Dialog antara orang mukmin dan pemilik kebun kafir ini membuka pandangan tentang realita kenikmatan dunia. Kenikmatan itu Allah ﷻ karuniakan dari sisi-Nya tanpa ada kuasa sedikitpun di sisi hamba. Oleh lantaran itu, mudah sekali bagi Allah ﷻ untuk membalikkan kenikmatan menjadi derita penuh siksa.
Akan tetapi, sebuah balasan tidak diturunkan melainkan mengandung hikmah. Karena balasan adalah bagian dari perbuatan Allah ﷻ yang penuh pelajaran dan kebaikan. Dialah Al-Hakim dan Al-Alim, begitupula Dialah Al-Lathif. Maka, tidak ada keraguan bagi kita untuk dapat mengambil hikmah kehidupan lainnya dari sepotong kisah ini.
Pertemanan lantaran urusan bumi tidak bakal setia
Setelah Allah ﷻ turunkan balasan dari langit, maka seluruh kekayaan barang yang dibanggakan si pemilik kebun porak-poranda dan betul-betul hilang. Bahkan bukan hanya kekayaan bendanya saja, tetapi para pengikut dan anak-anaknya yang dia banggakan pun meninggalkannya. Allah ﷻ berfirman,
وَلَمْ تَكُنْ لَهُ فِئَةٌ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنْتَصِرًا
“Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang bakal menolongnya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat memihak dirinya.” (QS. Al-Kahfi: 43)
Artinya, kata para mahir tafsir seperti Ath-Thabari dan Al-Qurthubi, adalah tidak ada yang bisa menolongnya jika balasan Allah ﷻ telah diberikan kepadanya. Kami mengambil pandangan bahwa ketika Allah ﷻ memberikan azab, semua pertemanan dan anak-anak yang dibanggakannya tidak lagi di sisinya. Ini adalah corak perginya kerabat yang dibanggakan, ialah ketika tidak ada lagi faedah yang dirasa. Habis manis sepah dibuang. Jika di kondisi bumi saja sudah demikian, maka gimana lagi dengan keadaan di alambaka penuh hisab yang berat apalagi azabnya yang dahsyat?!
Allah ﷻ berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ
“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu. Sesungguhnya kegoncangan hari hariakhir itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah), pada hari (ketika) Anda memandang kegoncangan itu, semua wanita yang menyusui anaknya lalai terhadap anak yang disusuinya, dan semua wanita yang mengandung gugur kandungan. Kamu memandang manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Akan tetapi adzab Allah itu sangat keras.” (QS. Al-Hajj:1-2)
Jangankan seorang follower kepada idolanya, apalagi seorang ibu kepada bayinya saja dapat dia tinggalkan ketika hariakhir telah ditegakkan. Padahal, kasih ibu kepada anaknya sangat dikenal sebagai rasa kasih paling tinggi. Terlebih lagi ketika anaknya lemah seperti dalam keadaan tetap bayi. Terlebih lagi dalam keadaan tetap disusui, sungguh cinta ibu berada pada puncaknya kepada anak-anaknya. Namun, di masa itu, ibu pun dapat meninggalkan anak yang disusuinya.
Allah ﷻ juga gambarkan dalam firman-Nya,
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 34-37)
Allah ﷻ sebutkan bahwasanya di hari alambaka semua orang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tidak terpikirkan urusan orang lain. Maka, gimana lagi dengan seorang yang mengikuti alias menyenangi hanya lantaran argumen duniawi?! Tentu perihal ini lebih lemah lagi. Ikatan biologis saja dapat terputus, apalagi ikatan yang muncul dari rasa kagum kepada harta.
Ini membikin emosi si pemilik kebun jauh lebih terluka. Ia tertipu dengan kecintaan orang-orang yang mengikutinya. Ia tak sadar bahwa kecintaan itu dikarenakan kekayaan yang dititipkan kepadanya, bukan lantaran kemuliaan dirinya. Ini pula menjadi jawaban atas keangkuhannya, bahwa dirinya diberikan nikmat seperti pengikut yang setia dikarenakan dirinya yang mulia.
Tidak ada argumen bagi kita sombong di hadapan Allah ﷻ dan berbesar hati dengan apa yang kita miliki. Karena semuanya bakal sirna dengan mudahnya. Bahkan sebelum hari hariakhir ditegakkan, ujian bumi yang biasa-biasa saja bisa membikin semua orang meninggalkan kita. Hal ini juga menjadi pelajaran untuk tidak berjuntai dengan manusia.
Baca juga: Seluk Beluk Neraka
Azab yang menarik calon mahir neraka menuju surga
Allah ﷻ menggambarkan keterpurukan si pemilik kebun kafir dengan luar biasanya. Keadaannya berbalik dengan begitu cepatnya dan begitu dalamnya. Namun, sungguh bagus apa yang dituliskan As-Si’dy dalam tafsirnya (5: 963) yang dinukilkan sebagiannya dalam Tafsir Al-Quran Tadabur wa Amal,
ولا يستبعد من رحمة الله ولطفه أن صاحب هذه الجنة – التي أحيط بها – تحسنت حاله، ورزقه الله الإنابة إليه، وراجع رشده، وذهب تمرده وطغيانه، بدليل أنه أظهر الندم على شركه بربه، وأن الله أذهب عنه ما يطغيه، وعاقبه في الدنيا، وإذا أراد الله بعبد خيرا عجل له العقوبة في الدنيا، وفضل الله لا تحيط به الأوهام والعقول، ولا ينكره إلا ظالم جهول.
“Bukan tidak mungkin, berkah rahmat dan kebaikan Allah, kondisi pemilik kebun menjadi membaik meski dengan segala yang menghimpitnya, Allah memberinya tobat, dia kembali sadar, dan lenyaplah pembangkangan serta kezalimannya. Buktinya, dia menyesali perbuatannya yang menyekutukan Rabbnya, dan Allah menghapuskan darinya dosa-dosanya, lampau menghukumnya di dunia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia bakal mempercepat hukumannya di dunia. Sedangkan keistimewaan Allah tidak bisa dijangkau oleh khayalan dan akal, dan tidak ada yang mengingkarinya selain orang yang kejam dan bodoh.”
Keterangan As-Si’dy ini memberikan hikmah bahwasanya balasan itu dapat memberikan faedah apalagi kepada seorang yang kafirnya luar biasa. Tentu, ini semua adalah karunia Allah ﷻ. Azab yang diberikan dan menghimpitnya, tak menghalangi Allah ﷻ untuk menerima tobat si pemilik kebun. Justru si pemilik kebun bisa saja terdorong menjadi baik karena balasan itu mengingatkan dirinya untuk bertobat.
Terlebih lagi, Allah ﷻ mengaruniakan si pemilik kebun dengan kehadiran temannya yang mukmin dan berani mengutarakan kebenaran. Seseorang yang dikelilingi oleh teman-teman muslim yang beragama dan kuat tauhidnya serta senantiasa membujuk kepada kebaikan adalah corak rahmat dan kebaikan Allah ﷻ. Ini adalah jalan yang mengantarkan kepada surga yang begitu menyenangkan. Sebab perjalanan itu diantarkan oleh teman-teman satu circle.
As-Si’dy memberikan kesempatan pertobatan dan keselamatan kepada pemilik kebun berasas indikasi yang ada. Indikasi yang ada di antaranya adalah penyesalan yang teramat di sisinya. Ia sangat menyesal kenapa dia menyepelekan Allah ﷻ. Hal ini juga didukung bahwasanya Allah ﷻ mempunyai rahmat yang tiada terjangkau oleh logika pikiran. Rahmatnya mendahului murkanya. Maka, ini adalah konklusi yang secara umum dapat diterima. Sekaligus memberikan faidah bahwasanya selalu ada kesempatan bagi siapapun untuk bertobat kepada Allah ﷻ.
Kalimat pamungkas
Di bagian akhir, Allah ﷻ tutup kisahnya dengan firman-Nya,
هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ هُوَ خَيْرٌ ثَوَابًا وَخَيْرٌ عُقْبًا
“Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.” (QS. Al-Kahfi: 44)
Allah ﷻ menegaskan kebenaran atas diri-Nya adalah satu-satunya Zat yang bisa memberikan pertolongan di hari akhirat. Semuanya tidak mempunyai keahlian menolong, selain perihal itu bersandar pada pertolongan Allah ﷻ. Tiada satupun syafaat yang tersampaikan selain sudah diizinkan oleh Allah ﷻ.
Maka, rangkaian perbincangan ini ditutup dengan sangat apik. Sebuah kalimat pamungkas yang menegaskan pernyataan yang benar, sekaligus menyimpulkan seluruh cerita semuanya. Tidaklah kita berambisi selain jawaban surga di akhirat. Dan tidaklah kita mengharapkan selain perlindungan Allah ﷻ dari jawaban berupa neraka yang menyala-nyala.
Keseluruhan perbincangan mukmin dan kafir tentang kekayaan memberikan faidah di antaranya:
Pertama: Gaya kafir dari era ke era selalu mempunyai benang merah kesombongan lantaran ketidaktahuannya bakal prinsip dunia.
Kedua: Cara berargumentasi mukmin: mengingatkan prinsip manusia yang diciptakan dari kehinaan dan kerendahan, ialah dari mani air yang hina. Dalam proses dari air buruk menjadi makhluk sempurna, itu semua terjadi lantaran kuasa Allah ﷻ.
Ketiga: Mukmin kudu pede mendakwahkan kebenaran, sebagaimana orang kafir pede dengan kekufurannya. Lihatlah ketika mukmin menyerukan, “Mengapa engkau tidak bilang masyaAllah?”
Keempat: Muslim kudu punya izzah di hadapan orang kafir bahwa dia tidak mengandalkan dan menyandarkan kekayaan, selain kepada Allah ﷻ.
Kelima: Jangan takabur hanya lantaran mempunyai dunia. Kesombongan kafir lantaran mempunyai bumi tidak ada gunanya lantaran tidak ada yang dapat memihak hamba selain Allah.
Keenam: Optimis dengan rezeki bumi atas ketaatan yang Allah berikan. Dengan angan penuh minta sebagaimana yang disebutkan dalam ayat.
Ketujuh: Mukmin boleh mendoakan keburukan kepada orang yang terlampau sombong dan kufur kepada Allah ﷻ.
Semoga Allah ﷻ senantiasa memampukan kita untuk menggali faidah dari kisah dan permisalan yang disampaikan dalam kitab-Nya. Semoga Allah ﷻ menjadikan pemahaman kami betul dan selamat dari pemahaman yang salah. Semoga Allah ﷻ merahmati para ustadz yang telah mendahului kita menambang emas Islam. Semoga Allah ﷻ meneguhkan lisan kita dalam mendialogkan kepercayaan kepada orang-orang.
[Selesai]
KEMBALI KE BAGIAN 2
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·