Tantangan Dakwah Tauhid

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Bismillah.

Salah satu perkara nan membikin banyak orang mundur dari perjuangan dakwah adalah lantaran memandang begitu besar halangan dan tantangan nan kudu dia hadapi. Ada nan takut kehilangan penggemar. Ada nan cemas berkurang rezekinya. Ada nan takut kehilangan kedudukan dan kedudukannya di masyarakat.

Apakah tantangan dan halangan nan dihadapi manusia masa sekarang tidak ada di masa lalu? Saudaraku nan dirahmati Allah, andaikan kita mencermati ayat-ayat Al-Qur’an, bakal kita temukan bahwa para nabi dan rasul adalah barisan terdepan pejuang dakwah nan kudu berbenturan dengan tantangan dan hambatan. Hidup mereka tidak pernah sunyi dari ujian dan cobaan. Ada nabi nan dibunuh, sebagaimana nabi-nabi bani Israil. Ada nabi nan dicemooh dan dimusuhi oleh seluruh kaumnya sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan, tidak ada seorang pun rasul, melainkan kaumnya menjulukinya dengan tukang sihir alias orang gila (gendheng, jawa).

Allah berfirman,

كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

“Demikianlah, tidaklah datang kepada orang-orang sebelum mereka seorang rasul, melainkan mereka berkata, ‘Dia adalah tukang sihir, alias orang gila.’” (QS. Adz-Dzariyat: 52)

Ini merupakan corak intermezo nan Allah berikan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahwa keberadaan beliau nan diganggu dan disakiti tidaklah sendirian, apalagi para nabi terdahulu pun demikian. Mereka dicela, dicemooh, disakiti, dan dimusuhi oleh kaumnya.

Tidak jauh dari perihal itu, apa nan dapat kita jumpai di tengah medan dakwah hari ini. Orang-orang nan gencar membujuk kepada tauhid dan pemurnian iktikad kerapkali dijuluki dan digelari dengan segudang cemoohan. Ada nan menyebutnya sebagai radikal, wahabi, ultra-konservatif, kaku, kaki tangan Amerika, penjilat penguasa, dan sebagainya.

Imam Ahmad rahimahullah telah menggambarkan keadaan ini dengan berkata,

فما أحسن أثرهم على الناس، وأقبح أثر الناس عليهم

“Betapa bagus pengaruh nan mereka (para ulama) berikan bagi manusia, tetapi sangat jelek pengaruh/tanggapan dari manusia terhadap mereka.” (Lihat Mukadimah kitab Ar-Radd ‘alal Jahmiyah, hal. 55, Syamilah.)

Lihatlah dakwah Nabi Nuh ‘alaihis salam, bertahun-tahun lamanya, apalagi ratusan tahun, tetapi tidak ada nan memenuhi seruannya, selain sedikit manusia. Mereka pun mengejeknya atas apa nan dia lakukan atas perintah Allah kepadanya. Lihatlah dakwah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam nan kudu diusir dari rumahnya, dimusuhi oleh masyarakat pemuja berhala, hingga dibakar dengan api nan menyala-nyala. Akan tetapi, mereka kandas lantaran Allah menyelamatkan Nabi dan kekasih-Nya.

Demikianlah, keadaan perjuangan dakwah keagamaan di sepanjang perjalanan sejarah. Tidak sedikit tantangan dan halangan nan kudu mereka jumpai. Akan tetapi, perihal itu tidaklah membikin mereka mundur, patah semangat, merubah haluan, alias meninggalkan medan pertempuran.

Allah berfirman,

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوْا عَلٰى مَا كُذِّبُوْا وَاُوْذُوْا حَتّٰٓى اَتٰىهُمْ نَصْرُنَا

“Sungguh, para rasul sebelum Anda telah didustakan, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan nan mereka alami, dan mereka pun disakiti sampai datanglah kepada mereka pertolongan Kami.” (QS. Al-An’am: 34)

Allah berfirman,

وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِىٌّ عَزِيزٌ  ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّـٰهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ أَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَمَرُوا۟ بِٱلْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا۟ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَـٰقِبَةُ ٱلْأُمُورِ

“Dan sungguh Allah betul-betul bakal menolong orang nan memihak (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Mereka itu adalah orang-orang nan andaikan kami berikan keteguhan di atas muka bumi ini, mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, memerintahkan nan makruf dan melarang dari nan mungkar. Dan milik Allahlah akhir dari segala urusan.” (QS. Al-Hajj: 40-41)

Ayat nan mulia ini juga menunjukkan bahwa barangsiapa nan mengaku memihak kepercayaan Allah, namun tidak mempunyai ciri-ciri seperti nan disebutkan (mendirikan salat, menunaikan zakat, memerintahkan nan makruf dan melarang nan mungkar), maka dia adalah pendusta. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 540.)

