Sebagai orang tua, kita mau anak tumbuh menjadi pribadi yang baik. Kita mau mereka berjalan sopan dan menghargai orang lain. Anak-anak perlu belajar metode bersikap segan agar mereka dapat membangun hubungan yang sehat dengan kawan sebaya, orang-orang di sekolah dan lingkungan, dan personel keluarga. Anak-anak yang tidak segan cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang juga tidak hormat.
Namun, rupanya mengajari tentang rasa segan pada anak itu agak tricky bagi orang tua. Intinya, konsep-konsep tidakkonkret seperti "rasa hormat" tidak memiliki arti bagi anak-anak, Bunda. Hingga usia sekitar 12 tahun, proses berpikir kita sebagian besar berkarakter konkret.
Otak kita belum mengembangkan kompleksitas neurologis yang memadai untuk dapat memahami konsep-konsep yang berkarakter tidakkonkret maupun tidak berbentuk secara penuh.
"Jika Anda mencoba berbicara dengan anak kecil mengenai ide seperti "martabat", misalnya, kemungkinan besar pembicaraan tersebut tidak akan membuahkan hasil. Paling banter, Anda cuma akan mendapatkan respons berupa pengulangan kata-kata yang sebenarnya tidak dipahami oleh anak tersebut," ujar Terapis Pernikahan dan Keluarga berlisensi, memiliki gelar Magister di sektor Psikologi Konseling dan gelar Ph.D. di sektor Perkembangan Manusia, Gabriel Young, Ph.D., dikutip dari Psychology Today.
Akan tetapi, kita dapat mencapai tujuan komunikasi jika menyampaikan sesuatu yang berkarakter konkret dan jelas. Seperti ini misalnya, Bunda melihat Si Kecil menjulurkan lidah. Bunda bisa mengajarkan, "Saat Anda menjulurkan lidah ke arah anak lain, itu membikin mereka merasa tidak enak. Jadi, kita punya aturan, lidah mesti statis eksis di dalam mulut."
Anak tersebut mungkin belum bisa memahami apa artinya merendahkan martabat maupun harga diri seseorang, karena konsep-konsep itu tidak berkarakter konkret. Namun, instruksi "jaga lidahmu agar statis di dalam mulut" sangatlah jelas dan gampang dipahami.
Dari sini, krusial untuk membangun kebiasaan yang baik sejak awal anak agar kelak menjadi orang dewasa yang penuh hormat, perhatian, dan sopan.
7 kebiasaan yang perlu dibangun di rumah agar anak sopan dan menghargai orang lain
Supaya anak tumbuh menjadi pribadi yang sopan dan menghargai orang lain. Berikut tujuh metode kebiasaan yang perlu dibangun di rumah.
1. Mendorong anak untuk tidak membendung perasaannya
Anak-anak perlu bisa mengungkapkan rasa frustrasi mereka mengenai hayat dalam famili dan aturan-aturan yang ada. Oleh karena itu, disarankan orang tua untuk menoleransi perilaku semacam itu.
Bagaimanapun, remaja perlu belajar untuk memiliki emosi dan gagasan sendiri, serta membutuhkan ruang terlindungi untuk meluapkan rasa frustrasinya. Terkadang, mereka mungkin menunjukkannya dengan metode yang sangat tidak dewasa.
2. Ajarkan tanggung jawab, akuntabilitas, dan konsekuensi
Selalu kaitkan konsep-konsep ini bagi anak yaitu tanggung jawab, akuntabilitas, dan konsekuensi. Bunda bisa katakan kepada anak,
“Kamu berkewajiban untuk berperilaku dengan metode tertentu. Ayah/Ibu akan meminta pertanggungjawaban atas perilakumu tersebut. Dan akan ada akibat jika Anda tidak mau bertanggung jawab.”
