Pada kesempatan sebelumnya, kita telah membaca bahwa orang-orang musyrik Quraisy mendustakan hari kiamat, apalagi mereka mengolok-ngolok hari tersebut, juga mengolok-ngolok Rasulullah.
Allah menurunkan surah An-Nazi’at ayat 15 sampai 26 sebagai tasliyah alias hiburan bagi Rasulullah, bahwa bukan hanya beliau yang diolok-olok oleh obyek dakwahnya, para Nabi terdahulu juga dihina oleh obyek dakwahnya. Namun pada akhirnya, Allah memberikan kemenangan kepada Nabi-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ مُوْسٰىۘ
“Sudah sampaikah kepadamu (Nabi Muhammad) kisah Musa?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 15)
Allah menggunakan kata tanya dengan corak tasywiq (membentuk rasa mau tahu) dan targhib (memotivasi untuk tahu) pada kisah Nabi Musa ‘alaihissalam. Hal ini agar seseorang semakin siap mendengarkan apa yang bakal Allah firmankan setelahnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اِذْ نَادٰىهُ رَبُّهٗ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًىۚ
“(Ingatlah) ketika Tuhannya menyeru dia (Musa) di lembah suci, ialah lembah Tuwa.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 16)
Allah meceritakan, bahwa Dia memanggil Nabi Musa ‘alaihissalam dari sebuah lembah yang disucikan dan diberkahi berjulukan Tuwa yang letaknya di gunung Tursina. Allah berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam dalam lanjutan ayat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۖ
“Pergilah engkau kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 17)
Fir’aun telah melakukan sewenang-wenang dan melampaui batas yang Allah Ta’ala berikan. Dia menyiksa Bani Israil, menjadikan mereka budak, dan prajuritnya melakukan tindakan tidak senonoh kepada wanita Bani Israil. Bahkan yang paling parah, Fir’aun mengaku sebagai tuhan yang layak disembah. Suatu kedurhakaan yang sangat mengerikan, menggabungkan durhaka kepada Allah dan kejam kepada manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَقُلْ هَلْ لَّكَ اِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰىۙ
“Lalu, katakanlah (kepada Fir‘aun), ‘Adakah keinginanmu untuk menyucikan diri (dari kesesatan)?'” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 18)
Nabi Musa diperintahkan untuk berbicara dengan perkataan yang lembut dan indah, “Apakah engkau mau membersihkan dirimu dari kesalahan, dosa, dan kezaliman?”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاَهْدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ فَتَخْشٰىۚ
“Dan saya bakal menunjukimu ke (jalan) Tuhanmu agar engkau takut (kepada-Nya)?’” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 19)
Nabi Musa juga berkata, “Serta saya bakal tunjukkan kepada engkau jalan mengenal Rabb semesta alam, serta saya tunjukkan kepada engkau langkah alim mematuhi-Nya, juga mempunyai rasa takut kepada-Nya.”
Dalam sebagian tafsir disebutkan, Nabi Musa membimbing Fir’aun agar takut kepada Allah bukan lantaran sembarang perintah, bakal tetapi dikarenakan rasa takut kepada Allah adalah pondasi utama menjalankan perintah-Nya. Siapa saja yang merasa takut kepada Allah, maka bakal datang kepadanya segala kebaikan.
Dijelaskan pula bahwa Nabi Musa memulai pembicaraan kepada Fir’aun dengan corak pertanyaan, dalam rangka memberikan penawaran baik kepadanya, bukan perintah yang tegas dan langsung. Seakan-akan seperti tuan rumah yang bertanya kepada tamu, “Apakah kalian mau makan sesuatu?”
Dijelaskan pula bahwa perkataan Nabi Musa kepada Fir’aun adalah perkataan yang lembut lagi santun, padahal yang dihadapi adalah orang kejam bengis yang mengaku sebagai tuhan. Mengapa perihal ini dilakukan? Hal ini agar Fir’aun bisa tertarik dan menjadi lunak hatinya dengan kelembutan Nabi Musa. Hal ini juga merupakan sunnatullah bahwa secara umum, orang yang melakukan lembut bakal disikapi dengan lembut pula oleh musuh bicaranya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاَرٰىهُ الْاٰيَةَ الْكُبْرٰىۖ
“Lalu, dia (Musa) memperlihatkan mukjizat yang besar kepadanya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 20)
Ayat ini terkesan “lompat” dari ayat sebelumnya, dikarenakan kalimat ini adalah corak ijaz hadzf, yaitu meringkas kalimat dengan menghilangkan sebagian kata yang bisa dipahami dengan qorinah dan logika sehat. Jika kita lengkapi, maka makna ayat ini adalah: “Nabi Musa mendakwahi dan membujuk bicara Fir’aun dengan lembut, bakal tetapi Fir’aun menolak dakwah tersebut. Sehingga Nabi Musa memperlihatkan mukjizat alias tanda bahwa dirinya seorang Nabi kepada Fir‘aun.”
Al-Qurthubi rahimahullah membawakan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menjelaskan bahwa mukjizat tersebut adalah tongkat yang dapat berubah menjadi ular.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَكَذَّبَ وَعَصٰىۖ
“Akan tetapi, dia (Fir‘aun) mendustakan (kerasulan) dan mendurhakai (Allah).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 21)
Fir’aun mendustakan Nabi Musa serta melakukan durhaka kepada Allah setelah diperlihatkan mukjizat yang besar dan nyata.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ثُمَّ اَدْبَرَ يَسْعٰىۖ
“Kemudian, dia beralih seraya berupaya (menantang Musa).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 22)
Fir’aun memalingkan badan dan menjauh dari ular mukjizat tersebut. Sebagian mahir tafsir menjelaskan dalam tindakan beralih tersebut, Fir’aun sejatinya merasa takut lantaran dahsyatnya mukjizat yang dia lihat, sehingga dirinya mempercepat jalannya untuk menutupi rasa takutnya. Mujahid rahimahullah menjelaskan bahwa beralih di sini maksudnya adalah beralih dari iman.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَحَشَرَ فَنَادٰىۖ
“Maka, dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), lampau berseru (memanggil kaumnya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 23)
Setelah kejadian tersebut, Fir’aun memanggil tentara dan rakyatnya, serta berseru dengan lantang, yang Allah ceritakan dalam firman-Nya,
فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ
“Dia berkata, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 24)
Perkataan kufur ini bukanlah perkataan kufur pertama yang diucapkan oleh Fir’aun. Akan tetapi, pertama kali Fir’aun mengatakan,
مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرِى
“Aku tidak mengetahui ada tuhan lain bagi kalian selain diriku.”
Perkataan ini terdapat dalam surah Al-Qasas ayat 38. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa jarak antara perkataan dalam surah Al-Qasas dan surah An-Nazi’at adalah 40 tahun. Artinya, Nabi Musa telah mendakwahi Fir’aun dalam waktu yang panjang, dengan penuh daya upaya Nabi Musa mencoba mengingatkan kepada Fir‘aun bahwa sejatinya dia adalah makhluk yang butuh kepada pecipta, ialah Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاَخَذَهُ اللّٰهُ نَكَالَ الْاٰخِرَةِ وَالْاُوْلٰىۗ
“Maka, Allah menghukumnya dengan balasan di alambaka dan (siksaan) di dunia.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 25)
Setelah perkataan kufur mengaku sebagai tuhan yang paling tinggi, serta tindakan kejam mau membunuh Nabi Musa, kemudian mengejar Nabi Musa sampai ke pinggir laut Merah, maka Allah hancurkan Fir’aun dengan menenggelamkannya ke laut Merah. Sebagai corak penghinaan lantaran merasa tinggi, Allah hancurkan dia dengan menenggelamkannya ke dalam dasar lautan.
Sebagian penelitian modern menyebut bahwa dalam mumi Fir’aun yang dihadapi Nabi Musa, tetap terdapat sisa garam laut yang menjadi penegas bahwa dia memang meninggal di dalam lautan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى
“Sesungguhnya, pada yang demikian itu betul-betul terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 26)
Kesimpulan, dalam kisah Nabi Musa dan Fir’aun yang telah diceritakan, terdapat pelajaran bahwa hasil akhir bagi penentang Allah dan Rasul-Nya adalah balasan yang mengerikan di bumi dan akhirat. Tentunya, pelajaran ini hanya bisa diambil oleh seorang mukmin yang takut kepada Allah.
Allah jelaskan bahwa pelajaran ini bakal berfaedah bagi orang yang takut kepada Allah, kebalikannya adalah pelajaran ini tidak berfaedah bagi yang tidak takut kepada Allah. Hal ini kita temui dalam realita sebagian orientalis kafir yang mempelajari kisah Nabi Musa dan Fir’aun. Mereka mempelajari kisah ini apalagi menelusuri langsung ke situs arkeologis terkait, namun yang mereka dapatkan bukan pelajaran tentang keimanan, bakal tetapi malah semakin menambah kekufuran mereka.
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 2
***
Penulis: Dany Indra Permana
Artikel Kincai Media
Catatan kaki:
Mayoritas cetakan dan laman referensi adalah dari app turath: https://app.turath.io/
English (US) ·
Indonesian (ID) ·