Ketika Suami Tidak Seideal yang Diharapkan

Islami Muslimah oleh Waktu baca 9 menit 339x dilihat
Ketika Suami Tidak Seideal yang Diharapkan

Bagikan Postingan

Pernikahan adalah amalan terpanjang dalam hidup seorang muslimah. Karena dengan ikatan pernikahan, seorang muslim dan muslimah telah terikat dengan kontrak yang kokoh (mitsaqan ghalizhan) untuk membangun famili sakinah, mawaddah, dan rahmah. Setiap muslimah yang menikah tentu mendambakan suami yang saleh, bertanggung jawab, penyayang, dan bisa mengepalai famili menuju keridaan Allah Ta’ala. Namun, kenyataan hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Tidak sedikit muslimah yang mendapati bahwa suami tidak ideal, memiliki kekurangan, baik dari sisi agama, akhlak, tanggung jawab nafkah, maupun dalam hal komunikasi dan kasih sayang.

Menghadapi suami yang tidak seideal yang diharapkan bukanlah hal yang mudah. Rasa kecewa, sedih, terlebihlagi putus asa bisa saja menghampiri hati seorang istri. Ada yang kemudian memilih untuk bersabar dan terus memperbaiki keadaan, ada pula yang menyerah dan memilih jalan perpisahan. Padahal, dalam banyak kasus, kesabaran dan kebijaksanaan seorang istri justru menjadi kunci fluktuasi yang tidak terduga. Islam mengajarkan bahwa kesabaran adalah cahaya, dan setiap cobaan dalam rumah tangga adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah serta menaikkan derajat di sisi-Nya.

Kesabaran dalam menghadapi cobaan rumah tangga

Sabar adalah salah satu sifat mulia yang paling sering disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis, dan memiliki jabatan yang sangat istimewa dalam hayat rumah tangga. Ketika seorang istri menghadapi suami yang kurang ideal, baik dalam hal agama, akhlak, maupun nafkah, kesabaran adalah kunci pertama yang mesti dipegang erat. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan mengekang diri dari keluh kesah, mengendalikan emosi, dan statis berhusnuzan kepada Allah bahwa setiap cobaan pasti memiliki hikmah dan akan berbuah kebaikan jika dihadapi dengan benar.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Sabar dan salat adalah dua senjata utama bagi seorang mukmin dalam menghadapi segala ujian, termasuk cobaan dalam rumah tangga. Ketika hati terasa berat, ketika komunikasi dengan suami terasa sulit, ketika harapan tidak sesuai kenyataan, maka salat dan sabar adalah tempat balik yang paling aman. Allah Ta’ala menjanjikan pertolongan dan kebersamaan-Nya bagi orang-orang yang sabar, dan ikrar Allah tidak pernah meleset.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan bahwa sabar adalah cahaya yang menerangi jalan hidup seorang mukmin. Beliau bersabda,

وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ

“Dan sabar adalah cahaya.” (HR. Muslim no. 223)

Sabar merupakan kekuatan yang menerangi hati dan jalan kehidupan. Seorang istri yang bersabar dalam menghadapi kekurangan suaminya akan mendapatkan cahaya dari Allah Ta’ala yang membantunya melihat hikmah di balik setiap ujian. Sabar juga akan menjaga hati dari penyakit-penyakit seperti dendam, kebencian, dan putus asa, yang justru akan memperburuk keadaan rumah tangga.

Penting pula bagi seorang istri untuk memahami bahwa kesabaran bukanlah sikap pasif yang membiarkan kemungkaran terus terjadi. Jika suami berbuat kemaksiatan yang jelas, seperti meninggalkan salat, berbuat zalim, maupun menzalimi hak istri, maka sikap sabar mesti diiringi dengan upaya untuk mengingatkan dan memperbaiki dengan metode yang bijak. Kesabaran sejati adalah kesabaran yang disertai dengan ikhtiar dan doa, bukan membisu membiarkan keburukan berlarut-larut. Inilah yang dicontohkan oleh para istri Nabi dan para perempuan salehah dalam sejarah Islam.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya cuma orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Ayat ini harusnya menjadi berita ceria yang dahsyat bagi setiap istri yang bersabar dalam menghadapi cobaan rumah tangganya. Pahala yang Allah janjikan bagi orang-orang yang sabar tidak terbatas, tidak dapat dihitung, dan tidak akan pernah habis. Maka, ketika seorang istri merasa capek dengan sikap suaminya, hendaklah ia mengingat bahwa setiap tetes kesabarannya dicatat oleh Allah sebagai kebaikan yang pahalanya tidak terhingga. Inilah yang membikin kesabaran menjadi ringan, karena kita tahu bahwa tidak ada satu pun pengorbanan yang sia-sia di sisi Allah Ta’ala.