Dengan demikian, kesabaran di jalan Allah merupakan bekal perjuangan setiap penggerak dakwah Sunnah di tengah masyarakat. Janganlah mereka ragu bahwa pertolongan dari Allah merupakan janji bagi orang-orang nan tulus dan serius memihak agama-Nya. Berbagai tantangan tidak boleh membikin mereka surut dan padam. Justru dengan ujian demi ujian, bakal semakin memperkuat kesabaran dan tingkat ketahanan mereka dalam menghadapi ujian hidup.

Hidup di bumi tidaklah sunyi dari ujian dan cobaan. Oleh karena itu, hendaknya setiap diri berjuang dan bersungguh-sungguh dalam berupaya menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan demi menggapai kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ جَـٰهَدُوا۟ مِنكُمْ وَيَعْلَمَ ٱلصَّـٰبِرِينَ

“Apakah kalian mengira bahwa kalian bakal begitu saja masuk surga, sedangkan Allah belum mengetahui (melihat) siapakah orang-orang nan bersungguh-sungguh di antara kalian dan untuk mengetahui siapakah orang-orang nan sabar?” (QS. Ali ‘Imran: 142)

Dengan ujian inilah, bakal tampak siapakah orang nan betul keimanannya dengan orang nan hanya berpura-pura. Allah Ta’ala berfirman,

 وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَـٰذِبِينَ

“Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka betul-betul Allah bakal mengetahui (membuktikan) siapakah orang-orang nan jujur dan bakal mengetahui siapakah orang-orang nan dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 3)

Allah Ta’ala berfirman,

 وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌۭ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang nan mendakwahkan kepada kebaikan, memerintahkan nan makruf, dan melarang nan mungkar. Mereka itulah sebenarnya orang-orang nan beruntung.” (QS. Ali-’Imran: 104)

Ibnu Katsir rahimahullah menyebut riwayat dari Abu Ja’far Al-Baqir setelah membaca ayat, “Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang nan mendakwahkan kepada kebaikan.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang dimaksud kebaikan itu adalah mengikuti Al-Qur’an dan Sunnahku.” (HR. Ibnu Mardawaih. Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2, hal. 66.)

Baca juga: Tanggapan Kaum Musyrikin terhadap Dakwah Tauhid

Meninggalkan dakwah membawa petaka

Allah Ta’ala berfirman tentang kedurhakaan orang-orang kafir Bani Israil,

 لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ  كَانُوا۟ لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍۢ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu dikarenakan kemaksiatan mereka dan perbuatan mereka nan selalu melampaui batas. Mereka tidak melarang kemungkaran nan dilakukan oleh sebagian di antara mereka. Amat jelek perbuatan nan mereka lakukan itu.” (QS. Al-Ma’idah: 78-79)

Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Tindakan mereka itu (mendiamkan kemungkaran) menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah, dan kemaksiatan mereka anggap sebagai perkara nan sepele. Seandainya di dalam diri mereka terdapat pengagungan terhadap Rabb mereka, niscaya mereka bakal merasa berprasangka lantaran larangan-larangan Allah dilanggar dan mereka pasti bakal marah lantaran mengikuti kemurkaan-Nya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241)

Di antara akibat mendiamkan kemungkaran adalah kemungkaran tersebut semakin menjadi-jadi dan bertambah merajalela. Syekh As-Sa’di telah memaparkan akibat jelek ini, “Sesungguhnya perihal itu (mendiamkan kemungkaran) menyebabkan para pelaku kemaksiatan dan kefasikan menjadi semakin lancang dalam memperbanyak perbuatan kemaksiatan tatkala perbuatan mereka tidak dicegah oleh orang lain, sehingga keburukannya semakin menjadi-jadi. Musibah diniah dan duniawi nan timbul pun semakin besar karenanya. Hal itu membikin mereka (pelaku maksiat) mempunyai kekuatan dan ketenaran. Kemudian, nan terjadi setelah itu adalah semakin lemahnya daya nan dimiliki oleh ahlul-khair (orang baik-baik) dalam melawan ahlusy-syarr (orang-orang jelek), sampai-sampai suatu keadaan di mana mereka tidak sanggup lagi mengingkari apa nan dulu pernah mereka ingkari.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241.)

