Di era globalisasi dan media sosial, budaya K-Pop menyebar dengan sangat sigap ke beragam penjuru dunia. Musik, drama, fashion, hingga style hidup para idol menjadi panutan bagi jutaan remaja, termasuk di kalangan kaum muslimin terutama muslimah. Fenomena ini tidak hanya terbatas pada sekadar menikmati musik alias hiburan, tetapi sering kali berkembang menjadi fanatisme yang kuat terhadap para idol tersebut.
Sebagian orang mungkin hanya menikmati lagu alias intermezo mereka secara biasa. Namun sebagian yang lain sampai pada tingkat yang lebih jauh: menghafal semua lagu, mengikuti setiap kegiatan idol, memihak mereka tanpa kritik, meniru style hidupnya, apalagi menjadikannya sebagai figur panutan dalam kehidupan.
Oleh lantaran itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya sekadar: “Bolehkah mengidolakan idol K-Pop?” Tetapi pertanyaan yang lebih mendalam adalah: “Apa dampaknya terhadap iman, hati, dan identitas seorang muslimah?”
Islam adalah kepercayaan yang sangat menjaga hati manusia. Dalam pandangan Islam, hati merupakan pusat keagamaan dan sumber segala kebaikan perbuatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika dia baik, maka oke seluruh tubuh; dan jika dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)
Oleh lantaran itu, pembahasan mengenai kejadian idol K-Pop bukan sekadar persoalan hiburan, tetapi menyangkut arah hati dan loyalitas seorang Muslim.
Islam mengatur siapa yang layak dijadikan idola
Manusia secara fitrah memerlukan figur panutan. Dalam kehidupan, seseorang condong meniru orang yang dia kagumi. Oleh lantaran itu, Islam tidak membiarkan manusia memilih panutan secara sembarangan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menunjukkan figur terbaik yang layak dijadikan teladan, ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Azza wa Jalla berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian, ialah bagi orang yang berambisi kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Dalam Islam, pujaan bukan sekadar orang yang terkenal, tampan, berbakat, alias populer. Idola adalah orang yang membawa manusia semakin dekat kepada Allah dan negeri akhirat.
Allah Ta’ala juga mengingatkan,
قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ ࣖ
“Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, kekayaan kekayaan yang Anda usahakan, perdagangan yang Anda khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang Anda sukai, lebih Anda cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)
Ayat ini mengingatkan bahwa kecintaan kepada makhluk tidak boleh melampaui kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Maka pertanyaan yang perlu direnungkan adalah: apakah figur idol K-Pop membawa kita semakin cinta kepada Allah, alias justru mengalihkan hati dari-Nya?
Perbedaan antara mengagumi dan mengidolakan
Tidak semua corak kekaguman dilarang. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang boleh saja mengakui kelebihan orang lain. Namun perlu dibedakan antara mengagumi secara wajar dan mengidolakan secara fanatik.
Pertama: Mengagumi kemampuan
Mengakui bahwa seseorang mempunyai bunyi yang bagus, kerja keras, alias kedisiplinan yang tinggi. Pada asalnya, perihal ini termasuk perkara yang mubah, selama tidak melanggar batas syariat.
Kedua: Mengidolakan dengan fanatisme
Fanatisme biasanya ditandai dengan beberapa hal, seperti:
– Mengikuti semua kegiatan idol tanpa filter;
– Membela idol walaupun jelas melakukan kesalahan;
– Meniru style berpakaian dan style hidupnya;
– Menghabiskan waktu dan duit secara berlebihan;
– Merasa tersinggung alias marah ketika idolanya dikritik.
Fanatisme semacam ini rawan lantaran dapat mempengaruhi hati dan prioritas hidup seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Iman salah seorang dari kalian tidak sempurna hingga saya lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari no. 15 dan Muslim no. 44)
Jika hati seseorang lebih dipenuhi nama artis daripada nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ini menjadi tanda bahwa hatinya perlu diperbaiki.
Masalah tasyabbuh dan identitas
Salah satu persoalan dalam kejadian K-Pop adalah unsur peniruan budaya dan style hidup (tasyabbuh). Industri K-Pop sering kali membawa nilai-nilai yang tidak sesuai dengan aliran Islam, seperti:
– Membuka aurat;
– Tarian sensual;
– Normalisasi hubungan bebas;
– Gaya hidup sekuler yang jauh dari nilai agama.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud no. 4031 dan Ahmad no. 5114)
Industri intermezo dan masalah musik
Industri K-Pop merupakan bagian dari industri intermezo dunia yang sangat berjuntai pada musik, visualisasi, dan intermezo yang sering kali mengandung unsur syahwat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ليكوننَّ من أمتي أقوامٌ يستحِلُّونَ الحِرَ والحريرَ والخمرَ والمعازفَ
“Sungguh bakal ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutra, khamr, dan alat-alat musik.” (HR. Bukhari no. 5590)
Baca juga: Syubhat-Syubhat Penghalal Musik
Dampak fanatisme terhadap hati dan waktu
Fanatisme terhadap idol sering kali membawa akibat negatif dalam kehidupan seorang Muslim. Di antaranya:
– Lalai dari salat;
– Begadang demi menonton alias streaming;
– Menghabiskan duit untuk membeli dan mengoleksi merchandise;
– Emosi tidak stabil lantaran kehidupan idol.