Cara mengingatkan suami dengan bijak

Mengingatkan suami yang memiliki kekurangan bukanlah perkara mudah. Salah sedikit dalam menyampaikan, bisa jadi bukan perbaikan yang didapat, melainkan pertengkaran dan keretakan hubungan. Islam mengajarkan bahwa dakwah, termasuk dakwah kepada suami, mesti dilakukan dengan metode yang penuh hikmah, lembut, dan penuh kasih sayang.

Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan metode yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Hikmah dalam ayat ini berarti memilih waktu, tempat, dan metode yang tepat untuk menyampaikan nasihat. Pengajaran yang baik berarti menggunakan kata-kata yang santun, tidak menyakiti hati, dan tidak mempermalukan. Sedangkan berdebat dengan metode yang lebih baik berarti menghindari pertengkaran yang tidak perlu dan fokus pada solusi, bukan pada siapa yang benar. Seorang istri yang mau mengingatkan suaminya mesti terlebih dahulu memastikan bahwa hatinya bersih dari kebencian dan niatnya murni untuk kebaikan, bukan untuk melampiaskan kekecewaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu, melainkan ia akan menghiasinya; dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, melainkan ia akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim no. 2594)

Kelembutan adalah dekorasi yang membikin segala sesuatu menjadi indah, termasuk dalam menyampaikan nasihat kepada suami. Sebaliknya, kekerasan dan ketajaman lidah cuma akan merusak hubungan dan menutup pintu perbaikan. Maka, seorang istri hendaknya memilih kata-kata yang lembut, memilih waktu yang tepat ketika suami sedang lapang dada, dan menyampaikan nasihat dengan penuh cinta, bukan dengan cacian maupun komparasi yang menyakitkan.

Salah satu metode bijak yang dicontohkan oleh para perempuan salehah adalah dengan menggunakan perantara maupun pendekatan tidak langsung. Misalnya, dengan membujuk suami menghadiri analisis bersama, maupun dengan menceritakan kisah orang lain yang memiliki masalah serupa tanpa menyinggung suami secara langsung. Cara ini sering kali lebih ampuh karena tidak membikin suami merasa diserang maupun direndahkan. Seorang istri juga dapat memanfaatkan momen-momen romantis maupun ketika kondisi hati suami sedang baik untuk menyampaikan hal-hal yang perlu diperbaiki, sehingga nasihat itu diterima dengan hati yang terbuka.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, karena bisa jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Hendaklah setiap istri agar tidak merendahkan suaminya, sekalipun ia memiliki kekurangan. Bisa jadi di balik kekurangan yang tampak, tersimpan kebaikan dan kelebihan yang tidak terlihat. Sikap saling menghormati dan tidak merendahkan adalah fondasi krusial dalam menjaga keutuhan rumah tangga. Ketika seorang istri bisa mengingatkan dengan penuh adab dan kelembutan, maka fluktuasi yang terjadi bukan cuma pada suami, tetapi juga pada hubungan yang semakin harmonis dan penuh berkah.

Doa untuk kebaikan pasangan

Ketika upaya lahiriah sudah dilakukan, maka senjata terakhir yang tidak boleh ditinggalkan adalah doa. Doa adalah bentuk pengakuan bahwa segala sesuatu eksis di bawah dominasi Allah Ta’ala, dan cuma Allah yang bisa mengubah hati manusia. Seorang istri yang menginginkan fluktuasi pada suaminya hendaklah memperbanyak doa, terutama di waktu-waktu mustajab seperti sepertiga malam terakhir, antara azan dan ikamah, serta ketika berpuasa. Doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan dan kepercayaan akan dikabulkan oleh Allah pada waktu yang tepat menurut hikmah-Nya.