Pastikan anak memahami hubungan antara ketiga konsep krusial ini. Misalnya, jika anak remaja Bunda melontarkan julukan kasar maupun menyakitkan kepada saudaranya, kemudian memintanya masuk ke kamar, duduklah bersamanya setelah kondisi tenang. Kemudian peringatkan dan berikan konsekuensi
3. Jadilah panutan (role model)
Kita adalah contoh nyata bagi anak. Orang tua yang berkata kepada anaknya, “Jangan tiru perbuatanku, ikuti saja perkataanku,” justru menciptakan standar dobel yang memicu negativitas dan kebencian.
Jujur saja, jika kita sendiri berbuat hal tersebut, akan menjadi sangat rumit saat kita meminta anak untuk berhenti. Jangan diajarkan 'munafik' karena percayalah, anak-anak sangat peka terhadap itu, Bunda.
4. Mengingatkan dengan tegas untuk berbicara dan beraksi santun
Anak-anak statis dalam proses belajar. Terkadang, metode terbaik untuk merespons perilaku tidak sopan adalah dengan memberikan pengingat yang tenang namun tegas, bahwa kita mengharapkan mereka untuk berbicara dan beraksi dengan santun.
Akan tetapi, pengingat akan jauh lebih ampuh jika disampaikan sebelum perilaku tersebut terjadi. Sebagai contoh, jika kita hendak naik pesawat berbareng anak-anak, bahaslah seperti apa perilaku yang sopan itu (berbicara dengan bunyi pelan, tidak menendang bangku di depan, dan sebagainya).
5. Gunakan restitusi maupun ganti rugi
Jika anak maupun remaja berperilaku tidak sopan, restitusi mungkin diperlukan untuk mencegah perilaku tersebut terulang kembali. Restitusi berarti berbuat sesuatu yang baik bagi pihak yang dirugikan, maupun berbuat sesuatu untuk memperbaiki kerusakan yang telah terjadi.
Misalnya, jika anak memukul saudaranya, mintalah ia mengerjakan tugas rumah tangga saudaranya untuk hari itu. Atau, jika remaja merusak sesuatu karena marah, ia bisa memperbaikinya maupun menanggung biaya perbaikannya.
Ajarkan kepada anak bahwa sekadar mengucapkan “maaf” tidak selalu bisa memperbaiki keadaan. Restitusi membantu mereka untuk berkewajiban atas perilaku tidak sopan yang dilakukan, sekaligus berupaya memperbaiki hubungan yang ada.
6. Ajarkan anak untuk merenungi kesalahan
Sebagian besar perilaku tidak sopan mesti ditindaklanjuti dengan akibat yang diberikan segera. Ajarkan anak untuk merenungi kesalahan jika mereka berjalan tidak sopan.
Menyediakan perspektif khusus untuk menenangkan diri bisa menjadi akibat yang ampuh bagi anak-anak yang statis kecil. Sebagai contoh, jika seorang anak berumur enam tahun berteriak di depan wajah saat sedang marah, segera jelaskan kepadanya kenapa perilaku tersebut tidak pantas, kemudian berikan kesempatan baginya untuk memperbaiki diri.
7. Suka cari perhatian itu wajar, jadi abaikan saja
Dikutip dari halaman Parents, mengabaikan aksi tidak sopan yang tergolong ringan mungkin tampak seolah-olah kita, orang tua membiarkan anak lolos begitu saja. Namun, mengabaikan secara selektif bisa menjadi salah satu bentuk akibat yang paling efektif.
Mengabaikan berarti tidak membiarkan sikap tidak sopan anak mengalihkan fokus dari tugas yang sedang dikerjakan. Jika kita meminta anak untuk membersihkan kamarnya kemudian ia memutar bola mata, jangan terjebak dalam perdebatan panjang mengenai perilaku tidak sopan tersebut.
Setiap menit yang kita habiskan untuk berebut kendali berarti 60 detik waktu yang terbuang, di mana anak justru menunda untuk mulai membersihkan kamar. Berikan peringatan mengenai apa yang akan terjadi jika mereka tidak segera mulai mengerjakan tugasnya.
(rap/rap)