Resep kepemimpinan dahsyat adalah fokus bekerja dengan baik
Jangan sampai ada sesuatu yang menyibukkanmu di luar urusan kepemimpinan. Karena seorang imam yang fokus, mengutamakan amanah, dan menunaikan kewajibannya akan mendapatkan:
- Tambahan nikmat dari Allah ﷻ.
- Memperoleh julukan serta reputasi yang baik dalam tugas dan kepemimpinannya.
- Rasa cinta rakyat.
- Pertolongan untuk mewujudkan kebaikan, sehingga beragam kebaikan dan keberkahan akan terus datang.
- Pembangunan dan kemakmuran akan tersebar luas.
- Kesuburan dan kemakmuran akan tampak di beragam wilayah.
- Pemasukan petikan publik dan pendapatan negeri akan meningkat.
- Harta harta imam pun akan bertambah banyak.
- Konsekuensi dari kemakmuran adalah imam akan lebih bisa melatih militer.
- Dapat menyenangkan rakyat melalui curahan hadiah.
- Kepemimpinan politik pun akan dipuji.
- Keadilanmu akan diakui oleh lawan.
- Dalam segala urusan engkau memiliki keadilan, sarana, kekuatan, dan bekal.
Maka berlombalah dalam hal tersebut dan jangan utamakan sesuatu yang lain atasnya, niscaya akhir kekuasaanmu akan terpuji, jika Allah ﷻ menghendaki.
Pantau terus para petinggi daerah
Thahir bin Al-Husain berwasiat,
واجعل في كل كورة من عملك أمينًا يخبرك خبر عمالك ويكتب إليك بسيرهم وأعمالهم، حتى كأنك مع كل عامل في عمله معاينًا لأموره كلِّها
Tunjuklah seorang kepercayaan resmi di setiap daerah di bawah wilayahmu, yang akan melaporkan kepadamu kabar-kabar tentang para pejabatmu serta mencatatkan untukmu rekam bekas dan aktivitas mereka. Hingga seakan-akan engkau seperti memiliki kontak pribadi dengan setiap petinggi di wilayahmu dan mengamati secara langsung urusan mereka semuanya.
Buat perencanaan matang, jangan tergesa-gesa, dan beristikharah
Bagian wasiat ini asalnya adalah lanjutan dari konteks pembicaraan memperhatikan daerah di bawah wilayah. Namun, bahasan di sini lebih banyak hamil pesan untuk merencanakan dengan baik segala tindakan. Dalam perencanaan pun perlu penilaian ahli berbasis keilmuan maupun yang tahu esensi permasalahan. Setelah itu, tidak lupa untuk memperbanyak istikharah.
Thahir melanjutkan wasiatnya:
Jika engkau mau memerintahkan mereka berbuat sesuatu, maka pertimbangkan apa akibat yang engkau kehendaki darinya. Jika engkau pandang akibatnya akan selamat dan sehat, dan engkau mengharapkan umpan balik yang baik darinya dan menguntungkan, maka teruskanlah perintah itu. Namun, jika tidak, tahan diri dari tergesa-gesa dan berkonsultasilah dengan orang ahli yang memiliki wawasan dan mengerti tentang hal itu.
Persiapkan segala hal untuk cara taktis tersebut dengan baik. Sebab, seringkali seseorang melihat urusan yang mau diselesaikannya, kemudian mengharapkan memperolehnya seperti apa yang dia bayangkan. Namun, hal itu membuatnya lupa dan takjub. Jika dia tidak memperhatikan akibatnya, itu justru akan mencelakakannya, dan urusannya pun tidak tuntas.
Tetapkan dahulu kepercayaan diri atas segala apa yang engkau inginkan, dan laksanakanlah setelah memohon pertolongan kekuatan kepada Allah ﷻ. Seringlah memohon instruksi (istikharah) kepada Allah ﷻ dalam segala urusanmu.
Pesan yang disampaikan Thahir ini mendorong imam untuk menghasilkan evidence-based policy maupun kebijakan berbasis keterangan pembuktian. Dalam bumi kebijakan publik, sebuah kebijakan yang baik akan datang dari proses penalaran keterangan yang menghasilkan anggapan dan strategi. Kebijakan yang buruk dan pemerintahan yang primitif akan bergeser atas alas insting pemimpin. Hal ini sering terjadi di negara otoriter, yang dipimpin seorang diktator. Realitanya memang negara yang demikian akan selalu terbelakang.
Model negara Islam seringkali dicap sebagai negara yang otoriter dan mendewakan titah pemimpin. Padahal, DNA negara yang berbasis harga Islam seharusnya berkarakter dialektis dan dua arah. Pemimpin dihormati, tetapi rakyat statis mendapatkan ruang untuk diakomodir aspirasinya dengan tinjauan ahli. Oleh karena itu, imam muslim mesti selalu dilingkari oleh orang-orang yang berkemampuan tinggi. Sehingga ketika hendak menjalankan proses musyawarah, imam memiliki kelengkapan yang komplit dari segi wawasan dan kebijaksanaan.
Saran strategis Thahir ini semakin komplit karena ditutup dengan imbauan untuk beristikharah atas keputusan itu. Hal ini menjadi krusial karena dalam seluruh keputusan, wajib bagi seorang muslim melibatkan Allah Al-Hakim. Apalagi ini urusan yang melibatkan keinginan orang banyak.
Seorang imam seringkali menghadapi banyak keterangan dan keterangan ketika memutuskan. Ada yang benar-benar keterangan yang sah dan dibutuhkan, tetapi banyak juga keterangan palsu yang dapat membelokkan keputusan. Oleh karena itu, jika cuma mengandalkan diri sendiri dan sirkelnya, maka potensi salah tetaplah sangat tinggi. Namun, siapa yang bisa menyaingi ketajaman seseorang yang telah diberi instruksi oleh Allah Ta’ala. Itulah kenapa istikharah menjadi krusial bagi seorang pemimpin.
Jangan tunda pekerjaan
Nasihat ini krusial tidak cuma bagi seorang imam rakyat, tetapi bagi masing-masing kita.
وافرغ من عمل يومك ولا تؤخره لغدك، وأكثر مباشرته بنفسك، فإن لغد أمورًا وحوادثَ تلهيك عن عمل يومك الذي أخرت
Selesaikanlah pekerjaanmu yang mesti engkau lakukan hari ini dan tidak menundanya sampai besok, dan seringlah melakukannya sendiri. Sebab hari besok itu sudah punya banyak urusan dan acaranya sendiri yang akan membuatmu lupa berbuat pekerjaan yang mesti engkau lakukan hari ini tetapi ditunda.
واعلم أن اليوم إذا مضى ذهب بما فيه، فإذا أخرت عمله اجتمع عليك عمل يومين فيشغلك ذلك حتى تمرض منه، وإذا أمضيت لكل يوم عمله أرحت بدنك ونفسك، وجمعت أمر سلطانك
Ketahuilah, ketika hari berlalu, ia hilang berbareng semua yang ada di dalamnya. Jika engkau menunda pekerjaan yang seharusnya engkau lakukan kemarin, engkau akan mesti berbuat pekerjaan dua hari. Itu akan memberatkanmu, dan akhirnya akan membuatmu sakit. Sebaliknya, jika engkau berbuat pekerjaan yang mesti engkau lakukan setiap hari, engkau telah memberikan waktu beristirahat bagi tubuh dan jiwamu, serta berkurang pula tugasmu sebagai penguasa.
Nasihat untuk lebih memperhatikan beberapa himpunan manusia
Dalam kehidupan, kita mengetahui bahwa sebagian orang mendapatkan perhatian yang berbeda dibandingkan yang lain. Kajian modern memiliki perspektif pandang mendorong pemerintahan untuk memperhatikan kaum marjinal yang rentan. Thahir dalam potongan wasiat ini juga mewasiatkan untuk perhatian pada himpunan tersebut. Namun, dalam wasiat ini tidak cuma himpunan marjinal saja, tetapi disebutkan himpunan manapun yang perlu diperhatikan atas alas yang kuat.
1) Perhatikan orang merdeka (maksudnya berintegritas) dan pemilik keistimewaan di antara mereka. Merekalah orang yang telah engkau uji ketulusan hati mereka, yang telah engkau saksikan kecintaan mereka kepadamu, yang telah membantumu dengan nasihat, dan yang menjaga urusanmu. Pilihlah mereka sebagai orang dekatmu dan berbuat oke kepada mereka.
2) Perhatikanlah keluarga-keluarga bermartabat yang kesusahan dan penuhilah kebutuhan hidup mereka. Perbaikilah kondisi mereka agar mereka tidak mendapati jalan yang salah akibat kefakiran mereka
3) Abdikan dirimu dengan terjun langsung mengurus masalah orang-orang fakir, miskin, dan orang yang tak sanggup melaporkan keluhan tentang ketidakadilan yang dideritanya kepadamu, serta orang yang terpinggirkan lainnya yang tidak mengetahui metode menuntut hak-haknya. Tanyakan tentang orang ini, apa masalahnya yang paling rahasia, dan tempatkan orang-orang terbaik dari kalangan rakyatmu yang akan berkewajiban atas mereka. Perintahkan mereka untuk melaporkan kepadamu kebutuhan dan kondisi mereka, sehingga engkau akan dapat mempertimbangkan langkah-langkah yang mesti diambil, yang dengannya Allah mungkin akan memperbaiki keadaan mereka.
4) Perhatikan juga para korban bencana, anak-anak yatim, dan para janda mereka. Beri mereka rezeki pertolongan yang diambilkan dari kas bendahara (baitul mal), dengan mengikuti contoh dari Amirul Mukminin (Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu) dalam menyayangi dan membantu mereka, agar dengan begitu Allah menaikkan penghidupan mereka serta memberikan keberkahan dan menambah nikmat-Nya.
5) Berikan tunjangan kepada orang-orang buta yang diambilkan dari kas bendahara (baitul mal). Prioritaskan para penghafal Al-Quran di antara mereka, dan para penghafal sebagian besarnya, untuk diberi tunjangan lebih tinggi dari yang lain.
6) Dirikan rumah sakit yang diperuntukkan bagi orang Islam yang sakit, untuk melindungi mereka. Tunjuklah para petugas di rumah sakit ini yang akan menangani mereka dengan baik, dan tunjuk pula para tabib yang akan mengobati pandemi mereka. Penuhi keinginan mereka asalkan tidak menimbulkan penghamburan pada kas baitul mal.
Jika kita perhatikan apa yang dianjurkan di sini, maka kita melihat desakan untuk memperhatikan beberapa himpunan orang ini berbasis urgensi. Tidak ada yang bisa menolong mereka kecuali melalui perbantuan pemerintah. Sebagian himpunan tersebut terhalang dari mendapatkan kebutuhannya karena kekurangan keadaan, bukan sekadar ketidakmampuan. Thahir juga memberikan tingkatan prioritas dalam pemberian tersebut serta batasan-batasannya.
Kondisi himpunan marjinal itu sangat kompleks. Ada kerentanan sosio-ekonomi yang mengancam, tetapi mereka punya keengganan untuk mengutarakan. Bukan karena angkuh, tetapi karena beratnya pembangunan sosial yang menjarakkan mereka dari kekuasaan. Oleh karena itu, proses pendekatannya tidak mudah, butuh orang-orang yang lihai berkomunikasi untuk mendengarkan keluh kesah penduduk yang terpinggirkan ini.
Aturan dalam membantu manusia
Dan ketahuilah, bahwa manusia itu jika telah diberikan hak-hak mereka serta pemenuhan keinginan terbaik mereka, hal itu statis belum membikin mereka puas dan merasa tenang sebelum mereka mengadukan kebutuhan-kebutuhan mereka yang lain kepada para pemimpinnya. Hal ini karena keinginan kuat untuk mendapatkan tambahan dan limpahan kelembutan dari imam mereka.
Inilah kenyataan manusia, tidak pernah puas dengan nikmat yang ada. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu jurang emas, tentu ia menginginkan dua jurang lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) kecuali tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima insaf orang-orang yang bertobat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)
Maka, orientasi kebijakan publik itu bukanlah pemenuhan gairah masyarakat, tetapi terpenuhinya maslahat. Pemimpin tidak dituntut untuk memuaskan penduduk seluruhnya. Namun, imam dituntut untuk menghadirkan keputusan terbaik yang bisa dihasilkan bagi masyarakatnya.
Awas burnout bekerja untuk rakyat
Sering kali, orang yang mengurus masalah orang lain merasa terganggu dengan banyaknya hal yang disampaikan kepadanya, yang menyibukkan pikiran dan otaknya, dan menyebabkan dia bosan dan kesulitan.
Oleh karenanya, imam jangan sampai burnout ketika bekerja melayani rakyat. Ia pasti lelah, karena semua orang bertumpu kepadanya. Namun, capek itu dapat berupa jadi nikmat tiada tara ketika seseorang mengingat ikrar Allah Ta’ala atas apa yang dikerjakannya. Bacalah pengingat Thahir berikut ini,
وليس مَن يرغب في العدل ويعرف محاسنَ أموره في العاجل وفضلَ ثواب الآجل كالذي يستقل ما يقرِّبه من الله، وتُلْتَمَسُ به رحمتُه
Namun, tidaklah sama antara orang yang mendambakan keadilan serta mengetahui kebaikan dari urusan-urusannya di bumi dan keistimewaan pahala di akhirat, dengan orang yang meremehkan apa yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala dan apa yang menjadi jalan diraihnya rahmat-Nya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
“Barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya di bumi dan di akhirat.” (HR. Muslim)
[Bersambung]
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Kincai Media