Salah satu doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kebaikan pasangan adalah doa yang beliau ucapkan ketika menikahkan seseorang, yaitu:

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

“Semoga Allah memberkahimu, melimpahkan berkah atasmu, dan menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. Abu Dawud no. 2130 dan Tirmidzi no. 1091, disahihkan oleh Al-Albani)

Doa ini meskipun biasanya diucapkan saat kontrak nikah, maknanya statis relevan untuk diamalkan sepanjang pernikahan. Seorang istri dapat memohon kepada Allah agar senantiasa melimpahkan keberkahan, menyatukan hati, dan memperbaiki keadaan suaminya. Doa ini juga mengajarkan bahwa permintaan kepada Allah haruslah mencakup kebaikan yang menyeluruh, bukan cuma terbendung pada satu sisi tertentu.

Selain doa untuk suami, seorang istri juga perlu fokus pada perbaikan diri sendiri. Sering kali, fluktuasi pada orang lain dimulai dari fluktuasi pada diri kita sendiri. Ketika seorang istri memperbaiki ibadahnya, akhlaknya, dan sikapnya terhadap suami, maka tanpa disadari, hal itu akan mempengaruhi kondisi rumah tangga secara keseluruhan. Suami yang melihat istrinya semakin sabar, semakin tawadhu’, dan semakin dekat dengan Allah akan terdorong untuk memperbaiki dirinya sendiri. Inilah yang disebut dengan dakwah bil hal, yaitu berceramah melalui perbuatan nyata, bukan sekadar kata-kata.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Perubahan mesti dimulai dari diri sendiri, bukan menunggu orang lain berubah terlebih dahulu. Ketika seorang istri memperbaiki hubungannya dengan Allah Ta’ala, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia. Ketika ia memperbanyak istigfar dan tobat, maka Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan dalam rumah tangganya. Inilah rahasia yang sering dilupakan, bahwa kekuatan terbesar seorang istri bukanlah pada kemampuannya mengubah suami, melainkan pada kedekatannya dengan Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala juga mengajarkan doa yang sangat baik untuk memohon kebaikan pasangan dan keturunan. Doa tersebut ada dalam firman-Nya,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk mata (hati) kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Doa ini adalah doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca oleh setiap pasangan muslim, termasuk istri yang mendambakan suami yang saleh dan menjadi penyejuk hati. Perbanyaklah memohon kepada Allah dengan doa ini, sebagai bentuk tawakal menyerahkan segala urusan kepada Allah, dan meyakini bahwa Allah akan memberikan yang terbaik pada waktu yang tepat.

Rumah tangga adalah medan cobaan sekaligus ladang amal. Ketika suami tidak seideal yang diharapkan, seorang istri dihadapkan pada pilihan, yaitu menyerah dan berputus asa, maupun bersabar dan terus berupaya dengan metode yang diridai Allah. Islam telah memberikan tuntunan yang jelas dalam menghadapi situasi ini, yaitu dengan kesabaran yang disertai ikhtiar, mengingatkan dengan metode yang bijak dan penuh kelembutan, memperbanyak doa untuk kebaikan pasangan, serta fokus pada perbaikan diri sendiri. Semua ini bukanlah hal yang mudah, tetapi Allah tidak pernah membebani hamba-Nya di luar kesanggupannya.

Setiap muslimah yang bersabar dalam menghadapi cobaan rumah tangganya sejatinya sedang menabung pahala yang tidak terbatas. Setiap doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan akan dicatat sebagai kebaikan yang tidak akan sia-sia. Setiap upaya untuk mengingatkan suami dengan metode yang baik adalah bentuk dakwah yang mulia. Dan setiap perbaikan diri adalah cara menuju keridaan Allah yang akan membawa keberkahan dalam rumah tangga. Maka, janganlah putus asa, karena Allah berbareng orang-orang yang sabar, dan pertolongan-Nya selalu dekat bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam kebaikan.

Semoga Allah memperbaiki keadaan setiap rumah tangga kaum muslimin, menyatukan awas yang terpisah, dan menjadikan setiap muslimah sebagai istri yang salehah, sabar, dan penuh hikmah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Kincai Media

Artikel Lainnya Islami Muslimah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads