Kincai Media , JAKARTA -- Membicarakan soal sejarah masuknya Islam ke Nusantara, tak bisa dipisahkan dengan sosok nama Prof Dr Hamka. Ulama dan sejarawan yang berjulukan original Haji Abdul Malik Karim Amrullah dan berkawan dipanggil Buya Hamka tersebut, termasuk yang meyakini bahwa Islam masuk ke Nusantara pada masa awal-awal perkembangan Islam.
Dalam catatan Hamka di bukunya yang berjudul Sejarah Umat Islam, Hamka menggaris bawahi tentang catatan China yang menyatakan bahwa di Chopo ada sebuah kerajaan berhama Holing. Pada 674-675 M, diangkat seorang ratu kerajaan tersebut berjulukan Sima yang menjadi pemimpinnya.
Negeri Holing itu sangat kondusif dan makmur sejak Ratu Sima memerintah dengan sangat setara dan menjaga keamanan. Kabar negeri itu didengar oleh Raja Ta-Cheh. Lalu, Raja Ta-Cheh itu mengutus orang ke Negeri Sima untuk membuktikan info itu.
Oleh utusan tadi, dicecerkan pundi-pundi emas di tanah yang masuk dalam daerah Kerajaan Sima. Namun, setelah berhari-hari, tidak ada satu pun orang yang mengambilnya.
Akhirnya, setelah tiga tahun pundi-pundi emas itu tergeletak begitu saja di jalanan pusat kota Kerajaan Sima, datanglah putra ratu dan mengambil emas itu. Ratu Sima kemudian murka dan memerintahkan menteri-menterinya menghukum anak itu.
"Mulanya ratu memerintahkan balasan mati, namun para menteri meminta agar balasan itu diringankan, akhirnya hanya menjadi balasan pangkas kaki putranya tersebut," tulis Buya Hamka.
Terkait dengan penelitian sejarah-sejarah antik di Nusantara itu, Buya Hamka menyebut bahwa dapat disimpulkan bahwa yang dinamai oleh mahir sejarah dalam catatan China itu bahwa Chopo adalah Tanah Jawa, dan Holing adalah Kerajaan Kalingga. Sementara Ratu Sima, adalah Ratu Sima seorang raja wanita di Kerajaan Kalingga pada masa itu, dan diakui pula dalam sejarah bahwa beberapa kali Kerajaan Kalingga mengirim utusan ke Negeri China.
Adapun Ta-Cheh, adalah nama yang diberikan oleh orang China kepada seorang Arab. Dalam catatan itu disebutkan ialah Raja Ta-Cheh yang berfaedah Raja Arab.
"Maka, berkerutlah kening para peneliti di Barat itu mencari siapa agaknya Raja Ta-Cheh itu. Bahkan, ada saja yang mengambil keputusan bahwa catatan China itu adalah dongeng saja. Tetapi belakangan ini sudah timbul dalam kalangan mereka yang meninjau kembali dengan seksama tulisan dalam catatan China itu,"tulis Hamka.
Hamka kemudian melanjutkan, bahwa Raja Besar Arab yang mahsyur pada masa itu adalah Muawiyah bin Abu Sufyan. Dia adalah salah satu sahabat Nabi dan peletak dasar kekhalifahan Dinati Bani Umayyah.
"Amat besar kemungkinan tidak ada orang lain tempat memasangkan Raja Ta-Cheh itu melainkan Muawiyah. Besar kemungkinan bahwa penyelidikan ke Tanah Jawa ini banget rapat persangkutannya dengan upaya beliau mendirikan armada Islam. Sebab, beliaulah yang mula-mula mendirikan armada angkatan laut dalam kekhalifahan Islam.
Mungkin sekali bahwa setelah utusan itu alias mata-mata menyelidiki sendiri ke Tanah Jawa dan menguji info tentang keteguhan hati Ratu Simo. baginda hendak mengirim utusan memasuki pulau-pulau Melayu (Nusantara)," tulis Hamka.
Sementara, catatan lainnya yang menunjukkan adanya hubungan antara kekhalifahan Dinasti Umayyah dengan Nusantara juga tercatat dalam sejarah.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·