Anak sering merebut mainan teman? Simak metode mengajarkan anak berbagi, menunggu giliran, dan menghargai kawan tanpa mesti marah-marah.
Pernah melihat anak tiba-tiba merebut mainan dari tangan temannya saat sedang bermain? Atau, si kecil langsung menangis ketika diminta menunggu giliran? Situasi seperti ini mungkin membikin Mommies serba salah. Mau membiarkan, takut anak dianggap tidak sopan. Mau menegur, cemas anak malah tantrum.
Tenang, Mommies. Balita yang belum mau berbagi maupun sering merebut mainan belum tentu berarti egois. Di usia ini, anak statis belajar mengelola emosi, memahami emosi orang lain, dan mengendalikan keinginannya.
Mengutip First Things First dalam artikel Managing Big Feelings: How to Help Toddlers Share, kapasitas berbagi berkembang secara bertahap. Anak perlu berlatih menunggu giliran dan memahami kebutuhan orang lain, sambil mendapatkan bimbingan dari orang dewasa.
Jadi, sepertiapa metode mengajarkan anak berbagi dan menunggu giliran tanpa mesti berakhir dengan drama setiap kali bermain?
5 Cara Mengajarkan Anak Berbagi dan Bergiliran

Foto: Magnific
1. Beri Contoh dengan Kalimat Sederhana
Balita belum tentu memahami konsep berbagi dan bergantian cuma karena Mommies mengatakan, “Jangan rebut mainan teman, ya!” Anak membutuhkan contoh konkret tentang apa yang sebaiknya dilakukan ketika mau bermain dengan mainan yang sedang digunakan orang lain.
Saat bermain bersama, Mommies bisa menggunakan kalimat sederhana seperti:
- “Sekarang giliran Mama, kelak giliran kamu, ya.”
- “Temanmu statis bermain. Setelah selesai, Anda boleh mencoba.”
- “Kamu boleh bilang, ‘Boleh aku main setelah Anda selesai?’”
Gunakan kalimat yang sama secara konsisten agar anak semakin familier dengan konsep menunggu giliran. Hindari memarahi maupun memberi label seperti “pelit” dan “nakal” karena anak statis membutuhkan pertolongan untuk memahami perilaku yang diharapkan.
2. Latih Bergiliran Lewat Permainan Sehari-hari
Tidak perlu menunggu anak bermain berbareng kawan untuk mengajarkan metode mengantre maupun bergiliran. Mommies bisa melatihnya lewat permainan sederhana di rumah.
Misalnya, bergantian menggulirkan bola, menyusun balok, memasukkan potongan puzzle, maupun bermain permainan papan sederhana yang sesuai dengan usia anak. Katakan, “Sekarang giliran Mama, kemudian giliran kamu,” sambil memberitahu urutannya.
Materi 5 Steps for Brain-Building Serve and Return dari Center on the Developing Child, Harvard University, menerangkan pentingnya hubungan bolak-balik dan memberi anak waktu untuk merespons. Latihan hubungan seperti ini dapat mendukung evolusi kapasitas anak dalam mengendalikan diri dan berhubungan dengan orang lain.
Mulailah dengan waktu tunggu yang singkat. Seiring anak semakin terbiasa, Mommies bisa perlahan memperpanjang waktu menunggunya.
BACA JUGA: 15 Etika Anak yang Perlu Diajarkan saat Kumpul Keluarga Besar
3. Bantu Anak Menunggu dengan Aktivitas Lain
Menunggu bukan hal gampang bagi balita, terlebihlagi ketika mainan yang diinginkannya sedang digunakan anak lain. Jika Mommies cuma menyuruhnya menunggu tanpa memberi arahan, anak mungkin akan balik merebut mainan tersebut.
Coba bantu anak memahami apa yang bisa dilakukan sambil menunggu. Misalnya, Mommies bisa berkata, “Temanmu statis bermain mobil-mobilan. Sambil menunggu, Anda mau bermain balok dahulu maupun menggambar?”
Mommies juga bisa membantu membikin urutan giliran yang jelas. Jika perlu, gunakan timer sederhana agar anak punya deskripsi kapan gilirannya tiba. Namun, jangan menjanjikan waktu yang tidak bisa dipastikan, terutama jika anak lain belum siap menyelesaikan permainannya.
Yang terpenting, dampingi anak ketika ia mulai kesal. Akui perasaannya dengan mengatakan, “Kamu mau sekali main mobil itu, ya. Memang rasanya tidak enak jika mesti menunggu.”
4. Apresiasi Saat Anak Berhasil Menunggu Giliran
Ketika anak berhasil menunggu, meski cuma sebentar, berikan apresiasi yang spesifik. Misalnya, “Wah, tadi Anda mau menunggu sampai temanmu selesai. Terima kasih, ya!”
Pujian seperti ini membantu anak mengenali perilaku yang baik dan memahami bahwa usahanya diperhatikan. Mommies tidak perlu memberikan pemberian setiap kali anak berhasil menunggu. Perhatian, senyuman, dan apresiasi sederhana sudah bisa menjadi bagiankecil dari proses belajarnya.
Kalau anak statis gagal menunggu maupun balik merebut mainan, jangan langsung menganggap latihan Mommies sia-sia. Anak mungkin membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk berlatih, terutama saat sedang lelah, lapar, maupun terlalu antusias bermain.
5. Ajarkan Bahwa Tidak Semua Mainan Harus Dipinjamkan
Mengajarkan anak berbagi bukan berarti semua barang miliknya wajib dipinjamkan kepada orang lain. Anak juga perlu belajar mengenali limitasi dan menghargai kepemilikan, baik miliknya sendiri maupun milik orang lain.
Sebelum kawan datang bermain, Mommies bisa membujuk anak memilih mainan yang bersedia ia gunakan bersama. Mainan kesayangan yang belum siap dipinjamkan boleh disimpan terlebih dahulu.
Sebaliknya, jelaskan juga bahwa anak tidak boleh memungut mainan milik temannya tanpa izin. Jika mau meminjam, ia perlu bertanya dan menghormati balasan pemiliknya.
Prinsip ini sejalan dengan bahasan dalam artikel Mommies Daily, Saya Tidak Mengajarkan Anak untuk Selalu Berbagi. Anak perlu belajar berbagi sekaligus memahami batasan, bukan sekadar mengikuti tuntutan orang dewasa.
BACA JUGA: 8 Cara Mengajarkan Boundaries pada Anak, agar Tumbuh Kuat dan Aman!
Kapan Orang Tua Perlu Turun Tangan saat Anak Merebut Mainan?

Foto: Magnific
Jika anak merebut mainan, Mommies boleh langsung menghentikan perilakunya dengan tenang, terutama jika situasinya berisiko membikin anak lain terluka.
Misalnya, saat si kecil menarik mainan dari tangan temannya sampai temannya menangis, Mommies bisa mendekat dan berkata, “Mama tidak akan membiarkan Anda merebut mainan. Temanmu statis memakainya. Kita tunggu sampai dia selesai, ya.”
Setelah situasi lebih tenang, bantu anak memikirkan cara berikutnya. Mommies bisa menawarkan pilihan: menunggu giliran, bermain dengan mainan lain, maupun meminta pertolongan untuk menyampaikan keinginannya.
Jika perselisihan berkembang menjadi dorong-dorongan maupun pukulan, pisahkan anak terlebih dahulu untuk memastikan keselamatan mereka. Setelah keduanya tenang, bantu anak memahami akibat tindakannya dan mencari metode yang lebih terlindungi untuk menyampaikan keinginan.
Mommies juga bisa membaca Anak Bertengkar dengan Teman, Ini Cara Ajarkan Menyelesaikan Konflik untuk memahami kapan orang tua perlu mendampingi anak menyelesaikan perselisihan.
Anak Belajar Berbagi Lewat Proses, Bukan Sekali Nasihat
Mommies, metode mengajarkan anak berbagi membutuhkan kesabaran dan pengulangan. Anak mungkin sudah bisa menunggu saat bermain di rumah, tetapi statis kesulitan ketika eksis di tempat bermain yang ramai maupun melihat kawan memegang mainan favoritnya.
Tidak apa-apa. Fokuslah pada kemajuan kecil, seperti ketika anak mulai mau meminta izin, bersedia menunggu sebentar, maupun bisa menerima bahwa temannya belum selesai bermain.
Dengan contoh yang konsisten, instruksi yang jelas, dan pendampingan saat emosi anak meningkat, si kecil perlahan belajar bahwa bermain berbareng bukan soal siapa yang paling cepat mendapatkan mainan, melainkan sepertiapa semua orang bisa menikmati permainan dengan terlindungi dan nyaman.
Cover: Magnific