Telah datang kepada kita hari-hari terbaik dunia, di mana kebaikan saleh yang dilakukan pada hari-hari tersebut lebih dicintai Allah ‘Azza wa Jalla dibandingkan selainnya. Hari-hari itu adalah sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijah, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam sebuah sabda yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
ما من أيام العمل الصالح فيهن أحبُّ إلى الله منه في هذه الأيام العشر
“Tidak ada hari di mana kebaikan saleh yang dilakukan padanya lebih dicintai di sisi Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama Zulhijah).”
Para sahabat bertanya, “Walaupun jihad di jalan Allah?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ولا الجهاد في سبيل الله ، إلا رجل خرج بنفسه وماله ولم يرجع من ذلك بشيء
“Walaupun jihad di jalan Allah. Kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya dan dia tidak kembali (dikarenakan syahid).” (HR. Bukhari [II/457], Abu Dawud [VII/103], At-Tirmidzi [III/463], Ibnu Majah [I/550], dan Ahmad [III/298]. Dan lafaz ini dikeluarkan At-Tirmidzi)
Starter pack Zulhijah
Berniat untuk beragama dengan baik kepada Allah dan menjaga hak-hak-Nya
Niat mempunyai kedudukan yang krusial dalam diri seorang muslim. Dengan niat yang betul ialah hanya mengharap wajah Allah dan menggapai keridaan-Nya, tekad menjadi bulat dan diri bakal bersungguh-sungguh untuk menggapai apa yang menjadi tujuan.
Suatu hari ‘Abdullah bin Al-Imam Ahmad berbicara kepada ayahnya, “Berikanlah wasiat kepadaku, wahai ayah!” Imam Ahmad menjawab,
يا بني انو الخير فإنك لا تزال بخير ما نويت الخير
“Wahai anakku, beniatlah untuk melakukan baik. Karena sesungguhnya engkau bakal senantiasa dalam kebaikan, selama engkau beriktikad baik.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah – Ibnu Muflih, hal. 104)
Seorang yang beriktikad untuk melakukan kebaikan juga mendapatkan keistimewaan berupa ditulis baginya satu pahala andaikan dia terhalangi dalam mengerjakannya lantaran suatu uzur. Dan andaikan dia betul-betul mengerjakan apa yang dia niatkan, dituliskan baginya pahala sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus lipat pahala kebaikan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، كُتِبَتْ له حَسَنَةً، ومَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَعَمِلَها، كُتِبَتْ له عَشْرًا إلى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ، ومَن هَمَّ بسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، لَمْ تُكْتَبْ، وإنْ عَمِلَها كُتِبَت
“Barang siapa yang berkeinginan untuk mengerjakan suatu kebaikan dan dia tidak mengerjakannya, maka ditulis baginya satu pahala kebaikan. Dan andaikan dia mengerjakannya, maka dituliskan untuknya pahala sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus lipat pahala kebaikan. Dan peralatan siapa yang berkeinginan untuk melakukan suatu keburukan dan dia tidak mengerjakannya, maka tidak dicatat atasnya. