10 Cara Menjelaskan Perceraian kepada Anak: Pertanyaan dan Jawabannya

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 8 menit 523x dilihat
10 Cara Menjelaskan Perceraian kepada Anak: Pertanyaan dan Jawabannya

Bagikan Postingan

Bingung langkah menjelaskan perceraian kepada anak? Kenali 10 pertanyaan anak setelah orang tua berpisah dan langkah menjawabnya dengan tepat.

Membicarakan perceraian kepada buah hati tentu bukan perkara mudah bagi setiap orang tua. Di tengah gejolak emosi, mental yang tergerus, dan proses penyesuaian diri yang melelahkan, ada satu perihal yang tak boleh terlewatkan: kondisi psikologis anak setelah perceraian. Anak-anak adalah pengamat yang sangat peka. Ketika struktur family berubah, bakal timbul banyak keraguan dan kekhawatiran yang berkecamuk di kepala mereka.

BACA JUGA: Anak Bertanya Soal Perceraian? Ini Cara Menjawab yang Dianjurkan Psikolog

12 Kondisi Psikologis dan Emosional Anak setelah Orang Tua Putuskan Bercerai

Foto: Magnific

Melansir dari tulisan Psychology Today yang ditulis oleh Ann Gold Buscho, Ph.D., serta penjelasan dalam Marriage.com, akibat perceraian orang tua pada anak bisa muncul dalam beragam corak emosi. Penelitian juga menunjukkan bahwa kondisi anak setelah perceraian tidak hanya dipengaruhi oleh perpisahan itu sendiri, tetapi juga oleh gimana hubungan dan pola co-parenting orang tua setelah perceraian. Konflik co-parenting yang tinggi, misalnya, berangkaian dengan masalah perilaku serta indikasi kekhawatiran dan depresi pada anak.

Sebelum melangkah ke langkah menjawab pertanyaan mereka, krusial bagi Mommies dan Daddies untuk memahami perubahan psikologis dan emosional anak setelah orang tua berpisah berikut ini:

1. Rasa cemas, khawatir, dan takut

Ketidakpastian bakal masa depan sering kali memicu stres. Anak korban perceraian ragu gimana kehidupan mereka bakal berubah, seperti takut kehilangan salah satu orang tua alias kudu pindah rumah dan sekolah.

2. Kemarahan

Anak bisa menyalahkan salah satu alias kedua orang tua lantaran merasa keutuhan family berubah. Mereka juga bisa merasa frustrasi lantaran tidak mempunyai kendali atas keputusan orang dewasa.

3. Kesedihan dan rasa kehilangan

Anak-anak bersungkawa atas hilangnya struktur family yang selama ini mereka kenal. Menyesuaikan diri dengan agenda pengasuhan bergantian juga kerap memicu rasa sedih yang mendalam.

4. Kebingungan, rasa bersalah, dan menyalahkan diri sendiri

Sering kali anak merasa bersalah lantaran perceraian orang tua. Mereka berpikir bahwa perilaku jelek merekalah yang menjadi penyebab perpisahan, alias berambisi bisa menyatukan kembali orang tua jika mereka “menjadi anak baik”.

5. Keinginan agar orang tua rujuk

Banyak anak yang memendam angan agar orang tuanya bisa berasosiasi kembali, apalagi ketika situasi tersebut sudah tidak memungkinkan.

6. Menarik diri dan mengisolasi diri

Beberapa anak memilih tak bersuara dan memendam emosi anak setelah orang tua berpisah untuk menghindari rasa sakit. Sebagian lainnya melarikan diri lewat khayalan alias melamun.

7. Masalah perilaku dan akademik di sekolah

Stres emosional bisa membikin nilai pelajaran merosot, anak kehilangan minat belajar, hingga berulah di sekolah maupun di rumah untuk mencari perhatian.

8. Perubahan pola tidur, makan, hingga regresi perilaku

Anak bisa mengalami mimpi buruk, ngompol kembali, menjadi sangat menempel (clingy), hingga mengalami perubahan pola makan akibat ketegangan emosional.