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Zat nan jiwaku berada di tangan-Nya! Benar-benar kalian kudu memerintahkan nan makruf dan melarang dari nan mungkar, alias Allah bakal mengirimkan untuk kalian balasan dari sisi-Nya kemudian kalian pun bermohon kepada-Nya, namun permohonan kalian tak lagi dikabulkan.” (HR. Ahmad. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Sahih Al-Jami’, sabda no. 7070. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2, hal. 66.)

Allah berfirman,

وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌۭ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا ۙ ٱللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًۭا شَدِيدًۭا ۖ قَالُوا۟ مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Dan ingatlah ketika suatu kaum di antara mereka berkata, ‘Mengapa kalian tetap menasihati suatu kaum nan bakal Allah binasakan alias Allah bakal mengazab mereka dengan siksaan nan banget keras?’ Maka, mereka menjawab, ‘Agar ini menjadi argumen bagi kami di hadapan Rabb kalian dan semoga saja mereka mau kembali bertakwa.’” (QS. Al-A’raf: 164)

Syekh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Inilah maksud paling utama dari pengingkaran terhadap kemungkaran. Yaitu, agar menjadi argumen untuk menyelamatkan diri (di hadapan Allah), serta demi menegakkan hujah kepada orang nan diperintah dan dilarang, dengan angan semoga Allah berkenan memberikan petunjuk kepadanya sehingga dengan begitu dia bakal mau melaksanakan tuntutan perintah alias larangan itu.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 307.)

Syekh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah memaparkan, “Pada masa kita sekarang ini, andaikan seorang muslim membujuk saudaranya kepada akhlak, kejujuran, dan amanah, niscaya dia tidak bakal menjumpai orang nan memprotesnya. Namun, andaikan dia bangkit membujuk kepada tauhid nan didakwahkan oleh para rasul, ialah untuk bermohon kepada Allah semata dan tidak boleh meminta kepada selain-Nya apakah itu para nabi maupun para wali nan notabene adalah hamba-hamba Allah (makhluk, tidak layak disembah, pent), maka orang-orang pun bangkit menentangnya dan menuduh dirinya dengan beragam tuduhan dusta. Mereka pun menjulukinya dengan julukan ‘Wahabi’ agar orang-orang beralih dari dakwahnya. Apabila mereka mendatangkan kepada kaum itu ayat nan mengandung (ajaran) tauhid muncullah komentar, ‘Ini adalah ayat Wahabi’! Kemudian andaikan mereka membawakan hadis, ‘..Apabila Anda minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.’ sebagian orang itu pun mengatakan, ‘Ini adalah hadisnya Wahabi’!…” (lihat Da’watu Asy-Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab, hal. 12-13.)

Salah satu argumen nan menunjukkan sungguh pentingnya memprioritaskan dakwah kepada manusia untuk beragama kepada Allah (baca: dakwah tauhid) adalah lantaran inilah tujuan utama dakwah, ialah untuk mengentaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah semata. Selain itu, tidaklah ada kerusakan dalam urusan bumi nan dialami umat manusia, melainkan karena utamanya adalah kerusakan nan mereka lakukan dalam perihal ibadah mereka kepada Rabb Jalla Wa‘ala. (Lihat Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Ad-Da’wah ‘inda Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 249 oleh ‘Abid bin Abdullah Ats-Tsubaiti, penerbit Dar Ibnul Jauzi, cet I, 1428 H.)

Demikian sedikit kumpulan catatan nan dapat kami sajikan dengan taufik dari Allah semata. Semoga berfaedah bagi penulis dan segenap pembaca. Wallahul muwaffiq.

Baca juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?

***

Yogyakarta, 17 Ramadan 1445 H / 28 Maret 2024

Ketua Umum Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah