sama. Sebagian lahir dalam keluarga terpandang, sebagian lain tumbuh dalam kesederhanaan. Ada yang mendapat akses pendidikan berkualitas, sementara lainnya harus berjuang sejak kecil. Beberapa memiliki jaringan luas, posisi strategis, pengaruh sosial, dan kemudahan finansial.

Sekarang sering digunakan istilah privilege untuk menggambarkan keistimewaan yang berasal dari latar keluarga, ekonomi, pendidikan, relasi, atau status sosial.

Dalam perspektif Islam, privilege bukan sekadar keberuntungan belaka. Ia merupakan ujian dan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ

“Dialah yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi dan meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian terhadap apa yang Dia berikan kepada kalian.” (QS. Al-An'am: 165)

Perbedaan derajat bukan semata keistimewaan; hakekatnya itu merupakan ujian. Allah pun mengingatkan,

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian pada hari itu kalian pasti bakal ditanya tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)

Privilege bukan agunan kemuliaan

Banyak yang bangga terhadap keistimewaan yang dimiliki: jabatan, harta, pendidikan, atau jaringan. Namun kemuliaan yang hakiki di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaan, bukan oleh status duniawi semata,

`إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Dengan demikian, keistimewaan bukan ukuran kemuliaan; yang menentukan adalah bagaimana kelebihan itu dipakai.

Harta sebagai privilege

Kekayaan termasuk privilege besar. Bagi sebagian orang, memiliki harta melimpah dianggap puncak keistimewaan. Padahal, bagi umat Islam, harta juga termasuk ujian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن لكل أُمَّة فتنة وفِتنة أُمَّتي: المال

“Setiap umat mempunyai tuduhan (ujian), dan tuduhan umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ahmad)

Harta adalah nikmat yang mesti dipertanggungjawabkan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan bahwa pada hari kiamat setiap hamba akan ditanya tentang umur, ilmu, harta, dan tubuhnya, termasuk asal dan penggunaan harta tersebut:

لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يسألَ عن عمرِهِ فَما أفناهُ ، وعن عِلمِهِ فَمَ فعلَ ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وعن جسمِهِ فَمَ أبلاهُ

“Tidak bakal bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari hariakhir sampai dia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa dia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah dia amalkan; tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa dia belanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.” (HR. Tirmidzi)

Kekayaan memberikan peluang besar untuk beramal: sedekah, membangun fasilitas umum, mendukung pendidikan, membantu fakir miskin, dan membiayai dakwah. Allah menjanjikan balasan berlipat bagi harta yang dikeluarkan di jalan-Nya,

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah itu seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Dengan demikian, privilege berupa harta dapat menjadi jalan menuju rahmat jika dipergunakan untuk kebaikan, namun bisa menjadi sebab kerusakan bila melahirkan kesombongan dan cinta duniawi. Allah mengingatkan bahaya kikir terhadap nikmat-Nya,

وَلَا يَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ ءَائَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا۟ بِهِۦ يَوْمَ ٱلْقًَِٰمَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰبِولَابِمَةٍ

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan kekayaan yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah jelek bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu bakal dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang Anda kerjakan.” (QS. Ali 'Imran: 180)

Ilmu dan pendidikan sebagai privilege

Pendidikan di masa modern termasuk privilege besar—tak semua memiliki akses yang sama terhadap pendidikan bermutu. Orang yang mendapat keistimewaan ini seharusnya memakainya secara bertanggung jawab. Allah Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah: apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)

Allah juga menjanjikan kenaikan derajat bagi mereka yang beragama dan mereka yang diberi ilmu,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah bakal meninggikan derajat orang-orang yang beragama dan orang-orang yang diberi pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Tetapi ilmu tidak untuk pamer. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan bahwa ilmu yang dipelajari semata untuk keuntungan duniawi tidak akan menolong di akhirat,

من تعلَّم علمًا مما يبتغى به وجهَ اللهِ تعالى ، لا يتعلَّمُه إلا ليُصيبَ به عرضًا من الدنيا لم يجِدْ عَرْفَ الجنةِ يومَ القيامةِ . يعني ريحَها

“Barang siapa mempelajari suatu pengetahuan yang semestinya dituntut untuk mencari wajah Allah (karena Allah), tetapi dia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan kepentingan dunia, maka dia tidak bakal mencium aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Privilege pengetahuan seharusnya melahirkan kepedulian dan kerendahan hati, bukan kesombongan. Seorang berilmu idealnya sabar mengajar, lembut menasihati, dan tulus melayani umat. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

المؤمن يألف ويؤلف ولا خير فَمن لا يألف ولا يؤلف وخير الناس أنفعهم للناس

“Seorang mukmin itu mudah bergaul dan disenangi (mampu menjalin kedekatan dengan orang lain). Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bisa berbaur dan tidak disukai. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling berfaedah bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani)

Penerapan ini berlaku pada semua cabang ilmu, bukan hanya agama: ilmu kedokteran harus melahirkan empati, ilmu hukum mendorong keadilan, ekonomi seharusnya mengurangi ketimpangan, pendidikan membentuk akhlak, dan teknologi memudahkan kehidupan tanpa merusak.

Ilmu ialah cahaya; niat dan cara penggunaan yang menentukan apakah cahaya itu menerangi atau menjadi sumber kesombongan. Orang berilmu yang abai pada kemaslahatan sesama belum memahami hakikat ilmunya.

Oleh karena itu, mereka yang diberi kelebihan ilmu wajib introspeksi:

Sudahkah ilmu saya memudahkan hidup orang lain?

Sudahkah ilmu ini menyelesaikan masalah, meringankan beban, atau membuka kesempatan kebaikan?

Ataukah hanya jadi kebanggaan pribadi dan sumber pujian?

Privilege kedudukan dan kedudukan adalah amanah yang berat

Salah satu privilege terbesar adalah kedudukan dan jabatan—baik sebagai pejabat, pemimpin, tokoh masyarakat, pengusaha berpengaruh, ataupun figur publik. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan pentingnya memandang jabatan sebagai amanah,

إِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا

“Sesungguhnya itu adalah amanah; dan pada hari kiamat, dia bakal menjadi kehinaan dan penyesalan, selain bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan tanggungjawab yang ada di dalamnya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits lain, Rasulullah mengingatkan bahwa setiap orang adalah pemimpin atas sesuatu dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bakal dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Banyak orang mengejar jabatan karena kehormatan dan fasilitasnya, padahal di balik itu ada beban tanggung jawab besar. Kekuasaan bisa menjadi jalan menuju keberkahan bagi yang adil, amanah, dan takut kepada Allah, tetapi bisa berujung kehancuran bagi yang zalim, sombong, dan menyalahgunakannya.

Jabatan seharusnya dipahami sebagai kesempatan untuk melayani, menegakkan keadilan, dan memperluas manfaat, bukan sekadar dilayani atau memperkaya diri.

Siapa yang diberi privilege kekuasaan perlu bertanya: apakah posisi ini mendekatkan saya kepada Allah atau malah menjauhkan? Apakah jabatan ini dipergunakan untuk keadilan atau untuk kepentingan pribadi?

Dengan kedudukan, seseorang memiliki peluang besar untuk mencegah kezaliman dan menegakkan kebaikan. Allah memerintahkan keadilan dan kebajikan,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan.” (QS. An-Nahl: 90)

Rasulullah memberikan gambaran tentang pemimpin yang mendapat naungan khusus di hari kiamat bagi mereka yang menjalankan amanah dengan baik; itu menunjukkan betapa besar ganjaran bagi pemimpin yang adil dan bertanggung jawab.

Artikel Lainnya Akidah dan Sunnah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads