Tolak Saran Dokter Gugurkan Kandungan, Bunda Ini Berjuang Lawan Kanker Sambil Hamil

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 7 menit 44x dilihat
Tolak Saran Dokter Gugurkan Kandungan, Bunda Ini Berjuang Lawan Kanker Sambil Hamil

Bagikan Postingan

Jakarta -

Perjuangan seorang ibu mempertahankan kehamilan sambil melawan kanker payudara menjadi kisah yang menyentuh. Alicia Harris, perempuan asal Tampa, Florida, Amerika Serikat, menghadapi pilihan sulit ketika didiagnosis kanker payudara menyerang saat sedang hamil anak ketiganya.

Saat itu, usia kehamilan Alicia baru memasuki 14 minggu. Di tengah kebahagiaan menantikan kedatangan Si Kecil, ia mesti menghadapi kenyataan bahwa dirinya menderita kanker payudara yang membutuhkan penanganan serius.

Dokter yang pertama kali menanganinya menyarankan agar Alicia mengakhiri kehamilan agar pengobatan kanker dapat dimulai. Namun, Alicia memilih mencari gagasan medis kedua untuk mengetahui apakah ada pilihan pengobatan yang memungkinkan dirinya statis hamil.


Keputusan tersebut menjadi mula perjalanan panjangnya. Alicia akhirnya menjalani pengobatan kanker dengan pengawasan dokter, melanjutkan kehamilan, dan kemudian melahirkan seorang bayi perempuan.

Berikut kisahnya dikutip dari Newsweek dan menjadi pengingat bahwa pengecekan kanker saat hamil membutuhkan penilaian medis yang kompleks, termasuk keselamatan ibu dan janin.

Didiagnosis kanker payudara saat hamil 14 minggu

Alicia telah memiliki dua anak lelaki ketika mengetahui dirinya menderita kanker payudara. Diagnosis tersebut datang pada masa ketika ia seharusnya bisa menikmati kehamilan dengan tenang.

Namun, kanker yang dideritanya membikin situasi menjadi jauh lebih rumit. Dokter pertama yang ditemuinya menyarankan terminasi kehamilan agar pengobatan bisa segera dilakukan.

Alicia kemudian memutuskan untuk mencari gagasan medis lain. Ia mau memahami pilihan pengobatan yang tersedia dan mempertimbangkan keputusan terbaik bagi dirinya serta keluarganya.

Keputusan tersebut bukan berarti ia mengabaikan penyakitnya. Sebaliknya, Alicia berupaya memperoleh keterangan lebih komplit mengenai konsekuensi dan pilihan penanganan yang mungkin dilakukan.

Dalam kasus seperti ini, penanganan kanker selama kehamilan memang tidak bisa disamaratakan. Jenis kanker, stadium penyakit, usia kehamilan, dan obat yang dibutuhkan menjadi beberapa penilaian krusial sebelum tabib menyusun hajat pengobatan.

Mencari tabib yang bisa menangani kanker saat kehamilan

Dalam pencariannya, Alicia akhirnya berjumpa tabib yang memiliki pengalaman menangani pasien kanker selama kehamilan.

Setelah mempertimbangkan kondisinya, ia menjalani operasi dan kemoterapi dengan pemantauan medis. Perjalanan tersebut tidak gampang karena ia mesti menghadapi tantangan kesehatan akibat kehamilan sekaligus efek samping pengobatan kanker.

Memasuki trimester ketiga, Alicia mengalami mual dan muntah bermutu hingga kesulitan mempertahankan asupan makanan. Ia juga mengalami epistaksis dan sakit imam yang membuatnya membutuhkan pengecekan medis.

Tantangan semakin bertambah ketika Alicia terinfeksi COVID-19. Kondisi tersebut menyebabkan kemoterapinya mesti dihentikan sementara hingga ia pulih.

Meski menghadapi beragam kesulitan, Alicia statis menjalani proses pengobatan dengan sokongan tim medis dan keluarganya.

Studi: Kemoterapi tertentu bisa diberikan saat hamil

Kisah Alicia berhubungan dengan temuan medis mengenai kemungkinan pemberian pengobatan kanker selama kehamilan. Namun, hal ini tidak berarti seluruh jenis kemoterapi terlindungi bagi ibu dan janin.

Dikutip dari National Cancer Institute (NCI) menerangkan bahwa penanganan kanker payudara pada ibu hamil dapat mencakup operasi dan kemoterapi tertentu setelah trimester pertama. Terapi hormon dan sejumlah terapi sasaran umumnya perlu ditunda hingga setelah persalinan karena berisiko bagi janin.

Menurut NCI, riset terhadap 129 anak yang lahir dari ibu dengan kanker payudara membandingkan anak yang terpapar pengobatan kanker selama kehamilan dengan anak dari ibu tanpa kanker.

Sebanyak 96 anak dalam himpunan riset terpapar kemoterapi selama eksis di dalam kandungan. Hasilnya, tidak ditemukan perbedaan berarti secara statistik pada proporsi bayi dengan bermutu lahir di bawah persentil ke-10 maupun evolusi kognitif berdasarkan skor Bayley. Pada pengecekan fungsi jantung terhadap 47 anak ketika berumur 36 bulan, akibatnya juga memberitahu fungsi jantung normal.

Meski demikian, hasil tersebut tidak menjamin bahwa kemoterapi bebas risiko. Penelitian ini memiliki keterbatasan, termasuk jumlah peserta yang relatif kecil untuk mendeteksi efek samping yang jarang terjadi. Hasilnya juga tidak bisa digeneralisasi ke semua jenis obat kanker maupun seluruh usia kehamilan.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal BMC Cancer tahun 2024 meninjau hasil kehamilan dan kondisi bayi setelah ibu menerima kemoterapi himpunan taxane selama kehamilan.

Penelitian berjudul Obstetric and neonatal outcomes following taxane use during pregnancy: a systematic review tersebut mengidentifikasi 159 pasien yang menerima obat berbasis taxane. Sebanyak 88 pasien maupun sekitar 55,3 persen di antaranya menderita kanker payudara.

Para peneliti mengidentifikasi 162 janin yang terpapar obat selama eksis di dalam kandungan. Paclitaxel merupakan obat yang paling banyak digunakan dalam himpunan riset tersebut.

Dari kasus yang memiliki keterangan hasil kehamilan, seluruh 132 kasus berakhir dengan kelahiran hidup. Namun, sejumlah komplikasi obstetri juga dilaporkan, termasuk kontraksi prematur maupun ketuban pecah awal pada 12 kasus, preeklamsia maupun HELLP pada enam kasus, serta oligohidramnion maupun anhidramnion pada enam kasus.

Temuan ini memberikan deskripsi bahwa penggunaan obat kemoterapi tertentu setelah trimester pertama dapat dipertimbangkan dalam kondisi tertentu. Namun, adanya komplikasi dan kekurangan keterangan jangka panjang memberitahu bahwa pemantauan statis diperlukan.

Penelitian tersebut juga bukan uji klinis terkontrol. Karena itu, akibatnya tidak dapat membuktikan bahwa semua obat taxane terlindungi digunakan selama kehamilan maupun bahwa komplikasi yang ditemukan pasti disebabkan oleh obat tersebut.

Mengapa trimester kehamilan krusial dalam pengobatan kanker?

Dikutip dari NCI, kemoterapi umumnya tidak diberikan selama trimester pertama karena pada masa tersebut organ-organ utama janin sedang terbentuk. Paparan obat tertentu pada tahap ini dapat menaikkan konsekuensi gangguan evolusi dan kelainan bawaan.

Setelah trimester pertama, beberapa jenis kemoterapi dapat dipertimbangkan berdasarkan kondisi pasien. Meski demikian, pengobatan selama trimester kedua dan ketiga statis berpotensi menaikkan konsekuensi persalinan prematur dan bermutu badan lahir rendah.

