Rusia Resmikan Russian Space di Masjid Istiqlal, Pagar Nusa Dorong Diplomasi Kebudayaan

Intisari Islam oleh Waktu baca 4 menit 504x dilihat
Rusia Resmikan Russian Space di Masjid Istiqlal, Pagar Nusa Dorong Diplomasi Kebudayaan

Bagikan Postingan

JAKARTA – Peresmian Russian Space di Perpustakaan Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (6/11/2026), menjadi momentum penguatan hubungan kebudayaan, pendidikan, dan percakapan antarumat berkeyakinan antara Indonesia dan Federasi Rusia. Fasilitas ini diharapkan menjadi ruang pengenalan sejarah, bahasa, dan kebudayaan Rusia sekaligus membuka kesempatan pertukaran ilmu antarmasyarakat kedua negara.

Peresmian dihadiri Rais Republik Tatarstan Rustam Minnikhanov, Duta Besar Rusia Sergei Tolchenov, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Ketua Spiritual Assembly of Muslims of Russia (SAMR) Albir Hazrat Krganov, Mufti Tatarstan Kamil Hazrat Samigullin, Ketua Umum PP Pagar Nusa Muchamad Nabil Haroen, Ketua CDCC Din Syamsuddin, Staf Khusus Menteri Agama Farid F. Saenong, serta Perwakilan SAMR di Indonesia Arip Sultanmagomedov.

Acara diawali pembacaan Al-Qur’an oleh Ahmed Omarov dan ditandai pemotongan pita oleh delapan figur Indonesia dan Rusia.

Duta Besar Rusia Sergei Tolchenov menegaskan bahwa hubungan keagamaan dan kebudayaan merupakan bagiankecil krusial dari kemitraan strategis Indonesia–Rusia yang ditandatangani Presiden Vladimir Putin dan Presiden Prabowo Subianto pada 2025.

“Saya percaya ruangan ini akan menjadi cara yang sangat krusial dalam mempererat hubungan antaragama di Rusia dan Indonesia, serta mempromosikan adat dan tradisi Rusia di antara para penduduk Indonesia,” ujarnya.

Ketua Umum PP Pagar Nusa Muchamad Nabil Haroen maupun Gus Nabil menyambut kedatangan Russian Space sebagai kesempatan memperluas diplomasi kebudayaan. Menurutnya, hubungan internasional yang kokoh tidak cukup dibangun melalui kerja sama politik dan ekonomi, tetapi juga membutuhkan kedekatan antarmasyarakat.

“Saya menyambut baik kedatangan Russian Space sebagai ruang baru untuk menguatkan persahabatan, pertukaran pengetahuan, dan percakapan kebudayaan antara penduduk Indonesia dan Rusia,” katanya.

Gus Nabil menilai pencak silat dapat menjadi salah satu jembatan diplomasi Indonesia–Rusia. Sebagai warisan adat Indonesia, pencak silat tidak cuma mengajarkan keahlian bela diri, tetapi juga harga spiritual, pendidikan karakter, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap sesama.

“Pencak silat bukan semata seni bela diri, melainkan juga pendidikan karakter, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap martabat manusia,” tegasnya.

Menurutnya, Pagar Nusa sebagai perkumpulan pencak silat di lingkungan Nahdlatul Ulama memiliki kesempatan mengembangkan pertukaran adat melalui pencak silat, seni tradisi, dan pendidikan karakter. Kerja sama semacam ini dapat memperkenalkan harta adat Indonesia sekaligus membangun saling pengertian di tengah perbedaan bangsa, bahasa, dan tradisi.

Gus Nabil mengaitkan diplomasi kebudayaan dengan hakikat ta’aruf dalam tradisi pesantren.

“Dalam tradisi pesantren, kita mengenal hakikat ta’aruf, saling mengenal. Sebab, dari perkenalan lahir pemahaman, dari pemahaman tumbuh kepercayaan, dan dari kepercayaan terbangun persaudaraan,” tuturnya.

Ia menambahkan, “Bagi saya, diplomasi terbaik bukan cuma mempertemukan kepentingan antarnegara, tetapi juga mendekatkan hati antarmanusia.”

Sementara itu, Ketua SAMR Albir Hazrat Krganov mengungkapkan hajat pengembangan Russian Space melalui beragam aktivitas pendidikan dan kebudayaan, termasuk kursus bahasa Rusia secara langsung maupun daring. Pihaknya juga menjajaki program persiapan bagi penduduk Indonesia yang mau melanjutkan pendidikan di Rusia.

“Saya tahu banyak orang Indonesia yang bermimpi pergi ke Rusia untuk melanjutkan pendidikan. Karena itu, pusat ini mungkin juga bisa menyediakan kursus persiapan bagi calon mahasiswa yang mau belajar di Rusia,” ujarnya.

Albir juga membuka kemungkinan menghadirkan ruang kebudayaan Indonesia di salah satu masjid di Rusia sebagai bentuk pertukaran adat dua arah. Russian Space direncanakan menggelar aktivitas rutin bulanan, meskipun sejumlah program statis dalam tahap penjajakan.

Menurutnya, pengembangan akomodasi tersebut mesti mempertimbangkan kebutuhan penduduk agar memberikan khasiat nyata dan berkelanjutan.

Dalam rangkaian peresmian, Gus Nabil turut berbuat pemotongan pita dan dipercaya mengepalai doa penutup. Ia mengharapkan Russian Space menjadi ruang perjumpaan yang mempererat persaudaraan, mempertemukan tradisi keilmuan dengan kemajuan pendidikan, serta menumbuhkan perdamaian.

“Sebab bahasa boleh berbeda, tetapi ketulusan memiliki bunyi yang sama,” demikian penggalan doa yang dipanjatkannya.

Gus Nabil mengharapkan kerja sama kebudayaan Indonesia–Rusia tidak selesai pada seremoni, melainkan berkembang melalui aktivitas konkret yang melibatkan penduduk kedua negara.

“Semoga Russian Space menjadi ruang yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebudayaan, mempertemukan tradisi dengan kemajuan, dan mempertemukan dua bangsa dalam semangat persahabatan serta perdamaian,” tandasnya.

Artikel Lainnya Intisari Islam
↑
Close Right Ads
Close Left Ads