Penjelasan Rukun Islam (Bag. 1): Mengenal Islam dan Kedudukan Lima Rukunnya

Islami Muslimah oleh Waktu baca 5 menit 509x dilihat
Penjelasan Rukun Islam (Bag. 1): Mengenal Islam dan Kedudukan Lima Rukunnya

Bagikan Postingan

Sejak kecil, banyak di antara kita telah belajar mengutarakan lima rukun Islam. Kita mengenal syahadat, salat, zakat, puasa Ramadan, dan haji. Hafalan ini merupakan bekal yang berharga. Namun, ada hal yang perlu kita pahami lebih jauh: kenapa kelima perkara tersebut disebut rukun, dan sepertiapa kedudukannya di antara doktrin Islam yang begitu luas?

Pertanyaan ini dekat dengan hayat sehari-hari. Seorang muslimah diperintahkan untuk salat, sekaligus menjaga amanah dan memenuhi hak orang lain. Jika amanah juga wajib, apa yang membedakannya dari lima rukun Islam? Untuk memahaminya, ayo kita mulai dari arti Islam itu sendiri.

Berserah diri kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya

Islam mengajarkan kita untuk berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada perintah-Nya, serta berlepas diri dari kesyirikan. Allah semata yang berkuasa diibadahi. Hanya kepada-Nya kita berdoa dan mempersembahkan ibadah. Ketundukan ini menuntut kesediaan untuk menerima petunjuk-Nya, termasuk ketika instruksi tersebut berbeda dengan kebiasaan maupun keinginan kita.

Allah Ta‘ala berfirman dalam penggalan ayat berikut,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya kepercayaan di sisi Allah adalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)

Dalam Ithaf Al-Qari, Syekh Shalih Al-Fauzan menerangkan bahwa Islam adalah jalan yang dibawa oleh para Rasul. Setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Islam yang wajib diikuti adalah doktrin yang beliau bawa. Beliau juga menerangkan bahwa sunah dalam bahasan ini berarti jalan Rasulullah. Dengan demikian, berserah diri kepada Allah berhubungan erat dengan mengikuti instruksi Rasul-Nya. [1]

Oleh karena itu, belajar Islam mencakup belajar kepada siapa amalan ditujukan dan sepertiapa amalan dilaksanakan. Seorang muslimah yang hendak memperbaiki salatnya perlu menjaga keikhlasan kepada Allah, kemudian mempelajari tata metode salat yang diajarkan Nabi. Niat baik mendorongnya untuk mencari tuntunan yang benar dan mengamalkannya. Begitu pula dalam amalan lainnya, instruksi kepercayaan menjadi pegangan dalam beramal.

Lima penyangga bangunan Islam

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berkuasa diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadan.” (HR. Al-Bukhari no. 8)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan perumpamaan bangunan untuk menerangkan jabatan kelima perkara tersebut. Ibnu Rajab menerangkan bahwa lima rukun tersebut merupakan penyangga bangunan Islam, sedangkan bagian-bagian Islam lainnya merupakan penyempurna bangunan itu. Perumpamaan ini memberitahu benar-benar mendasarnya jabatan kelima rukun tersebut. [2]

Dua kalimat syahadat eksis pada urutan pertama. Persaksian ini memuat pengakuan bahwa amalan cuma ditujukan kepada Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Oleh karena itu, penyebutan rukun Islam tidak berarti kepercayaan cukup dengan amalan personel badan tanpa kepercayaan hati. Ibnu Rajab menerangkan bahwa keagamaan kepada Allah dan Rasul-Nya telah tercakup dalam dua persaksian tersebut. [2]

Salat, zakat, puasa Ramadan, dan haji merupakan ibadah-ibadah besar yang mesti dipelajari ketentuannya. Mendirikan salat membutuhkan ilmu tentang bersuci, waktu, dan tata caranya. Zakat memiliki ketentuan mengenai harta dan penerimanya. Puasa pun memiliki ketentuan yang perlu diketahui, demikian pula haji yang diwajibkan bagi orang yang mampu. Mengenal nama setiap rukun mengantarkan kita kepada kebutuhan untuk mempelajari pengamalannya.

