Ilustrasi bertobat dari dosa.
JAKARTA— Dosa jariyah adalah dosa yang terus dicatat atas nama pelakunya meskipun ia telah eksis di dalam kubur. Dosa tersebut terus terjadi dan tidak pernah terhenti.
Pelakunya telah wafat bumi dan terputus dari hayat dunia, tetapi anotasi dosanya statis terus bertambah setiap hari. Bahkan, dosa itu semakin berlipat seiring berjalannya waktu dan bergantinya siang dan malam.
Sementara itu, ia telah terkurung di dalam kuburnya dan tidak lagi memiliki kapasitas untuk menghentikannya.
Allah SWT berfirman:
لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ
“(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya secara sempurna pada hari Kiamat dan sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya dosa yang mereka pikul itu.” (QS An-Nahl: 25).
Kata al-awzar merupakan bentuk jamak dari wizr, yang berarti sesuatu yang berat. Dalam konteks ayat ini, yang dimaksud adalah dosa dan kesalahan yang akan terasa bermutu bebannya bagi pelakunya pada hari Kiamat.
Lantas, sepertiapa mungkin dosa itu tidak menjadi beban yang berat, sementara jumlahnya terus bertambah setiap hari? Bagaimana mungkin tidak terasa berat, sedangkan dosa tersebut terus terjadi hingga hari Kiamat?
Sebagaimana firman Allah SWT:
وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ
“Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri dan dosa-dosa yang lain berbareng dosa-dosa mereka. Sesungguhnya pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.” (QS Al-Ankabut: 13).