Viral E-Commerce Terkemuka Minta Maaf Telah Larang Karyawan Menyusui Bayi di Kantor

Jul 23, 2026 09:20 AM - 3 minggu yang lalu 7365

Bunda, baru-baru ini media internasional ramai membahas permintaan maaf dari perusahaan e-commerce raksasa kepada seorang pengusaha wanita yang sedang menyusui.

Kisah ini menyentuh banyak Bunda lantaran berangkaian dengan tantangan menyeimbangkan peran sebagai orang tua dan tetap aktif dalam bumi kerja.

Sudah bersiap jauh-jauh, tapi tak bisa ikut acara

Perempuan berjulukan Rachael Bews, seorang pengusaha asal Skotlandia, terpilih mengikuti program upaya yang diadakan di akomodasi instansi e-commerce tersebut. Sebelum kegiatan berlangsung, dia sudah memberi tahu panitia bahwa bayinya yang berumur sekitar lima bulan tetap menyusu dan dia perlu menyusui selama kegiatan berlangsung.


Rachael apalagi merencanakan agar suaminya menjaga bayi di area kampus perusahaan, sementara dia mengikuti workshop dan keluar sejenak saat perlu menyusui.

Namun ketika sedang dalam perjalanan menuju lokasi, dia menerima telepon dari kantor yang memberitahunya bahwa perusahaan tidak dapat mengakomodasi situasinya di pusat pemenuhan pesanan tempat program tersebut diadakan.

Sehingga, anak di bawah usia enam tahun tidak diperbolehkan masuk ke area pusat pengedaran perusahaan lantaran argumen kesehatan dan keselamatan kerja. Akibatnya, dia tidak dapat mengikuti sesi tatap muka yang menurutnya sangat krusial untuk membangun jaringan bisnis. 

Nyonya Bews mengatakan dia sudah menghabiskan nyaris £80 untuk tiket kereta api, dan sedang dalam perjalanan ke kampus Dunfermline ketika dia diberitahu bahwa lantaran persyaratan kesehatan dan keselamatan, bayi dan anak mini tidak dapat dibawa ke lokasi.

“Saya langsung menangis tersedu-sedu,” kata Bews dikutip dari Aol.

“Saya sudah menyiapkan peralatan untuk diri saya sendiri dan ketiga anak saya. Sudah mengatur pengasuhan anak. Sudah mengatur penitipan hewan peliharaan. Kami telah melakukan perjalanan jauh, dan sekarang saya tidak dapat berpartisipasi. Apakah betul-betul seperti ini keadaan kita di tahun 2026?” sambungnya.

Bews mengaku merasa sedih dan terisolasi lantaran kesempatan yang sudah lama dinantikan menjadi tidak bisa diakses hanya lantaran dia sedang menyusui. 

“Saya mau memandang lebih banyak organisasi memikirkan gimana program kepemimpinan dan akselerator dapat diakses oleh orang tua yang menyusui, dan mereka yang mempunyai tanggung jawab pengasuhan secara umum. Kesempatan seperti ini semestinya tidak menjadi tidak dapat diakses hanya lantaran seseorang sedang menyusui bayinya,” tambahnya.

Pihak e-commerce meminta maaf

Seorang ahli bicara mengatakan perusahaan sebenarnya menyediakan waktu rehat menyusui berbayar, penjadwalan elastis untuk mendukung kebutuhan menyusui, dan ruang menyusui pribadi unik untuk memompa ASI.

“Namun, lantaran argumen kesehatan dan keselamatan, kami tidak dapat mengizinkan anak-anak di bawah usia enam tahun di letak pusat pemenuhan pesanan kami,” kata ahli bicara tersebut.

“Kami dengan tulus meminta maaf kepada Ibu Bews lantaran kebijakan akses letak kami tidak dikomunikasikan dengan jelas sebelum beliau berangkat ke kegiatan tersebut. Seharusnya perihal itu tidak terjadi, dan kami memahami kekecewaannya. Kami sedang meninjau proses komunikasi kami untuk mencegah perihal ini terjadi lagi, dan telah mengundang beliau untuk berasosiasi dengan kami di kegiatan mendatang,” terang mereka.

Perusahaan juga menyatakan bakal meninjau kembali proses komunikasinya agar kejadian serupa tidak terulang. Meski demikian, perusahaan itu tetap mempertahankan patokan bahwa anak di bawah enam tahun tidak boleh masuk ke akomodasi distribusinya. 

Mengapa kasus ini menjadi viral?

Banyak Bunda merasa kisah ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menyusui bukan sekadar memberi makan bayi, tetapi juga bagian dari proses tumbuh kembang dan kedekatan emosional antara ibu dan anak. Ketika seorang ibu kudu memilih antara mengikuti kesempatan pengembangan pekerjaan alias memenuhi kebutuhan bayinya, situasi itu bisa terasa sangat berat.

Sebuah studi berjudul Workplace Breastfeeding Legislation and Female Labor Force Participation in the United States menemukan bahwa kebijakan yang mewajibkan akomodasi menyusui di tempat kerja berangkaian dengan meningkatnya partisipasi wanita dalam bumi kerja sekitar 1,5 poin persentase. Penelitian ini menunjukkan bahwa ketika ibu mendapat akses ruang laktasi dan waktu untuk menyusui alias memompa ASI, mereka lebih mudah tetap aktif bekerja setelah melahirkan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa support tempat kerja terhadap ibu menyusui mempunyai faedah besar, antara lain:

  • Ibu lebih mungkin sukses memberikan ASI eksklusif lebih lama.
  • Tingkat stres ibu condong lebih rendah.
  • Risiko berakhir menyusui lebih awal dapat berkurang.
  • Kesehatan bayi dan ibu dapat lebih terjaga.

Organisasi kesehatan bumi World Health Organization sendiri merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi.

Selain itu, penelitian lain berjudul The Long-run Returns to Breastfeeding menganalisis informasi family di Inggris dan menemukan bahwa anak yang mendapat ASI condong mempunyai tinggi badan dewasa lebih baik dan skor kepintaran (fluid intelligence) lebih tinggi dibanding kerabat kandung yang tidak mendapat ASI. Hasil ini memperkuat pentingnya support terhadap ibu menyusui, termasuk ketika mereka sedang bekerja alias mengikuti kegiatan profesional.

Kasus ini membuka obrolan lebih luas tentang gimana perusahaan dan penyelenggara kegiatan dapat membikin lingkungan yang lebih ramah bagi orang tua, khususnya ibu menyusui.

Beberapa corak support yang sekarang mulai diterapkan di beragam tempat kerja antara lain:

  • Ruang laktasi yang nyaman
  • Jadwal yang fleksibel
  • Waktu unik untuk memompa ASI
  • Kebijakan yang mempertimbangkan kebutuhan orang tua dengan bayi kecil

Studi Examining Norms and Social Expectations Surrounding Exclusive Breastfeeding menunjukkan bahwa support sosial dan persepsi bahwa masyarakat mendukung menyusui dapat meningkatkan kemungkinan ibu memberikan ASI eksklusif. Artinya, kebijakan perusahaan dan sikap lingkungan kerja juga dapat memengaruhi keberhasilan menyusui.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya