Bunda mau mencoba menanam kimpul alias talas di rumah? Mari simak langkah menanam kimpul di rumah yang mudah untuk pemula.
Cara menanam kimpul sendiri di rumah bisa menjadi pilihan bagi yang mau memanfaatkan lahan kosong untuk menanam tanaman pangan. Kimpul alias talas putih (Xanthosoma sagittifolium) dikenal sebagai tanaman umbi yang dapat tumbuh di daerah tropis dan menghasilkan umbi yang kaya karbohidrat.
Tanaman ini juga relatif sigap tumbuh selama mendapatkan cukup cahaya, tanah subur, kelembapan yang sesuai, serta suhu hangat. Mengutip kitab Teknologi Pengolahan Talas dan Aplikasinya karya Islamil Sulaiman dan Santi Noviasari, kimpul disebut mempunyai kandungan karbohidrat sekitar 70,73 persen dan dapat diolah menjadi beragam makanan, seperti getuk, keripik, hingga perkedel.
Kimpul tidak boleh dikonsumsi dalam kondisi mentah lantaran mengandung kalsium oksalat yang dapat menimbulkan rasa gatal dan iritasi. Oleh karena itu, selain mengetahui langkah menanamnya, krusial pula memahami langkah merawat dan mengolah kimpul dengan benar.
Mengenal kimpul sebelum menanamnya
Kimpul putih alias Xanthosoma sagittifolium merupakan tanaman dari famili Araceae dengan genus Xanthosoma. Tanaman ini mempunyai daun berbentuk menyerupai anak panah yang tumbuh tegak dan dapat mencapai tinggi hingga sekitar dua meter.
Bagian umbinya berkembang di dalam tanah dan menjadi bagian yang banyak dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat. Dibandingkan sekadar tanaman hias, kimpul juga berpotensi menjadi tanaman pangan rumahan.
Dengan tanah yang subur, air yang cukup tapi tidak berlebihan, sinar mentari memadai, serta suhu hangat, tanaman ini dapat tumbuh dengan cepat. Namun pastikan pengolahan umbinya dilakukan secara menyeluruh sebelum dikonsumsi lantaran kimpul mentah mengandung kalsium oksalat.
Cara menanam kimpul sendiri di rumah
Berikut menanam tanaman kimpul sendiri di rumah.
1. Siapkan umbi kimpul untuk bibit
Kimpul dapat diperbanyak menggunakan umbi utuh maupun umbi anakan alias cormel yang tumbuh di sekitar umbi utama. Bagian pucuk dari umbi utama juga dapat digunakan untuk menghasilkan tanaman baru.
Pilih bibit yang sehat, tidak busuk, tak berlendir, dan tidak menunjukkan tanda serangan penyakit agar pertumbuhannya lebih optimal. Penanaman sebaiknya dilakukan ketika kondisi lingkungan cukup hangat.
Setelah mendapatkan bibit, tanam bagian umbi alias cormel pada media yang lembap dan subur. Kimpul termasuk tanaman yang pertumbuhannya sigap dalam satu musim sehingga bibit yang sehat bakal lebih mudah berkembang menjadi tanaman dengan daun berukuran besar.
2. Gunakan tanah yang subur dan mempunyai drainase baik
Kimpul menyukai tanah yang dalam, subur, gembur, serta kaya bahan organik. Campuran tanah dengan kompos alias bahan organik yang cukup dapat membantu menyediakan nutrisi sekaligus membikin media tidak mudah pada
Kondisi tanah yang baik juga krusial lantaran umbi kimpul berkembang di dalam tanah. Hal yang perlu diperhatikan juga jangan menanam kimpul di tanah yang selalu tergenang.
Berbeda dengan beberapa jenis talas yang lebih tahan terhadap kondisi basah, kimpul lebih menyukai tanah lembap tapi tetap mempunyai drainase baik. Jika ditanam dalam pot, gunakan wadah yang mempunyai lubang drainase agar air tidak menggenang dan menyebabkan umbi membusuk.
3. Pilih letak dengan sinar mentari cukup
Kimpul memerlukan sinar mentari agar dapat tumbuh dengan baik. Usahakan tanaman mendapatkan sekitar 4 sampai 6 jam sinar mentari langsung setiap hari.
Paparan sinar selama enam jam alias lebih dapat membantu tanaman menghasilkan umbi yang lebih besar, meski kimpul tetap bisa beradaptasi dengan kondisi teduh sebagian. Jika menanam kimpul di dalam rumah, letakkan tanaman di dekat jendela yang mendapatkan sinar terang.
Untuk penanaman dalam jangka panjang, area luar ruangan dengan sinar mentari yang cukup biasanya lebih ideal lantaran kimpul merupakan tanaman tropis memerlukan kehangatan untuk berkembang.
4. Siram secara rutin, namun jangan sampai tergenang
Penyiraman menjadi salah satu bagian krusial dalam langkah menanam kimpul. Tanaman ini memerlukan tanah yang konsisten lembap selama masa pertumbuhan.
Penyiraman secara mendalam sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu dapat dilakukan, kemudian frekuensinya disesuaikan dengan kondisi cuaca dan tingkat kekeringan tanah. Hindari kebiasaan hanya menyiram sedikit air setiap hari.
Penyiraman dalam jumlah cukup membikin air dapat mencapai area perakaran yang lebih dalam. Pada cuaca sangat panas, tanaman mungkin memerlukan air lebih sering. Sebaliknya, ketika tanah tetap lembap, penyiraman dapat dikurangi agar umbi tidak mengalami pembusukan.
5. Pastikan suhu dan kelembapan sesuai
Sebagai tanaman tropis, kimpul tumbuh optimal pada kondisi hangat dan lembap. Suhu sekitar 20 sampai 30 derajat Celsius cocok untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Kelembapan udara sekitar 60 hingga 85 persen juga membantu menjaga daun besar kimpul tetap sehat.
Daun kimpul yang berukuran besar dan relatif tipis dapat mengalami bagian tepi yang kecokelatan alias robek andaikan tanaman berada dalam kondisi terlalu kering, terkena angin kencang, alias kekurangan air. Oleh karena itu, pilih letak yang terlindung dari angin berlebihan dan pertahankan kelembapan tanah secara konsisten.
6. Berikan pupuk secara berkala
Kimpul termasuk tanaman yang memerlukan cukup banyak nutrisi selama masa pertumbuhan. Pupuk seimbang dapat diberikan sekitar tiga hingga empat minggu sekali untuk membantu menunjang perkembangan tanaman.
Pemberian pupuk juga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tanaman dan kesuburan media tanam. Ketika umbi mulai berkembang, pupuk dengan kandungan kalium lebih tinggi dapat dipertimbangkan untuk mendukung pembentukan dan penyimpanan pati pada umbi.
Jangan langsung memberikan pupuk pada tanaman yang baru dipindahkan, sedang layu, alias mengalami stres. Tunggu sampai tanaman menunjukkan pertumbuhan baru yang sehat.
7. Beri ruang tumbuh yang cukup
Salah satu kesalahan dalam menanam kimpul adalah menggunakan media yang terlalu dangkal alias padat. Kondisi tersebut dapat membikin pertumbuhan umbi kurang maksimal apalagi menghasilkan umbi berukuran mini alias bercabang.
Jika ditanam di pot, pilih wadah yang cukup dalam sehingga akar dan umbi mempunyai ruang untuk berkembang. Untuk penanaman di tanah, gemburkan media terlebih dulu dan campurkan kompos agar struktur tanah menjadi lebih longgar. Tanah yang dalam dan subur bakal memberikan ruang bagi umbi untuk berkembang selama musim pertumbuhan.
8. Waspadai masalah yang sering muncul
Kimpul dapat mengalami beberapa masalah selama proses budidaya. Salah satunya busuk umbi akibat terlalu banyak air. Kondisi ini biasanya terjadi ketika tanaman ditanam pada media yang tergenang alias penyiraman dilakukan secara berlebihan.
Untuk itu, prinsipnya menjaga tanah tetap lembap, bukan basah dan tergenang. Daun yang terbakar alias robek juga dapat menjadi tanda tanaman mengalami kekeringan, udara terlalu kering, alias terlalu banyak terkena angin.
Sementara itu, umbi yang mini dapat disebabkan oleh tanah yang padat, dangkal, kurang subur, alias masa pertumbuhan yang terlalu singkat. Perbaikan media tanam dan pemberian air serta nutrisi yang konsisten dapat membantu mengatasinya.
9. Perhatikan keamanan kimpul sebelum dikonsumsi
Meski umbi kimpul dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat, seluruh bagian tanaman dalam kondisi mentah mengandung kalsium oksalat. Senyawa tersebut dapat menyebabkan rasa gatal dan iritasi sehingga kimpul kudu dimasak secara menyeluruh sebelum dikonsumsi.
Pengolahan kimpul secara tepat menjadi bagian krusial setelah sukses memanennya. Umbi dapat dimanfaatkan untuk beragam olahan makanan setelah dimasak dengan benar. Dalam bahan yang ditampilkan pada gambar, kimpul juga disebut telah lama dimanfaatkan masyarakat dan dapat diolah menjadi makanan seperti getuk, keripik, serta beragam produk berbahan dasar pati.
10. Jauhkan dari hewan peliharaan
Selain perlu diperhatikan untuk konsumsi manusia, kimpul juga sebaiknya ditempatkan jauh dari jangkauan hewan peliharaan. Bahan yang diberikan menyebut bahwa Xanthosoma sagittifolium berbisa bagi kucing dan anjing lantaran kandungan kalsium oksalat tidak larut.
Paparan tanaman tersebut dapat menyebabkan iritasi pada mulut, rasa terbakar pada mulut, lidah dan bibir, air liur berlebihan, muntah, hingga kesulitan menelan. Karena itu, jika kimpul ditanam di rumah yang mempunyai hewan piaraan alias anak kecil, pilih letak yang kondusif dan tidak mudah dijangkau.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)