9. Isu keterikatan dan bentrok loyalitas

Anak rentan mengalami separation anxiety alias merasa terjebak di tengah perselisihan, terutama jika salah satu orang tua mencoba menjadikan mereka sekutu alias perantara pesan.

10. Lega tapi tetap terbebani

Jika pernikahan sebelumnya diwarnai bentrok tinggi alias kekerasan, anak mungkin merasa lega saat perpisahan terjadi. Namun, rasa lega ini tetap bisa berdampingan dengan luka emosional lainnya.

11. Kesulitan membangun hubungan di masa depan

Melihat kegagalan pernikahan orang tua dapat memicu luka emosional. Dalam jangka panjang, perihal ini bisa memengaruhi ilmu jiwa anak setelah orang tua bercerai, di mana sebagian anak mungkin mengalami kesulitan membangun kepercayaan, menjalin ikatan emosional yang dalam, hingga mempertahankan hubungan romantis di masa depan. Penelitian memang menemukan adanya hubungan antara perceraian orang tua dan akibat masalah kesehatan mental tertentu di masa dewasa, tetapi perihal ini bukan berfaedah setiap anak yang orang tuanya berpisah pasti mengalami masalah serupa.

12. Beban Emosional yang Terbawa Hingga Dewasa

Isu perpisahan orang tua yang tidak terselesaikan dengan baik berisiko menjadi emotional baggage. Dampak ini dapat memengaruhi kondisi psikologis anak setelah perceraian dalam mengambil keputusan krusial saat dewasa, menjaga tumbuh kembang jiwa, serta membangun hubungan orang tua dan anak setelah perceraian yang sehat.

BACA JUGA: Selain Selingkuh, Ternyata Ini 10 Penyebab Utama Perceraian!

10 Pertanyaan Anak saat Orang Tua Bercerai dan Cara Meresponsnya

Foto: Magnific

Ketika anak bertanya tentang perceraian, memenuhi kebutuhan emosional anak melalui komunikasi yang jujur sangatlah krusial. Berikut adalah pertanyaan yang paling sering muncul plus tips langkah menjelaskan perceraian kepada anak:

1. “Kenapa Mama dan Papa kudu bercerai?”

Cara Menjawab:

Jelaskan dengan jujur tapi sesuai dengan usia anak. Mommies dan Daddies bisa menyampaikan bahwa terkadang orang dewasa mempunyai masalah dalam hubungan yang tidak bisa diselesaikan lagi, dan berpisah adalah jalan terbaik agar semua bisa lebih bahagia.

2. “Gimana jika saya enggak mau Mama dan Papa pisah?”

Cara Menjawab:

Validasi emosi mereka tanpa memberikan angan palsu. “Mama dan Papa tahu ini berat banget buat kita semua, tapi keputusan ini tetap kudu diambil dan dijalani. Dan kita bakal lalui ini bersama-sama, ya, Sayang.”

3. “Apa ini terjadi gara-gara aku?”

Cara Menjawab:

Tegaskan bahwa perpisahan ini terjadi murni urusan kedua orang tua, nggak ada sangkut pautnya dengan apa yang anak lakukan. “Ini sama sekali bukan lantaran Anda alias apa yang Anda lakukan. Mama dan Papa bakal selalu sayang sama Anda tanpa syarat. Nggak bakal berkurang sedikit pun.”

4. “Nanti Mama dan Papa bisa balikan lagi enggak?”

Cara Menjawab:

Jika keputusan berpisah sudah bulat, berikan kepastian sejak awal agar anak tidak terjebak dalam khayalan dan merasa punya angan palsu. Jelaskan bahwa kalian tidak bakal tinggal berbareng lagi, tetapi komitmen hubungan orang tua dan anak setelah perceraian tidak bakal pernah berubah.

5. “Kalau saya nakal, apakah saya bakal dibuang juga?”

Cara Menjawab:

Berikan dorongan emosional yang menenangkan. “Enggak bakal pernah. Hubungan orang tua dan anak itu seumur hidup. Mau Anda melakukan baik alias bikin salah, Mama dan Papa bakal selalu jadi orang tua kamu.”

6. “Nanti saya kudu bilang apa ke teman-teman di sekolah?”

Cara Menjawab:

Menjelaskan saran dari master ilmu jiwa Dr. Benna Strober dalam situs resminya, ketakutan bakal penilaian kawan adalah perihal yang wajar. Bantu anak memahami bahwa perpisahan ini bukanlah perihal yang memalukan dan banyak kawan lain yang juga mengalaminya.

7. “Mama tetap sayang nggak sama Papa?” (atau sebaliknya)

Cara Menjawab:

Bantu anak memahami bahwa hubungan orang tua bisa berubah tanpa mengubah rasa sayang mereka kepada anak. “Mama dan Papa tentu bakal selalu saling menghargai dan saling sayang, tapi caranya sudah beda dari yang dulu. Bentuk rasa sayang terbaik yang paling kami berdua syukuri adalah dari hubungan ini, Mama dan Papa bisa punya kamu.”

8. “Nanti saya tinggal di mana?”

Cara Menjawab:

Karena anak memerlukan kepastian rutinitas harian, jelaskan agenda pembagian waktu tinggal alias kunjungan secara mendetail. Bila perlu, gunakan almanak visual di bilik mereka agar anak lebih mudah memahami kapan bakal berbareng Mama alias Papa.

9. “Aku kudu milih ikut sama siapa?”

Cara Menjawab:

Jangan membikin anak merasa kudu memilih salah satu orang tua alias memihak. Mengutip pedoman Fresh Starts Registry, pertimbangan mengenai dengan siapa anak tinggal alias seberapa sering berjumpa masing-masing orang tua dapat berjuntai pada usia dan kematangan anak serta pengaturan pengasuhan yang berlaku. Yang paling penting, anak tetap merasa kondusif untuk mencintai kedua orang tuanya tanpa merasa bersalah alias kudu menjadi pihak dalam bentrok orang dewasa.

10. “Apakah saya tetap bisa ketemu Mama dan Papa seperti biasa?”

Cara Menjawab:

Berikan kepastian bahwa co-parenting bakal terus berjalan. Jelaskan rencana waktu berkumpul alias berjamu sesuai kesepakatan orang tua agar anak merasa tetap kondusif dan terikat secara emosional.

BACA JUGA: 10 Masalah yang Sering Terjadi Dalam Pernikahan, Bisa Picu Perceraian

Pastikan 2 Hal Ini Selama dan Setelah Proses Perceraian

Foto: Magnific

Menjawab pertanyaan anak saja tidak cukup jika tindakan harian tidak mendukung kondisi psikologis anak setelah perceraian. Menurut psikiater Christine B. L. Adams M.D. dalam ulasannya di Psychology Today, ada dua prinsip utama yang wajib dipegang:

  • Jangan pernah menjelekkan mantan pasangan di depan anak

Anak-anak memandang refleksi diri mereka pada kedua orang tuanya. Ketika salah satu orang tua dijelekkan, anak bisa merasa sebagian dari diri mereka juga buruk.

  • Dukung anak untuk berkomunikasi langsung dengan kedua orang tua

Dorong anak mengekspresikan emosi dan kejengkelannya secara terbuka kepada kedua orang tua mereka. Jangan jadikan salah satu orang tua sebagai penyampai pesan, begitu pula sebaliknya.

BACA JUGA: 10 Penyebab Hubungan dengan Mantan Pasangan Memburuk Setelah Bercerai

Pada akhirnya, langkah menjelaskan perceraian kepada anak bukan hanya tentang menemukan jawaban yang paling tepat untuk setiap pertanyaan. Anak juga memerlukan kepastian bahwa meskipun struktur keluarganya berubah, mereka tetap dicintai, didengar, dan tidak perlu memilih pihak.

Hubungan orang tua dan anak setelah perceraian juga perlu terus dibangun melalui komunikasi yang terbuka dan pola co-parenting yang konsisten. Penelitian menunjukkan bahwa kualitas co-parenting dan rendahnya bentrok antarorang tua berangkaian dengan kondisi kesehatan mental anak yang lebih baik setelah perceraian.

Cover: Magnific

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
Close Right Ads
Close Left Ads