Padahal Allah Azza wa Jalla berfirman,
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
“Belumkah tiba waktunya bagi orang-orang beragama untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid: 16)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412)
Waktu merupakan amanah yang bakal dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Cinta berlebihan yang membutakan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ
“Di antara manusia ada yang menjadikan tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)
Ayat ini menunjukkan bahwa cinta yang berlebihan kepada makhluk dapat menjerumuskan hati pada pengagungan yang tidak semestinya.
Dalam realitas fandom (kelompok alias organisasi yang terdiri dari orang-orang yang sangat menyukai perihal yang sama, seperti artis, grup musik, film, alias anime), sering ditemukan:
– Penggemar menangis panik ketika memandang idol;
– Rela melakukan apa saja demi idol;
– Merasa hidupnya kosong tanpa idol tersebut;
– Menghamburkan kekayaan hanya untuk memandang penampilannya.
Ini menunjukkan adanya ketergantungan hati yang tidak sehat.
Siapa pujaan sejati seorang Muslim?
Salah satu kejadian menyedihkan di era ini adalah banyak pemuda dan pemudi yang mengenal perincian kehidupan artis, tetapi tidak mengenal tokoh-tokoh agung dalam Islam. Sebagian remaja mengetahui tanggal lahir idol K-Pop, makanan favoritnya, warna kesukaannya apalagi hewan peliharaannya.
Namun, mereka tidak mengetahui kisah Khadijah, ‘Aisyah, Fathimah dan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam radhiyallahu ‘anhum. Padahal, mereka radhiyallahu ‘anhum adalah figur terbaik dalam sejarah umat manusia.
Teladan para sahabat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” (HR. Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533)
Para sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum adalah manusia terbaik setelah para nabi. Allah Ta’ala memuji para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar,
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Bahaya salah memilih idola
Idola mempunyai pengaruh besar dalam membentuk kepribadian seseorang, termasuk: langkah berpikir, standar kecantikan, style berpakaian, tujuan hidup, dan yang paling membahayakan adalah pengaruh ideologi yang menyimpang dari kepercayaan Islam. Jika seseorang menjadikan figur yang jauh dari nilai kepercayaan sebagai panutan, maka secara perlahan arah hidupnya bakal condong kepada dunia.
Allah Ta’ala berfirman,
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا
“Pada hari itu, orang yang kejam menggigit kedua tangannya seraya berkata, ‘Seandainya dulu saya mengambil jalan berbareng Rasul.’” (QS. Al-Furqan: 27)
Anak muda memang memerlukan figur panutan. Itu adalah fitrah manusia. Namun, Islam telah memberikan teladan terbaik sepanjang sejarah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan orang-orang saleh. Mereka bukan sekadar terkenal alias berbakat, tetapi mereka adalah manusia yang paling mulia di sisi Allah.
Semoga Allah memenuhi hati kita dengan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan orang-orang saleh. Semoga Allah juga menjaga generasi muda kaum Muslimin dari ketergantungan hati kepada figur yang tidak membawa kepada kebaikan akhirat.
Hal ini dikuatkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kedudukan cinta kepada orang-orang saleh. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
المرءُ مع من أحبَّ
“Seseorang bakal berbareng dengan orang yang dia cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,
فما فرِحنا بشيءٍ فرَحَنا بقَولِ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: أنتَ مع مَن أحبَبتَ، قال أنَسٌ: فأنا أُحِبُّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وأبا بَكرٍ، وعُمَرَ، وأرجو أن أكونَ معهُم بحُبِّي إيَّاهم، وإن لَم أعمَلْ بمِثلِ أعمالِهم.
“Kami tidak pernah merasa begitu ceria terhadap sesuatu sebagaimana kegembiraan kami terhadap sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Engkau bakal berbareng orang yang engkau cintai.’
Anas berkata, “Maka saya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga Abu Bakar dan Umar. Dan saya berambisi bisa berbareng mereka lantaran kecintaanku kepada mereka, meskipun saya tidak bisa beramal seperti amal-amal mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh lantaran itu, mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan orang-orang saleh bukan hanya sekadar perasaan, tetapi juga menjadi karena seseorang dikumpulkan berbareng mereka di alambaka kelak. Inilah motivasi bagi kaum Muslimin untuk menjadikan mereka sebagai teladan dalam iman, akhlak, dan kehidupan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya, dan orang-orang saleh, serta mengumpulkan kita berbareng mereka di surga-Nya. Aamiin.
Wallahu Ta’ala a’lam.
Baca juga: Tiga Kriteria Manusia yang Tidak Layak Menjadi Teladan
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Kincai Media