Kedudukan sebagai rukun memberi kelima perkara ini tempat utama dalam perhatian kita. Seorang muslimah perlu bersungguh-sungguh mempelajarinya agar dapat menunaikan tanggung jawab yang berjalan atas dirinya. Perumpamaan bangunan juga mengingatkan bahwa perhatian kepada bagian-bagian kepercayaan yang lain mesti berjalan berbareng penjagaan terhadap penyangganya. Kebaikan dalam satu sektor tidak menggantikan tanggung jawab dalam sektor lainnya.

Kewajiban di luar lima rukun statis mesti ditunaikan

Lalu, sepertiapa dengan amanah, kejujuran, dan hak sesama? Semuanya statis memiliki jabatan dalam agama. Penyebutan lima rukun tidak membatasi seluruh tanggung jawab seorang muslim cuma pada kelima perkara tersebut. Istilah penyempurna bangunan juga tidak berarti bahwa semua amalan di luar rukun berstatus sunah maupun boleh ditinggalkan. Hukum setiap amalan diketahui dari dalilnya.

Tentang amanah, Allah Ta‘ala berfirman dalam penggalan ayat berikut,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar menunaikan amanah kepada yang berkuasa menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)

Misalnya, seorang muslimah menerima titipan duit dari saudarinya. Ketika pemiliknya meminta duit itu kembali, ia wajib mengembalikannya sesuai hak pemiliknya. Salat yang ia jaga tidak menggugurkan tanggung jawab tersebut. Ia tidak boleh merasa telah cukup menjalankan kepercayaan sehingga boleh mengekang hak orang lain.

Sebaliknya, kejujuran dalam menjaga duit titipan tidak menggantikan tanggung jawab salat. Ia statis perlu menunaikan salat sebagaimana diperintahkan. Dalam contoh ini, kita melihat dua tanggung jawab yang mesti dipenuhi bersama. Ada tanggung jawab yang menjadi rukun Islam, dan ada tanggung jawab lain yang statis mengikat meskipun tidak termasuk dalam lima rukun.

Jika seseorang terjatuh dalam pelanggaran amanah, yang perlu dilakukan adalah bertobat dan menyelesaikan hak pemiliknya, sambil terus menjaga tanggung jawab salat. Jangan menjadikan kekurangan dalam satu perkara sebagai karena untuk meninggalkan kepatuhan lainnya. Pemahaman tentang rukun seharusnya membantu kita menata perhatian, sekaligus mendorong perbaikan terhadap tanggung jawab yang statis terabaikan.

Pembahasan tentang tidak meremehkan bagian-bagian kepercayaan dapat dibaca lebih lanjut dalam artikel: “Tidak Ada Perkara Agama yang Remeh”. [3]

Memulai dari dua kalimat syahadat

Langkah berikutnya adalah mempelajari setiap rukun dengan dalil dan klarifikasi yang benar. Kita dapat mulai dengan memahami arti dua kalimat syahadat, kemudian meneliti balik amalan yang dikerjakan sehari-hari. Apa yang belum diketahui perlu ditanyakan kepada orang yang berilmu agar kekeliruan dapat diperbaiki.

Pembahasan berikutnya akan berfokus pada dua kalimat syahadat: persaksian yang kita ucapkan, arti yang kita yakini, dan tuntutan yang kita amalkan. Dengan memahami permulaan ini, kita memiliki bekal untuk mengenal rukun-rukun selanjutnya serta menjalankan kepercayaan dengan lebih berilmu.

[Bersambung]

***

Penulis: Mochammad Wibisono

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

[1] Shalih Al-Fauzan. Ithaf Al-Qari bit-Ta‘liqat ‘ala Syarh As-Sunnah lil-Imam Al-Barbahari. Jilid 1, klarifikasi mula tentang Islam dan sunnah. Maktabah Ar-Rusyd.

[2] Ibnu Rajab Al-Hanbali. Jami‘ Al-‘Ulum wal-Hikam, syarah histori ketiga: Islam dibangun di atas lima perkara.

[3] “Tidak Ada Perkara Agama yang Remeh”. Kincai Media.

Artikel Lainnya Islami Muslimah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads