Anak Susah Fokus: Penyebab, Cara Mengatasi, dan Kapan Harus Cari Bantuan

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 7 menit 523x dilihat
Anak Susah Fokus: Penyebab, Cara Mengatasi, dan Kapan Harus Cari Bantuan

Bagikan Postingan

Anak susah konsentrasi apakah normal? Kenali penyebab, ciri-ciri, langkah mengatasi anak susah fokus, dan kapan perlu mencari support profesional. 

Menghadapi anak yang susah duduk tenang saat belajar, sering melamun, alias membiarkan tugasnya terbengkalai memang kerap menguji kesabaran. Di tengah era digital yang penuh distraksi, keluhan anak susah konsentrasi menjadi salah satu topik yang paling sering jadi bahan obrolan di ruang tunggu sekolah.

Namun, sebelum berasumsi jelek tentang tumbuh kembang anak, krusial bagi orang tua untuk memahami bahwa keahlian berkonsentrasi adalah keahlian yang berkembang seiring bertambahnya usia. Lantas, apakah anak susah konsentrasi itu normal? Apa saja penyebabnya dan kapan saatnya orang tua mencari support profesional? Yuk, simak ulasan lengkapnya.

BACA JUGA: Anak Laki-Laki Makin Pendiam? Ini Cara Komunikasi yang Tepat

Apa yang Dimaksud dengan Anak Susah Fokus?

Secara medis dan psikologis, anak yang mengalami kesulitan konsentrasi adalah anak yang mempunyai hambatan dalam mempertahankan perhatian, mengikuti petunjuk, alias menyelesaikan tugas yang sesuai dengan tahapan usianya. Mengutip penjelasan dari Dr. Roseann Capanna-Hodge, masalah konsentrasi pada anak sebenarnya sangat umum terjadi dan penyebabnya bisa sangat beragam.

Satu perihal krusial yang perlu orang tua garisbawahi: tidak semua anak yang susah berkonsentrasi di sekolah pasti mempunyai gangguan belajar alias neurodevelopmental seperti ADD/ADHD. Oxford Learning menegaskan bahwa hambatan anak yang susah berkonsentrasi sering kali dipicu oleh beragam aspek eksternal dan kebiasaan sehari-hari yang sangat bisa diperbaiki.

 Penyebab, Cara Mengatasi, dan Kapan Harus Cari Bantuan

Foto: Anastasia Shuraeva/Pexels

Rentang Fokus Anak Sesuai Usianya

Apakah Mommies dan Daddies tahu bahwa ekspektasi orang tua terhadap lama konsentrasi anak sering kali terlalu tinggi? Menurut penjelasan dari Dr. Christina Piron, seorang master anak, patokan umum (rule of thumb) perkiraan lama perhatian anak lama perhatian anak yang normal adalah 2 hingga 3 menit per tahun usia anak.

Artinya, rentang konsentrasi anak usia 2 tahun normalnya hanya memperkuat sekitar 4–6 menit, sementara anak usia 8 tahun berkisar antara 16–24 menit.  Untuk gambaran kasar, Ready Kids menyusun pedoman referensi lama konsentrasi anak sesuai usia sebagai berikut:

  • Usia 2 tahun: 4–6 menit
  • Usia 4 tahun: 8–12 menit
  • Usia 6 tahun: 12–18 menit
  • Usia 8 tahun: 16–24 menit
  • Usia 10 tahun: 20–30 menit
  • Usia 12 tahun: 24–36 menit
  • Usia 14 tahun: 28–42 menit
  • Usia 16 tahun: 32–48 menit

Tentu saja, nomor di atas bertindak pada kondisi optimal, ialah saat anak sudah cukup makan, tidak mengantuk, dan berada di lingkungan yang kondusif. Mendengarkan pembimbing berbincang di kelas memerlukan daya konsentrasi yang jauh lebih besar daripada saat anak enak-enak bermain gim kesukaannya.

BACA JUGA: Tanpa Sadar! 8 Kebiasaan Orang Tua yang Diam-Diam Membuat Anak Remaja Menjauh

Ragam Penyebab Anak Sulit Fokus yang Kerap Diabaikan

Jika anak terlihat sangat mudah terdistraksi, jangan langsung memberi label “nakal” alias “pemalas”. Berdasarkan ulasan klinis dari Flywheel Centers, ada banyak penyebab anak susah konsentrasi yang kerap tidak disadari orang tua:

  • Kurang tidur: Istirahat yang cukup sangat vital untuk perkembangan otak dan daya ingat. Kurang tidur membikin daya konsentrasi ambruk dan memicu emosi ketus.
  • Pola makan dan nutrisi: Pola makan yang kurang seimbang dapat memengaruhi kondisi tubuh dan kesiapan anak untuk beraktivitas. Karena itu, pastikan anak mendapatkan makanan bergizi dan cukup cairan, bukan hanya makanan tinggi gula alias makanan ultra-proses.
  • Jadwal terlalu padat: Aktivitas les dan sekolah yang berlebihan membikin anak kelelahan secara mental (overwhelmed).
  • Gangguan pemrosesan sensori (SPD): Otak anak kesulitan menyaring masukan sensori lantaran bunyi bising alias tekstur pakaian, sehingga perhatiannya mudah teralihkan.
  • Tantangan emosional: Perundungan, masalah keluarga, alias kekhawatiran dapat menyita kapabilitas pikiran anak.
  • Kurangnya rutinitas yang terstruktur: Tanpa agenda yang jelas, anak bingung mengenai apa yang kudu dikerjakan selanjutnya.
  • Paparan screen time berlebihan: Penggunaan gawai yang berlebihan, terutama jika sampai mengurangi waktu tidur, kegiatan fisik, bermain, alias belajar, dapat menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.

Foto: Anastasia Shuraeva/Pexels

Apakah Anak Susah Fokus Selalu Disebabkan ADHD?

Pertanyaan ini paling sering membikin orang tua cemas. Jawabannya: tidak selalu. Melansir tulisan edukasi dari Child Mind Institute, ada beberapa kondisi medis, di antaranya:

Gangguan Kecemasan (Anxiety)

Menurut Dr. Ken Schuster, kekhawatiran “mengunci” keahlian kerja otak sehingga anak terlihat linglung.

Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)

Menurut Dr. Jerry Bubrick, anak dengan OCD sering sibuk dengan dorongan kompulsif di pikirannya, seperti kudu menata pensil alias kudu sering ke bilik mandi untuk mencuci tangan, sehingga melewatkan penjelasan guru.

Stres dan Trauma (PTSD)

Dr. Jamie Howard menjelaskan bahwa indikasi PTSD seperti kewaspadaan berlebih (hypervigilance) dan mudah terkejut sangat mirip dengan kelakuan anak hiperaktif.

Gangguan Belajar (Dyslexia/Dyscalculia)

Prof. Nancy Rappaport dari Harvard Medical School menyebut bahwa anak yang frustrasi lantaran kesulitan membaca sering berpura-pura tidak konsentrasi untuk menutupi kekurangannya.

BACA JUGA: 7 Cara Menjadi Safe Place untuk Anak Remaja agar Mau Terbuka pada Orang Tua

Ciri-Ciri Anak Sulit Fokus yang Perlu Diwaspadai

Seperti dipaparkan oleh All Schools UK, orang tua perlu mencari support ketika anak menunjukkan tanda-tanda masalah konsentrasi yang berjalan lama dan mengganggu kehidupan sehari-hari mereka, seperti:

1. Selalu Kesulitan alias Menunda-Nunda untuk Mulai Mengerjakan Sesuatu

Anak bukan hanya sekadar malas, tetapi pikirannya terasa “macet” alias bingung kudu mulai dari mana. Saat disuruh buka kitab pelajaran alias merapikan mainan, mereka bisa berjam-jam hanya memandangi bukunya tanpa melakukan apa-apa.

2. Susah Memahami alias Mengikuti Arahan yang Diberikan

Kalau Mommies memberi 2–3 perintah sekaligus, contohnya, “Taruh tas di kamar, cuci tangan, terus duduk di meja makan”, anak sering kali hanya melakukan perintah pertama, lampau kebingungan alias malah sibuk melakukan perihal lain lantaran arahannya “terlepas” dari ingatan mereka.

3. Gelisah dan Nggak Bisa Diam

Anak terus-menerus mengetuk meja, menggoyangkan kaki, alias bolak-balik berdiri dari bangku saat kudu duduk tenang.

4. Sering Melamun (Zoning Out)

Tatapan mata anak sering terlihat “kosong” dan butuh dipanggil berulang kali sampai mereka sadar dari lamunannya.

Sesekali termenung tentu bisa normal, tetapi jika terjadi sangat sering dan sampai mengganggu kegiatan sehari-hari, perihal ini perlu diperhatikan.

5. Sangat Stres saat Harus Mengerjakan PR

Pengerjaan tugas sekolah selalu diwarnai drama berat, seperti menangis histeris, tantrum, alias meluapkan rasa frustrasi lantaran otaknya lelah.

6. Sangat Sensitif terhadap Sensori

Anak mudah terdistraksi alias risih berlebihan dengan hal-hal kecil, seperti label busana yang gatal, bunyi ribut yang tipis, alias lampu yang terlalu terang.

7. Mengganggu Fungsi Kehidupan Sehari-Hari

Masalah konsentrasi ini berakibat nyata pada merosotnya nilai sekolah, kesulitan bersosialisasi dengan teman, hingga sering menyebabkan bentrok di rumah.

Kesulitan konsentrasi bukan hanya muncul saat mengerjakan PR di rumah, tetapi juga terlihat di sekolah alias saat berinteraksi dengan orang lain.

Foto: kaboompics.com/Pexels

Cara Orang Tua Mengatasi Anak Susah Fokus di Rumah

Sebelum memutuskan untuk mengambil jalur medis, ada banyak langkah praktis yang bisa Mommies dan Daddies terapkan di rumah. Merujuk pada pedoman kesehatan dari Mandaya Hospital Group, berikut adalah beberapa langkah meningkatkan konsentrasi anak yang sangat efektif:

  • Berikan petunjuk yang jelas dan singkat: Gunakan kalimat sederhana dan minta anak mengulang petunjuk tersebut.
  • Pecah tugas besar: Bagi PR yang menumpuk menjadi bagian-bagian mini agar tidak terasa memberatkan.
  • Harus konsisten: Tetapkan jam belajar, bermain, dan tidur yang teratur setiap hari.
  • Bantu sesuai langkah anak belajar: Coba gunakan ragam langkah belajar, misalnya gambar, membaca keras-keras, praktik langsung, alias kegiatan yang melibatkan gerakan, lampau lihat metode mana yang membikin anak lebih mudah memahami materi.
  • Batasi screen time: Buat kesepakatan bebas gawai saat jam belajar dan sebelum tidur.
  • Rutin berolahraga: Ajak anak aktif bergerak secara rutin. Aktivitas bentuk membantu menjaga kebugaran dan dapat mendukung kesehatan, suasana hati, serta kesiapan anak untuk belajar.
  • Jalin komunikasi dengan guru: Diskusikan hambatan anak di kelas agar mendapat penanganan yang sejalan antara rumah dan sekolah.

BACA JUGA: Jangan Anggap Sepele! Ini 10 Tanda Anak Remaja Kurang Percaya Diri

Kapan dan Kepada Siapa Orang Tua Harus Mencari Bantuan?

Jika beragam langkah di atas sudah dicoba, tetapi anak tetap mengalami hambatan signifikan yang mengganggu kegunaan sosial dan akademisnya, ini saatnya mencari support profesional.

Lantas, kudu konsultasi ke master anak alias psikolog anak dulu? Menurut pedoman dari Naples Child Psychology, orang tua bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan berikut:

Dokter Spesialis Anak (Pediatrician)

Tepat untuk menjadi salah satu langkah awal, terutama jika orang tua mau memastikan apakah ada aspek medis yang ikut memengaruhi keahlian konsentrasi anak, sekaligus mendapatkan pengarahan alias rujukan jika diperlukan.

Psikolog Anak

Sangat tepat jika masalah utama anak berangkaian dengan perilaku, emosi, kecemasan, trauma, kesulitan fokus, dugaan gangguan belajar, dan neurodevelopmental seperti pertimbangan mendalam untuk ADHD dan spektrum autisme.

Psikolog anak dapat membantu mengevaluasi aspek perilaku, emosi, keahlian belajar, dan kondisi psikologis anak serta memberikan intervensi alias rekomendasi sesuai hasil pemeriksaan.

Cover: Gustavo Fring/Pexels
Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
Close Right Ads
Close Left Ads