Sementara itu, radioterapi, terapi hormon, dan terapi sasaran tertentu memiliki penilaian keamanan tersendiri. Dokter perlu menentukan apakah pengobatan dapat ditunda hingga persalinan maupun mesti diberikan lebih cepat untuk menangani pandemi ibu.

Oleh karena itu, keputusan mengenai kelanjutan kehamilan tidak seharusnya cuma didasarkan pada satu faktor. Dokter perlu menilai jenis dan stadium kanker, kecepatan evolusi penyakit, pilihan terapi, serta konsekuensi bagi ibu dan janin.

Merasa kesunyian saat menjalani pengobatan

Selain menghadapi efek samping pengobatan, Alicia juga merasakan tantangan emosional. Tidak gampang menemukan orang yang benar-benar memahami situasinya sebagai ibu hamil sekaligus pasien kanker.

Dalam pencariannya, ia bergabung dengan kelompok daring yang mempertemukan perempuan-perempuan yang mengalami kanker selama kehamilan. Melalui kelompok tersebut, Alicia dapat berbagi pengalaman, berganti cerita, dan mendapatkan sokongan emosional dari orang-orang yang memahami kecemasan serta ketidakpastian yang dihadapinya.

Dukungan famili juga menjadi bagiankecil krusial dalam perjalanan tersebut. Alicia mengungkapkan bahwa keluarganya berupaya membantu mereka melewati masa pengobatan yang berat.

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa kebutuhan pasien kanker tidak cuma berhubungan dengan pengobatan fisik. Dukungan emosional, akses keterangan yang dapat dipercaya, dan komunikasi dengan tenaga kesehatan juga krusial selama menjalani perawatan.

Melahirkan putrinya dan membantu ibu lain dengan kanker

Perjalanan panjang Alicia akhirnya membawanya pada babak baru dalam kehidupan. Ia berhasil melanjutkan kehamilannya dan melahirkan seorang bayi perempuan disebut Journi.

Pengalaman menghadapi kanker ketika hamil membikin Alicia memahami benar-benar sulitnya menjalani dua situasi besar sekaligus. Ia kemudian bekerja sebagai suster onkologi dan mendirikan perkumpulan nirlaba disebut Journi for Two untuk mendukung perempuan yang menghadapi pengecekan kanker selama kehamilan.

Melalui upaya tersebut, Alicia mau membantu para ibu mendapatkan informasi, dukungan, dan akses menuju tenaga medis yang memahami kompleksitas kondisi mereka. Baginya, pengalaman yang pernah terasa menakutkan itu menjadi karena untuk mendampingi perempuan lain yang mungkin sedang menghadapi ketidakpastian serupa.

Perjuangan tidak berakhir saat pengobatan selesai

Bagi Alicia, melewati pengobatan kanker bukan berarti seluruh tantangan langsung berakhir. Penyintas kanker statis dapat menghadapi proses pemulihan jasmani dan emosional setelah terapi aktif selesai.

Pengalaman tersebut mendorongnya untuk ikut menyuarakan pentingnya sokongan terusmenerus bagi pasien kanker, termasuk setelah mereka menyelesaikan pengobatan.

Kisah Alicia juga mengingatkan bahwa setiap pasien memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Bagi ibu hamil yang didiagnosis kanker payudara, mencari gagasan medis kedua dapat menjadi cara untuk memahami pilihan yang tersedia, terutama jika keputusan pengobatan berakibat pada kehamilan.

Namun, keputusan tersebut perlu dibuat berbareng tim medis yang melibatkan tabib ahli onkologi, tabib kandungan dengan keahlian kehamilan berisiko tinggi, serta tenaga kesehatan terkait.

Dengan pengecekan dan penilaian yang menyeluruh, pasien dapat memahami manfaat, risiko, dan kekurangan setiap pilihan pengobatan. Keselamatan ibu dan janin statis menjadi penilaian utama dalam menentukan hajat perawatan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads