Larangan Berlebihan Dalam Beragama

May 19, 2026 08:30 PM - 4 jam yang lalu 165

Kincai Media , JAKARTA -- Pada suatu ketika, Nabi Muhammad SAW masuk ke dalam masjid. Tiba-tiba, beliau mendapati ada seutas tali yang menjulur antara dua tiang.

Beliau kemudian bertanya, "Tali apa ini?"

Seorang sahabat menjawab, "Itu tali milik Zainab. Jika dia merasa capek berdiri dalam shalat, maka digunakannya tali itu untuk berpegangan."

Lepaskan tali itu," perintah Nabi SAW, "hendaknya kalian shalat dalam keadaan baik, dan jika lelah, maka sebaiknya tidur."

Dari kisah itu, Rasulullah SAW memberi peringatan dan teguran kepada siapapun Muslim yang berlebih-lebihan dalam melaksanakan perintah agama. Dalam perkara shalat pun, misalnya, Nabi SAW memberikan panduan: hendaknya seseorang mendirikan shalat sesuai dengan kadar kemampuannya.

Jabir bin Samurah, seorang sahabat Nabi SAW, pernah memberikan kesaksian ihwal shalatnya Nabi SAW. Kata dia, "Aku telah shalat berbareng Rasulullah SAW. Shalat beliau itu sedang, dan khutbahnya juga sedang."

Sedang yang dimaksudkannya ialah, referensi beliau tidak terlalu panjang, tetapi juga tidak kelewat pendek. Sedang berfaedah pertengahan antara kedua titik ekstrem tersebut.

Maka, jangan berlebihan dalam berakidah sampai-sampai bertindak di luar kewajaran. Pernah suatu ketika, tiga orang laki-laki datang berjamu ke rumah Rasulullah SAW. Waktu itu, Nabi SAW belum datang.

Maka, ketiganya menanyakan tentang ibadah keseharian Nabi SAW kepada seorang istri beliau. Sesudah mereka mendapatkan jawaban, ada emosi yang tetap tersimpan. Bukankah Rasulullah telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah, baik yang lampau maupun yang bakal datang?

"Kalau begitu," kata si orang pertama, "aku bakal shalat malam sepanjang malam."

"Aku bakal puasa selamanya," ujar orang kedua menimpali.

"Adapun aku," ujar orang ketiga, "aku bakal menjauhkan diri dari wanita dan tak bakal menikah.''

Setelah Rasulullah SAW datang, beliau bertanya, "Kaliankah yang telah berbicara begini dan begitu? Demi Allah, saya adalah insan yang lebih takut dan lebih bertakwa (kepada Allah) daripada kalian. Aku berpuasa, tetapi juga berbuka. Aku mendirikan shalat malam, tetapi saya juga tidur, dan saya pun menikah. Maka, siapa yang membenci sunnahku, dia bukan dari umatku."

Dalam sebuah sabda lain, Nabi SAW bersabda, "Sungguh kepercayaan ini mudah. Tidaklah seseorang mempersulit kepercayaan selain dia bakal dikalahkan (menjadi semakin berat dan sulit). Maka bersikap luruslah, mendekatlah (kepada yang benar), dan berilah berita gembira, serta carilah pertolongan pada (waktu) al-ghadwah (awal pagi) dan ar-rawhah (setelah zuhur), dan sesuatu dari ad-duljah (sebagian waktu malam)" (HR Bukhari dari Abu Hurairah RA).

Selengkapnya