Jakarta -
Bunda dan bayi tidak kudu tidur di ranjang yang sama agar proses menyusui tetap melangkah nyaman. Bahkan, bayi dianjurkan mempunyai tempat tidur sendiri yang aman, meski tetap berada di bilik yang sama dengan orang tua.
Kondisi ketika bayi tidur di tempat tidur terpisah tetapi berada dalam bilik yang sama dengan orang tua disebut berbagi bilik alias room-sharing. Tempat tidur bayi bisa berupa ranjang bayi, portacot, keranjang bayi, baby box, alias tempat tidur bayi lain yang memenuhi standar keamanan.
Berbagi bilik berbeda dengan co-sleeping. Pada co-sleeping alias berbagi permukaan tidur, bayi tidur di permukaan yang sama dengan orang lain. Sementara pada room-sharing, bayi tetap mempunyai permukaan tidur sendiri.
Bagi Bunda yang sedang menyusui, pengaturan seperti ini justru dapat membantu membikin sesi menyusui malam hari lebih praktis sekaligus menjaga bayi tetap berada di lingkungan tidur yang aman. Berikut tips jika Bunda tidur pisah ranjang dengan bayi di kamar.
Mengapa berbagi bilik dengan bayi dianjurkan?
Menurut Raising Children Network, berbagi bilik dengan bayi, tetapi menggunakan tempat tidur yang terpisah, mempunyai faedah bagi keamanan bayi.
Para mahir menyarankan agar bayi tidur di bilik yang sama dengan orang tua selama tahun pertama kehidupannya alias setidaknya selama enam bulan pertama jika memungkinkan.
Pengaturan ini diketahui dapat menurunkan akibat sudden unexpected death in infancy (SUDI), termasuk sudden infant death syndrome (SIDS) dan kejadian tidur fatal lainnya.
Berbagi bilik dengan bayi juga mempunyai faedah lainnya. Cara ini dapat memudahkan orang tua untuk merespons dengan sigap ketika bayi terbangun dan mempermudah menyusui pada malam hari. Berbagi bilik juga dapat membantu membangun ikatan dengan bayi serta memahami tanda-tanda alias isyarat yang menunjukkan kebutuhan bayi.
Tips menyusui jika Bunda tidur pisah ranjang dengan bayi di Kamar
Berikut beberapa tips menyusui jika Bunda tidur pisah ranjang dengan Si Kecil di bilik mengutip laman Raisingchildren dan CDC.
1. Letakkan tempat tidur bayi dekat dengan ranjang Bunda
Bila memungkinkan, letakkan ranjang bayi di sisi tempat tidur Bunda sehingga bayi mudah terlihat dan dijangkau. Posisi ini membikin Bunda tidak perlu melangkah jauh ketika bayi mulai menunjukkan tanda lapar pada malam hari. Bunda juga dapat lebih sigap merespons bayi yang terbangun untuk menyusu.
Mengutip laman CDC, mendukung rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP) agar bayi tidur di bilik yang sama dengan orang tua, tetapi pada permukaan tidur yang terpisah. Idealnya, pengaturan ini dilakukan setidaknya sampai bayi berumur 6 bulan.
2. Pastikan bayi mempunyai tempat tidur sendiri yang aman
Tidur satu bilik bukan berfaedah bayi kudu tidur di kasur yang sama dengan Bunda. Bayi sebaiknya mempunyai tempat tidur sendiri dengan permukaan yang rata, kokoh dan tidak miring. Area tidur juga sebaiknya hanya berisi kasur dan seprai yang terpasang dengan baik, tanpa bantal, selimut longgar, boneka, bumper alias barang lunak lainnya.
Pengaturan ini krusial terutama bagi Bunda yang sering menyusui pada malam hari. Setelah selesai menyusu, bayi dapat kembali diletakkan di tempat tidurnya sendiri.
Perhatikan tanda-tanda awal bayi lapar, seperti mulai bergerak, membuka mulut, mencari puting, memasukkan tangan ke mulut alias membikin bunyi kecil.
Menyusui berasas tanda-tanda lapar membantu Bunda merespons kebutuhan bayi dengan lebih cepat. UNICEF juga merekomendasikan orang tua untuk mengenali dan merespons isyarat bayi mengenai kebutuhan menyusu.
Pada malam hari, respons yang sigap juga dapat membikin sesi menyusui terasa lebih tenang lantaran bayi belum terlanjur menangis keras.
4. Waspadai akibat tertidur saat menyusui
Ini menjadi salah satu perihal krusial bagi Bunda yang menyusui bayi pada tengah malam. Rasa kantuk setelah terbangun beberapa kali merupakan perihal yang sangat mungkin terjadi. Karena itu, Bunda perlu mengantisipasi kemungkinan tertidur ketika menyusui.
Jika Bunda merasa sangat mengantuk, hindari menyusui bayi di sofa alias bangku empuk. Tertidur berbareng bayi di sofa alias bangku sangat berisiko lantaran posisi dan alas dapat menghalang jalan napas bayi. Bila Bunda tertidur saat menyusui, begitu terbangun segera pindahkan bayi kembali ke tempat tidur bayi yang kondusif dan terpisah.
5. Periksa bayi secara berkala
Pastikan Bunda periksa bayi secara rutin untuk memastikan dia tetap dalam posisi telentang serta kepala dan wajahnya tidak tertutup. Misalnya, periksa bayi saat orang tua tetap terjaga, ketika bakal tidur, dan jika terbangun pada malam hari.
6. Setelah menyusu, kembalikan bayi ke tempat tidurnya
Setelah bayi selesai menyusu dan tampak mengantuk, letakkan kembali bayi di tempat tidurnya. Pastikan bayi tidur dalam posisi telentang, di atas permukaan yang rata dan kokoh. Area tidur kudu bebas dari barang yang berpotensi menutupi wajah alias mengganggu pernapasan bayi.
Bunda tidak perlu cemas bahwa bayi bakal menjadi kurang dekat hanya lantaran tidur di tempat berbeda. Justru, bayi tetap berada dekat dengan Bunda lantaran tetap dalam satu kamar.
7. Jangan biarkan bayi tidur di tempat yang tidak aman
Ketika bayi sudah dapat bergulir dengan mudah dari posisi telentang ke tengkurap dan kembali lagi, biasanya sekitar usia 4–6 bulan, bayi umumnya sudah mempunyai keahlian untuk bergerak dan melindungi jalan napasnya sendiri ketika berada di lingkungan tidur yang aman.
Meski begitu, Bunda tetap perlu selalu meletakkan bayi dalam posisi telentang ketika mulai tidur. Jangan menidurkan bayi di bouncer, hammock, bean bag, sofa, alias bantal. Jika bayi tertidur di bangku mobil alias kereta dorong, segera pindahkan bayi dan letakkan di lingkungan tidur yang kondusif sesegera mungkin.
Begitulah pembahasan tentang tips jika Bunda tidur pisah ranjang dengan bayi di kamar. Semoga informasinya bermanfaat.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)