Kincai Media , JAKARTA -- Dalam menyebarkan risalah Islam, Nabi Muhammad SAW mengalami masa-masa kesedihan. Ada sebuah periode terberat yang dirasakan beliau. Ketika itu, wahyu dari Allah SWT terhenti selama beberapa hari sehingga Rasulullah SAW bersungkawa hati.
Ibnu Abbas meriwayatkan, terhentinya wahyu itu membikin kondisi jiwa Nabi Muhammad SAW terpukul. Pada saat yang sama, kaum musyrikin Quraisy terus mengolok-olok beliau. Mereka berkata, “Tuhannya Muhammad telah meninggalkannya!"
Hingga akhirnya, turunlah surah adh-Dhuha sehingga menggembirakan hati Nabi Muhammad SAW. Surah itu menegaskan bahwa tudingan orang-orang kafir tidak benar.
وَالضُّحٰىۙ
وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ
"Demi waktu duha, dan demi waktu malam andaikan telah sunyi, Tuhanmu (Nabi Muhammad) tidak meninggalkan dan tidak (pula) membencimu."
Melalui ayat ini, Allah menyampaikan dengan perkataan yang sangat individual kepada Rasul-Nya. Dia menyebut Diri-Nya sebagai “Tuhanmu.” Ini menguatkan hati Nabi Muhammad SAW yang sedang rentan akibat persekusi kaum musyrikin.
Pesan utamanya sangat jelas bahwa Allah tidak pernah meninggalkan Rasul-Nya. Dia juga tidak sedang murka kepada Nabi SAW.
Allah Ta'ala juga menjanjikan kepada Nabi SAW banyak karunia di akhirat, termasuk syafaat yang agung.
وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰىۗ ٥
“Sungguh, kelak (di alambaka nanti) Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau rida” (QS adh-Dhuha: 5).
English (US) ·
Indonesian (ID) ·