ILUSTRASI Perang Salib.
Kincai Media, JAKARTA— Jawaban atas pertanyaan ini dicoba diungkap Yasin Aktay, akademisi yang juga politikus, serta penulis asal Turki, dalam artikelnya yang dikutip dari Aljazeera, Kamis (15/10/2026).
Penulis menilai bahwa Max Weber bertolak dari praduga yang diwariskan ketika mengkaji Islam, berbeda dengan pendekatannya terhadap agama-agama lain.
Buku Bryan S Turner berjudul Max Weber and Islam: A Critical Study, yang telah aku terjemahkan ke dalam bahasa Turki bertahun-tahun lalu, mengungkap salah satu paradoks paling mencolok dalam sosiologi Weber.
Max Weber merupakan salah satu pelopor metode “sosiologi interpretatif” (verstehende Soziologie) yang membawa fluktuasi besar dalam sosiologi modern.
Dia berpandangan bahwa untuk memahami aksi sosial, seseorang mesti berangkat dari arti yang diberikan oleh pelaku itu sendiri terhadap perilakunya.
Namun, ketika membahas Islam, Weber justru mengesampingkan metodenya tersebut sampai batas tertentu.
Ia tidak memulai kajiannya dari metode umat Islam memahami bumi mereka sendiri, tetapi menggunakan kerangka berpikir yang telah dibangun Barat tentang Islam selama berabad-abad.
Keistimewaan metode Weber terletak pada penolakannya untuk menerangkan realitas sosial dengan mereduksinya menjadi sekumpulan aspek eksternal.
Sebaliknya, dia berpandangan bahwa seseorang mesti terlebih dahulu memasuki bumi pelaku sosial untuk memahami tindakannya.
Ketika mengkaji perilaku ekonomi umat Kristen Protestan, misalnya, Weber memberikan perhatian serius terhadap kepercayaan mereka mengenai takdir, keselamatan, pekerjaan, dan keberhasilan duniawi.
Dia tidak melihat Protestanisme sekadar sebagai bayangan kepentingan kelas maupun kondisi ekonomi. Sebaliknya, dia berupaya memahami sepertiapa kepercayaan keyakinan membentuk perilaku manusia.