Caught Between Three Fires: Menelusuri Jejak Penghulu Dari Masa Kerajaan Hingga Kolonial

Dec 07, 2025 09:51 PM - 5 bulan yang lalu 169012
 Menelusuri Jejak Penghulu dari Masa Kerajaan hingga KolonialCaught Between Three Fires: Menelusuri Jejak Penghulu dari Masa Kerajaan hingga Kolonial

Kincai Media – Mengutip kitab Caught Between Three Fires; Penghulu di Masa Kolonial Belanda (1882–1942), tradisi Jawa mempercayai bahwa ketaatan berakidah adalah tembok yang menjaga rakyat dari ancaman kejahatan, sebuah fondasi spiritual yang memungkinkan umat menjalankan ibadah dengan khusyuk demi terciptanya berkah dan kesejahteraan. 

Pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Jawa, kepercayaan ini menempatkan penghulu sebagai figur sentral dalam merawat harmoni, bukan sekadar pejabat agama, tetapi penjaga keseimbangan antara ajaran, tatanan sosial, dan legitimasi kekuasaan. Bagi raja, stabilitas kerajaan berakar pada keteguhan iman, dan penghulu adalah jembatan yang mempertahankan keseimbangan dalam keseharian rakyat.

Komitmen kerajaan Jawa dalam menjaga keseimbangan antara ketaatan berakidah dengan keteraturan tatanan sosial terlihat dari terbentuknya struktur manajemen keagamaan. Hal ini menjadi landasan utama berdirinya Pangulon sebagai lembaga alias instansi sebagai wadah penghulu untuk menjaga harmoni antara makrokosmos dan mikrokosmos.

Performa penghulu dalam struktur manajemen keagamaan didukung dengan kewenangan unik yang diberikan oleh kerajaan, ialah tanah yang diserahkan kepada pejabat kepercayaan tujuannya untuk agar mereka cukup kuat secara finansial, sehingga bisa memaksimalkan pelayanan keagamaan. 

Fasilitas seperti tanah yang diberikan oleh kerajaan untuk para pejabat kepercayaan bukan keputusan sembarangan. Fasilitas ini memang layak didapatkan, lantaran peran penghulu bukan sekedar menjadi berilmu yang mengerti aliran Islam saja. Raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi kala itu, mendelegasikan sebagian kewenangannya kepada patih, adipati, dan penghulu. 

Mereka berkedudukan sebagai penasihat dan kerap kali membantu Sultan mengambil keputusan. Maka dari itu, latar belakang penghulu menjadi sangat penting, kedudukan penghulu kudu diisi oleh kalangan pelajar yang menguasai pengetahuan kepercayaan dan berada di tingkat kesalehan yang tinggi. 

Sebagai penghulu penguasaan pengetahuan keagamaan dan kesalehan tingkat tinggi memang sangat relevan dengan kebutuhan sosial masyarakat kala itu. Di tingkat tatanan sosial masyarakat, penghulu sebagai pengambil keputusan dengan cakupan yang lebih luas. Penghulu merupakan tingkatan tertinggi dari kedudukan agama. 

Penghulu mempunyai tugas-tugas yang langsung bersenggolan dengan masyarakat seperti, warisan (perkara wasiat), memutuskan balasan mati, mahir astronomi, mahir kitab-kitab agama, pemimpin masjid besar, khatib, dan pembimbing agama. 

Layaknya seorang dokter, penghulu mempunyai skill yang secara langsung memberikan ruang bagi dirinya untuk mendiagnosa dan menjatuhkan vonis terhadap kondisi sosial masyarakat. Dengan demikian, peran penghulu melampaui domain ritual, dia menjadi tokoh kunci dalam proses legitimasi politik, stabilitas sosial, dan pemeliharaan tatanan kerajaan.  

Apa rahasia stabilitas Kerajaan Jawa? Buku ini menyingkap peran sentral Penghulu sebagai jembatan antara Tuhan, Raja, dan Rakyat. Kupas selengkapnya dalam kitab “Caught Between Three Fires: Penghulu di Masa Kolonial Belanda (1882–1942)”.

Bagi pembaca yang mau menelusuri lebih jauh perjalanan sejarah kepenghuluan dan dilema otoritas Islam di era Hindia Belanda, kitab tersebut dapat diperoleh melalui tautan berikut:

https://bit.ly/preordersejarahpenghuluprofhisyam

Selengkapnya