7 Pertanyaan yang Sebaiknya Ditanyakan Single Parent kepada HR Sebelum Menerima Pekerjaan

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 10 menit 511x dilihat
7 Pertanyaan yang Sebaiknya Ditanyakan Single Parent kepada HR Sebelum Menerima Pekerjaan

Bagikan Postingan

Single parent bekerja? Ini 7 pertanyaan krusial kepada HR sebelum menerima pekerjaan, mulai dari jam kerja, fleksibilitas, cuti, hingga childcare.

Menerima tawaran pekerjaan baru tentu bisa jadi berita yang menyenangkan. Apalagi jika sudah melewati proses interview, menunggu berita dari HR, lampau akhirnya mendapat email alias telepon yang mengatakan, “Selamat, Mommies diterima.”

Tapi buat seorang single parent yang bekerja, menerima pekerjaan bukan hanya soal gaji, jabatan, alias apakah kantornya punya suasana kerja yang menyenangkan. Ada satu pertanyaan yang gak kalah penting: apakah pekerjaan ini bisa melangkah beriringan dengan tanggung jawab Mommies sebagai orang tua?

Sebab, ketika anak sakit, sekolah tiba-tiba mengadakan kegiatan, pengasuh berhalangan datang, alias ada situasi family yang gak bisa ditunda, gak selalu ada pasangan yang bisa diajak bergantian mengambil alih.

Itulah kenapa sebelum mengatakan “yes” pada tawaran pekerjaan, ada baiknya Mommies menggali lebih banyak info kepada HR. Bukan untuk meminta perlakuan khusus, melainkan agar sejak awal Mommies tahu seperti apa ekspektasi perusahaan dan apakah sistem kerjanya memang cocok dengan kehidupan yang sedang dijalani.

BACA JUGA: 7 Beasiswa Kuliah yang Bisa Dimanfaatkan Keluarga Single Parent

Kenapa Single Parent Perlu Mempertimbangkan Sistem Kerja Sebelum Menerima Pekerjaan?

Foto: Magnific

Kebutuhan bakal elastisitas kerja sebenarnya bukan hanya persoalan single parent.

Laporan International Finance Corporation (IFC) tentang tempat kerja ramah family di Indonesia yang terbit pada 2025 menemukan bahwa separuh orang tua yang bekerja mengatakan tanggung jawab pengasuhan anak memengaruhi keahlian mereka di tempat kerja. Kondisi tersebut juga dikaitkan dengan rata-rata kehilangan sekitar empat hari kerja per tenaga kerja setiap tahun.

Euan Marshall, Country Manager IFC untuk Indonesia, menyebut, “Tanggung jawab pengasuhan sering kali menjadi halangan yang tidak terlihat terhadap produktivitas.” Menurutnya, support seperti elastisitas kerja dan support pengasuhan anak bukan hanya membantu pekerja, tetapi juga dapat membantu perusahaan mempertahankan talenta dan meningkatkan kinerja.

Temuan ini sejalan dengan penelitian yang diterbitkan di Journal of Marriage and Family pada 2025. Studi terhadap 1.152 pasangan dengan anak di bawah usia 12 tahun di Inggris tersebut menemukan kaitan antara pengaturan kerja elastis dan langkah orang tua menangani kebutuhan pengasuhan yang mengganggu pekerjaan.

Memang, penelitian tersebut bukan penelitian unik single parent dan dilakukan di Inggris. Namun, temuan ini tetap memberi gambaran bahwa pengaturan kerja bisa berpengaruh terhadap gimana orang tua mengelola pekerjaan dan tanggung jawab pengasuhan.

Artinya, membicarakan elastisitas sebelum menerima pekerjaan bukan berfaedah Mommies kurang profesional. Justru ini bagian dari memastikan pekerjaan dan kehidupan family bisa melangkah secara realistis.

Lalu, apa saja yang sebaiknya ditanyakan kepada HR?

1. “Seperti apa jam kerja sebenarnya untuk posisi ini?”

Jangan hanya berakhir di jawaban “Senin sampai Jumat, pukul 09.00–18.00”.

Mommies bisa menggali lebih detail: apakah ada kemungkinan pulang lebih malam, meeting sebelum jam kerja, lembur, alias pekerjaan yang tetap kudu dipantau setelah jam kantor? Kalau posisi tersebut menggunakan sistem shift, tanyakan juga seberapa jauh agenda kerja biasanya sudah diberikan kepada karyawan.

Hal ini krusial lantaran jam kerja di atas kertas belum tentu sama dengan ritme kerja sebenarnya.

Misalnya, jika jam instansi selesai pukul 18.00 tetapi meeting rutin baru berhujung pukul 19.00, tentu informasinya bakal sangat berbeda untuk Mommies yang kudu menjemput anak.

Jadi, jangan hanya bertanya, “Jam kerjanya sampai jam berapa?” tetapi coba cari tahu seperti apa pola kerja sehari-harinya.

2. “Apakah ada elastisitas jam kerja alias letak kerja?”

Kata “fleksibel” bisa punya makna yang berbeda di setiap perusahaan.

Jadi, jangan ragu bertanya secara spesifik apakah perusahaan menerapkan hybrid, work from home, flexible hours, alias kemungkinan menyesuaikan jam masuk dan pulang dalam kondisi tertentu.

Misalnya, apakah Mommies bisa mulai bekerja lebih pagi dan selesai lebih cepat? Apakah ada hari tertentu yang wajib masuk kantor? Kalau anak tiba-tiba sakit, apakah pekerjaan bisa dilanjutkan dari rumah?

Laporan IFC mengenai tempat kerja ramah family di Indonesia juga merekomendasikan elastisitas dalam lokasi, jam, dan agenda kerja, serta prosedur yang jelas untuk kebutuhan libur alias ketidakhadiran lantaran tanggung jawab pengasuhan.

Jadi, jangan puas dengan jawaban, “Kita cukup fleksibel, kok.”

Tanyakan corak fleksibelnya seperti apa.

Karena “fleksibel” yang berfaedah bisa WFH dua hari seminggu tentu berbeda dengan “fleksibel” yang sebenarnya hanya bertindak jika pemimpin sedang mengizinkan.

3. “Kalau anak sakit alias ada keadaan darurat keluarga, gimana kebijakan perusahaan?”

Ini salah satu pertanyaan yang mungkin terasa agak sensitif, tetapi justru krusial untuk ditanyakan sebelum menerima pekerjaan.

Mommies bisa bertanya tentang kebijakan izin ketika anak sakit, emergency leave, penggunaan cuti, alias apakah ada sistem untuk mengganti jam kerja jika kudu meninggalkan instansi dalam situasi tertentu.

Tanyakan juga kepada siapa Mommies kudu melapor dan gimana prosedurnya.

Jangan sampai setelah mulai bekerja baru mengetahui bahwa “boleh izin” rupanya berfaedah kudu melewati proses panjang alias sangat berjuntai pada kebijakan pemimpin langsung.

Kebijakan setiap perusahaan tentu bisa berbeda. Jadi, pertanyaannya bukan apakah Mommies otomatis mendapatkan akomodasi unik sebagai single parent, tetapi seperti apa patokan yang memang bertindak untuk tenaga kerja ketika ada kebutuhan family yang mendesak.

UNICEF juga memasukkan libur berbayar, pengaturan kerja fleksibel, dan support pengasuhan anak sebagai bagian dari praktik tempat kerja yang ramah keluarga.

4. “Seberapa sering posisi ini memerlukan lembur, kerja di akhir pekan, alias perjalanan dinas?”

Kadang info seperti ini gak terlalu terlihat saat proses interview.

Padahal, buat single parent, pekerjaan yang sering memerlukan perjalanan dinas mendadak alias lembur sampai malam tentu memerlukan pengaturan pengasuhan yang berbeda dibanding pekerjaan dengan agenda lebih terprediksi.

Mommies bisa bertanya:

  • Apakah lembur rutin dilakukan?
  • Apakah ada pekerjaan di akhir pekan?
  • Seberapa sering perjalanan dinas dilakukan?
  • Apakah agenda lembur biasanya sudah diketahui sebelumnya?
  • Kalau ada pekerjaan mendadak di luar jam kantor, gimana sistemnya?

Bukan berfaedah Mommies kudu mencari pekerjaan tanpa lembur sama sekali. Yang penting, Mommies tahu sejak awal apakah tuntutannya tetap bisa dikelola dengan support system yang dimiliki.

Karena pekerjaan dengan lembur dua kali sebulan yang jadwalnya bisa diprediksi tentu berbeda dengan pekerjaan yang nyaris setiap minggu memerlukan Mommies stand by sampai malam.

BACA JUGA: Dampak Pola Asuh Single Parent pada Tumbuh Kembang Anak

5. “Apakah perusahaan menyediakan alias membantu kebutuhan pengasuhan anak?”

Pertanyaan ini mungkin belum menjadi standar di banyak perusahaan Indonesia, tetapi gak ada salahnya ditanyakan.

Bentuknya juga gak selalu kudu daycare di kantor. Mommies bisa mencari tahu apakah ada dukungan pengasuhan anak alias childcare support, reimbursement tertentu, daycare partner, backup care, alias benefit lain yang berangkaian dengan kebutuhan keluarga.

Hal ini relevan lantaran akses terhadap childcare memang berangkaian dengan keahlian wanita untuk berperan-serta dalam bumi kerja. Analisis World Bank mengenai Indonesia menunjukkan bahwa keterbatasan pengasuhan anak dapat menjadi salah satu hambatan bagi wanita untuk masuk alias memperkuat di bumi kerja.

Laporan IFC di Indonesia juga memasukkan support pengasuhan anak sebagai salah satu kebijakan tempat kerja ramah family yang dapat membantu mengurangi ketidakhadiran dan mendukung pekerja tetap berada dalam bumi kerja.

Jadi, walaupun perusahaan gak punya daycare sendiri, tetap menarik untuk tahu apakah ada corak support lain yang bisa membantu tenaga kerja dengan tanggung jawab pengasuhan.

6. “Bagaimana perusahaan menilai performa jika ada kebutuhan family yang sesekali muncul?”

Ini pertanyaan yang sering terlupakan.

Mommies mungkin sudah tahu jam kerja, benefit, dan kebijakan cuti. Tapi gimana jika sesekali kudu izin lantaran anak sakit? Apakah yang dinilai hanya kehadiran fisik, alias berasas sasaran dan hasil pekerjaan?

Mommies bisa bertanya lebih spesifik:

“Untuk posisi ini, gimana perusahaan mengukur performa? Seberapa krusial kehadiran bentuk dibandingkan pencapaian sasaran dan hasil pekerjaan?”

Tanyakan juga seperti apa ekspektasi selama masa probation.

Jawaban HR bisa memberi gambaran tentang budaya kerja perusahaan.

Kalau perusahaan mengatakan, misalnya, “Yang krusial sasaran selesai dan komunikasi jelas,” tentu konteksnya berbeda dengan perusahaan yang sangat menekankan kehadiran bentuk apalagi ketika pekerjaan sebenarnya bisa dilakukan dari tempat lain.

Buat Mommies yang menjadi single parent, info seperti ini krusial lantaran kebutuhan family memang bisa muncul sesekali. Yang dicari bukan pekerjaan tanpa tantangan, tetapi lingkungan kerja yang punya ekspektasi jelas dan bisa dikomunikasikan.

7. “Kalau saya diterima, apakah semua kebijakan dan benefit ini tertulis dalam perjanjian alias employee handbook?”

Nah, ini pertanyaan terakhir yang menurutku wajib ditanyakan sebelum bilang yes.

Kalau selama interview HR mengatakan ada hybrid working, elastisitas jam kerja, libur keluarga, alias benefit tertentu, tanyakan apakah kebijakan tersebut tertulis secara resmi.

Mommies juga bisa meminta waktu untuk membaca perjanjian kerja, peraturan perusahaan, alias employee handbook sebelum memberikan keputusan final.

Karena pada akhirnya, yang Mommies butuhkan bukan sekadar janji bahwa perusahaan “family-friendly”, tetapi gambaran yang jelas tentang seperti apa patokan yang bakal dijalani sehari-hari.

Kalau ada info krusial yang hanya disampaikan secara lisan, jangan ragu meminta penjelasan lebih lanjut mengenai apakah kebijakan tersebut memang bertindak untuk posisi yang ditawarkan.

Perhatikan Juga Jawaban HR, Bukan Hanya Pertanyaannya

Foto: Magnific

Mommies mungkin konsentrasi menyiapkan tujuh pertanyaan di atas. Tapi sebenarnya, cara HR menjawab juga bisa memberikan info krusial tentang calon tempat kerja.

Misalnya, Mommies perlu lebih berhati-hati kalau:

  • Jawaban tentang jam kerja selalu “tergantung kebutuhan” tanpa penjelasan yang jelas.
  • HR mengatakan perusahaan fleksibel, tetapi gak bisa menjelaskan corak fleksibilitasnya.
  • Kebijakan izin alias libur sangat berjuntai pada “atasan masing-masing”.
  • Benefit yang dijanjikan hanya disampaikan secara lisan dan gak ada info tertulis yang bisa dirujuk.
  • Pertanyaan tentang work-life balance alias kebutuhan family justru langsung dianggap sebagai tanda kurangnya komitmen.

Tentu, satu jawaban kurang jelas belum tentu berfaedah perusahaan tersebut buruk. Mommies tetap perlu memandang keseluruhan konteks, termasuk posisi yang ditawarkan, calon atasan, sistem kerja tim, dan budaya perusahaan.

Tapi jika sejak awal Mommies sudah merasa gak nyaman alias mendapatkan jawaban yang sangat berbeda dari info yang sebelumnya disampaikan, jangan abaikan emosi tersebut.

BACA JUGA: 8 Film dan Drakor tentang Single Parent, dari Drama hingga Komedi

Checklist Sebelum Bilang “Yes” ke Pekerjaan Baru

Sebelum menerima tawaran pekerjaan, coba pastikan Mommies sudah mendapatkan jawaban atas hal-hal berikut:

  • Jam kerja dan ritme kerja sehari-hari
  • Sistem WFH, hybrid, alias elastisitas jam kerja
  • Kebijakan ketika anak sakit alias ada keadaan darurat keluarga
  • Frekuensi lembur dan pekerjaan di akhir pekan
  • Kemungkinan perjalanan dinas
  • Dukungan pengasuhan anak alias childcare benefit
  • Sistem penilaian performa dan ekspektasi selama probation
  • Kebijakan krusial yang tertulis dalam perjanjian alias employee handbook

Kalau sebagian besar pertanyaan tersebut sudah terjawab dengan jelas, Mommies bisa membikin keputusan berasas kondisi yang lebih realistis, bukan hanya berasas kesan saat interview.

Jangan Takut Bertanya, Mommies

Menjadi single parent sembari membangun pekerjaan memang memerlukan banyak pertimbangan. Ada kebutuhan anak, pekerjaan, finansial, kesehatan diri sendiri, sampai support system yang kudu dipikirkan dalam waktu bersamaan.

Karena itu, memilih pekerjaan sebaiknya gak hanya berasas nominal penghasilan alias nama besar perusahaan.

Tanyakan hal-hal yang memang krusial untuk kehidupan Mommies.

Bukan berfaedah kudu langsung menceritakan seluruh kondisi pribadi kepada HR. Mommies bisa tetap ahli dengan konsentrasi pada kebutuhan pekerjaan yang konkret, seperti agenda kerja, fleksibilitas, kebijakan cuti, dan ekspektasi posisi.

Dan satu perihal lagi: jawaban HR juga bisa menjadi petunjuk tentang budaya perusahaan.

Kalau HR terbuka menjelaskan kebijakan dan ekspektasinya, itu bisa menjadi tanda bahwa perusahaan memang punya sistem yang jelas. Sebaliknya, jika pertanyaan sederhana tentang jam kerja, cuti, alias elastisitas justru dianggap sebagai tanda Mommies “kurang berkomitmen”, mungkin ini waktunya mempertimbangkan lagi apakah pekerjaan tersebut betul-betul cocok.

Mencari pekerjaan yang cocok bukan berfaedah Mommies kurang ambisius. Mommies hanya sedang memastikan pekerjaan yang dipilih bisa hidup berdampingan dengan kehidupan keluarga.

Karena pekerjaan yang baik bukan hanya yang menerima kita sebagai karyawan, tetapi juga yang memungkinkan kita tetap menjalani kehidupan di luar pekerjaan dengan sehat dan realistis.

Mommies yang single parent, sebelum menerima pekerjaan biasanya paling mempertimbangkan perihal apa?

BACA JUGA: 7 Film Inspiratif tentang Orang Tua Tunggal, Single Parent Wajib Nonton!

Cover: Magnific

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
Close Right Ads
Close Left Ads