Kincai Media, Oleh: KH Muiz Ali, Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI
الْخُطْبَةُ الْأُولَى
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بَسَطَ لِعِبَادِهِ أَبْوَابَ الْأَرْزَاقِ، وَأَبَاحَ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ، وَجَعَلَ تَحَرِّيَ الْحَلَالِ مِنْ صِدْقِ الْإِيمَانِ وَحِفْظِ الْأَمَانَاتِ، وَحَذَّرَهُمْ مِنَ الْخَبَائِثِ وَأَكْلِ الْحُقُوقِ وَاتِّبَاعِ الشَّهَوَاتِ. نَحْمَدُهُ عَلَى مَا أَوْلَانَا مِنَ النِّعَمِ وَالْهِبَاتِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِمَّا اقْتَرَفْنَا مِنَ الذُّنُوبِ وَالتَّبِعَاتِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ وَتُكْشَفُ الْخَفِيَّاتُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، دَعَا إِلَى طِيبِ الْمَكَاسِبِ وَصِدْقِ الْمُعَامَلَاتِ، وَهَدَى أٌمَّتَهُ إِلَى الْوَرَعِ وَاجْتِنَابِ الشُّبُهَاتِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، إِمَامِ الْهُدَى وَقُدْوَةِ الْأُمَنَاءِ وَالثِّقَاتِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَاءِ وَالْمَكْرُمَاتِ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تَعَاقَبَتِ الْأَيَّامُ وَالسَّاعَاتُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَفِي الْمَطَاعِمِ وَالْمَشَارِبِ وَالْمُعَامَلَاتِ؛ فَإِنَّ مَنْ رَاقَبَ اللَّهَ فِي كَسْبِهِ وَقُوتِهِ، كَانَ أَحْرَى بِالسَّلَامَةِ مِنَ التَّبِعَاتِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: ﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ﴾ وقال سبحانه: ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ﴾
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita memperbarui ketakwaan kepada Allah dengan memperhatikan perkara yang setiap hari begitu dekat dengan kita: makanan yang kita santap dan nafkah yang kita bawa pulang. Di tengah kesibukan kota, sering kali makan menjadi aktivitas yang kita selipkan di antara aktivitas lain. Sarapan sambil berangkat, makan siang di sela rapat, kemudian memesan makan malam melalui telepon ketika badan sudah letih. Makanan datang dengan cepat; kesempatan untuk memikirkan asal-usulnya justru semakin sedikit.
Kita tentu mau memberikan yang terbaik kepada keluarga.
Kita memilih makanan yang bersih, membaca tanggal kedaluwarsa, dan berupaya menyesuaikan berbelanja dengan kemampuan. Dalam perhatian yang baik itu, ada amanah yang perlu terus kita hidupkan: memastikan bahwa yang kita nikmati dibolehkan oleh Allah. Anak yang menunggu makanan di rumah belum dapat memeriksa supplier daging maupun bahan tambahan di dalamnya. Ia menerima dengan percaya. Di situlah kasih sayang orang tua memperoleh bentuk yang sangat nyata: mengusahakan makanan yang sah dengan nafkah yang sah pula.
Ayat yang baru kita dengarkan mempertemukan dua tuntunan, ḥalâlan thayyiban: sah dan baik. Makanan sah mesti statis dijaga kebersihan, keamanan dan kelayakannya. Sesuatu yang boleh dimakan juga perlu dikonsumsi secara wajar, dengan memperhatikan keadaan tubuh. Allah berfirman, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan.” (QS. al-A’râf [7]: 31). Maka perhatian terhadap sertifikat sah harus berjalan berbareng perhatian terhadap kesehatan dan kesederhanaan; masing-masing memiliki tempat dalam tanggung jawab kita.
Lebih dalam lagi, Allah menghubungkan makanan dengan pengabdian. Kepada para rasul, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan kerjakanlah kebaikan saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (QS. al-Mu`minûn [23]: 51).
Penyandingan antara makanan yang baik dan kebaikan saleh ini membujuk kita melihat makanan sebagai bagiankecil dari hayat beragama. Tenaga untuk bekerja, melayani orang tua, mendidik anak, dan menunaikan salat perlu ditopang oleh sesuatu yang kita peroleh dengan benar. Kesalehan yang kita harapkan tumbuh dalam rumah tangga patut kita usahakan sejak mencari penghasilan, memilih belanja, sampai menghidangkan makanan.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.
Dalam histori yang sama, beliau mengatakan seorang lelaki yang menempuh perjalanan panjang, kusut rambutnya, berdebu tubuhnya, dan mengadopsi kedua tangan sambil memohon, “Yâ Rabb, yâ Rabb….” Kemudian beliau bersabda:
وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi asupan dari yang haram. Maka sepertiapa doanya akan dikabulkan? (HR. Muslim, no. 1015).[1]