Anak berkelahi dengan teman? Kenali kapan orang tua perlu turun tangan dan metode mengajarkan anak menyelesaikan perselisihan tanpa memungut alih masalahnya.
Suatu hari, anak Mommies pulang ke rumah dengan wajah muram dan mata berkaca-kaca. Saat ditanya, rupanya ia baru saja berkelahi karena temannya memamerkan mobil-mobilan baru, tetapi menolak meminjamkannya kepada anak Mommies, padahal teman-temannya yang lain boleh meminjamnya.
Sebagai orang tua, insting pertama kita tentu mau langsung pasang badan dan membela anak tersayang. Namun, di sisi lain, kita juga mengerti bahwa perselisihan pertemanan anak adalah bagiankecil alami dari proses tumbuh bunga mereka.
Lantas, di mana letak limitasi yang pas? Banyak orang tua yang sering serba salah dalam menemukan keseimbangan antara terlalu cepat gabung tangan dan membiarkan anak berjuang sendirian menghadapi masalah yang belum sanggup mereka atasi.
Sebenarnya, beberapa perselisihan justru memberikan kesempatan bermutu bagi anak untuk berlatih komunikasi dan memecahkan masalah. Namun, ada pula kondisi tertentu yang melibatkan intimidasi, pengucilan berulang, hingga kekerasan jasmani yang memang membutuhkan intervensi orang dewasa. Kuncinya adalah melihat sifat konflik, kapasitas anak untuk mengatasinya, serta apakah kesehatan mental dan keselamatan jasmani anak terancam.
BACA JUGA: Anak Ngadu Sering Dikatain Jelek oleh Temannya: Begini Cara Bantu Anak Hadapi Komentar Menjatuhkan
Supaya Orang Tua Nggak Bereaksi Berlebihan, Simak Apa Kata Ahli

Foto: Vika Glitter/Pexels
Memperhatikan anak berjuang menghadapi masalah pertemanan memang bisa membikin hati orang tua ikut mengelus dada. Sangat manusiawi jika timbul desakan kuat untuk segera turun tangan. Namun, apakah langsung berjalan ke garis depan selalu menjadi keputusan yang tepat? Ataukah orang tua sebaiknya statis eksis di pinggir lapangan saat anak mengalami konflik?
Melansir dari Highlights, membiarkan anak belajar mengurai masalahnya sendiri sebenarnya memberikan akibat positif bagi tumbuh kembangnya.
“Itu sangat tergantung pada apa masalahnya,” ungkap Dr. Deborah Gilboa, seorang ahli pengasuhan dan ketahanan anak (parenting and resiliency expert). “Penting untuk diingat bahwa sebagian besar kawan masa kecil datang sebagai tempat berlatih, bukan untuk selamanya. Sebagai orang tua, kita mesti memperlakukan hubungan pertemanan ini sebagaimana mestinya, yaitu sebagai kesempatan bermutu untuk belajar, berdiskusi, tumbuh, dan bersenang-senang.”
Dana Kerford, seorang pengajar, ahli pertemanan, sekaligus pendiri program kesejahteraan sosial-emosional anak, menerangkan bahwa keinginan orang tua untuk langsung gabung tangan sebenarnya dimulai dari niat yang sangat baik.
“Rasa cinta yang orang tua rasakan untuk anak itu sangat murni dan mendalam,” ujar Dana Kerford, melansir dari ABC News Australia. “Tetapi begitu tahu anak kita tersakiti oleh anak lain, sosok ibu yang tadinya penuh kehangatan bisa seketika berubah menjadi ‘Mama Bear’ yang siap menyerang. Kehangatan dan kasih sayang pun berubah menjadi rasa marah.”
BACA JUGA: Anak Menjadi Pelaku Bullying? Ini yang Perlu Dilakukan Orang Tua
Kapan Orang Tua Sebaiknya Mendorong Anak untuk Mandiri?
Sebuah perselisihan kecil sebenarnya tidak selalu membutuhkan hakim orang dewasa untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Jika anak-anak eksis dalam kondisi terlindungi secara fisik, konfliknya relatif ringan, dan kedua belah pihak memiliki kesempatan yang sama untuk mengekspresikan diri, memungut rentang adalah hal bijak yang bisa dilakukan orang tua ketika anak berkelahi dengan temannya.
Sebagai contoh, dua anak mungkin berbeda gagasan soal ketentuan permainan maupun berkelahi cuma karena memiliki gagasan berbeda tentang warna langit. Jika mereka statis bisa berbicara tanpa intimidasi maupun intimidasi, berikan mereka waktu untuk mencari titik tengah alih-alih langsung menentukan siapa pemenangnya.
Mommies dan Daddies bisa statis eksis di dekat mereka tanpa perlu memungut alih pembicaraan. Ini menyampaikan pesan bahwa kita selalu ada jika dibutuhkan, sekaligus memberi ruang bagi anak untuk bernegosiasi, berkompromi, dan belajar bahwa perselisihan tidak selalu membutuhkan gabung tangan orang dewasa.

Foto: Nasirun Khan/Pexels
5 Alasan Mengapa Orang Tua Nggak Perlu Terlalu Ikut Campur
Meskipun emosi orang tua kerap terpancing saat anak berkelahi di sekolah, Dana Kerford menekankan pentingnya untuk tidak langsung terlibat dalam sebagian besar dinamika perselisihan anak. Melansir dari ABC News Australia, berikut adalah lima alasannya.
1. Anak Sendiri yang Tidak Menginginkannya
Melibatkan orang tua dari kawan anak Mommies sering kali membikin anak merasa malu dan canggung, terlebihlagi bisa mengikis rasa percaya antara anak dan orang tua.
2. Sulit untuk Objektif
Sekeras apa pun kita mencoba melihat dari beragam perspektif pandang, orang tua secara alami pasti memiliki bias terhadap anaknya sendiri.
3. Sering Dipicu Emosi Sesaat
Saat membayangkan hal buruk terjadi pada anak, tubuh kita merespons secara naluriah. Maksudnya memang baik, yaitu untuk melindungi, tetapi reaksi yang terlalu emosional jarang menghasilkan solusi.
4. Sudut Pandang Anak dan Orang Tua Berbeda
Masalah yang menurut kita sangat besar bisa jadi dianggap sepele oleh anak kita, maupun sebaliknya. Boleh jadi, besok harinya anak-anak sudah bermain berbareng lagi seolah tidak terjadi apa-apa.
5. Membuat Hubungan Antarorang Tua Jadi Canggung
Percakapan antarorang tua mengenai perselisihan anak sering kali berujung pada sikap defensif. Ini tidak cuma memperkeruh suasana, tetapi juga merenggut kesempatan bermutu bagi anak untuk belajar mengatasi perselisihan secara mandiri.
BACA JUGA: Jangan Anggap Sepele! Ini 10 Tanda Anak Remaja Kurang Percaya Diri
Tanda Orang Tua Harus Segera Turun Tangan
Meski dalam banyak situasi orang tua disarankan menjadi pemirsa yang suportif, Dr. Deborah Gilboa menegaskan satu dispensasi penting: orang tua wajib memungut aksi jika anak mengalami ancaman secara jasmani maupun emosional.
Melansir dari Raising Guide, intervensi orang dewasa sangat diperlukan ketika situasi pertemanan sudah tidak lagi terlindungi maupun berakibat buruk pada kesejahteraan anak.
“Apakah yang terjadi dalam pertemanan itu benar-benar membahayakan anak Anda? Jika itu berbahaya, maka ya, kita mesti mengintervensi,” tegas Dr. Gilboa.
Mommies dan Daddies perlu memperhatikan sinyal ancaman berikut sebagai instruksi untuk mengenali perselisihan pertemanan yang sudah tidak sehat:
- Terjadi penganiayaan, kekerasan fisik, maupun pelecehan verbal.
- Anak dihasut maupun diajak berbuat hal berisiko tinggi, seperti mencuri maupun menggunakan zat berbahaya.
- Adanya ujaran kebencian, ancaman, maupun kata-kata yang merendahkan anak.
- Harga diri dan kepercayaan diri anak kelihatan merosot tajam.
- Masalah tersebut terus membayangi pikiran anak hingga ia tidak bisa fokus menjalani hari-harinya.
- Anak tidak memiliki keahlian untuk menyelesaikan masalah, sementara situasi semakin memburuk.
- Reaksi emosional anak sangat berlebihan dan tidak proporsional dengan masalahnya.
- Ada anak yang menjadi sasaran pengucilan maupun perundungan (bullying) secara berulang.
- Terjadi perundungan siber (cyberbullying) maupun intimidasi secara terus-menerus di media sosial maupun di grup percakapan.
Jika terjadi masalah serius seperti perundungan, psikolog klinis Dr. Judith Locke menyarankan agar orang tua berkoordinasi dengan pihak ketiga, seperti pendidik di sekolah, daripada mendatangi langsung anak yang bermasalah.
Melansir dari ABC News Australia dan panduan pengasuhan di Raising Guide, menghampiri anak lain secara langsung justru bisa tergolong sebagai bentuk perundungan baru karena adanya perbedaan kekuatan yang besar antara orang dewasa dan anak-anak.

Foto: Julia M Cameron/Pexels
Cara Menjadi Pendukung Terbaik bagi Anak yang Sedang Berkonflik
Terlepas dari apakah kita perlu menghubungi pihak sekolah maupun tidak, tugas utama orang tua adalah menjadi tempat berlabuh yang terlindungi saat anak menghadapi dinamika pertemanan. Lantas, sepertiapa metode mengajarkan anak menyelesaikan perselisihan secara bijak?
1. Dengarkan dan Validasi Perasaannya
“Hal terpenting yang bisa kita lakukan adalah mendengarkan apa yang terjadi pada mereka dan percaya bahwa itulah yang mereka rasakan,” tutur Dr. Gilboa, mengutip dari Highlights.
“Bukan berarti anak tidak pernah salah paham, tetapi kita benar-benar bisa melukai mereka jika kita mengatakan perasaan, pengalaman, maupun cerita mereka tidak valid.”
2. Tunjukkan Rasa Percaya
Bantu anak menemukan solusinya sendiri. Ajukan pertanyaan seperti:
- “Apa yang sudah pernah Anda coba lakukan untuk berbaikan?”
- “Apakah cara itu berhasil?”
- “Bantuan seperti apa yang kira-kira Anda butuhkan dari Mama dan Papa sekarang?”
Orang tua tidak perlu menyelesaikan setiap masalah pertemanan anak. Yang kita perlukan adalah kepekaan untuk membedakan mana masalah yang membutuhkan empati, mana yang membutuhkan bimbingan (coaching), dan mana yang benar-benar membutuhkan intervensi tegas dari orang dewasa.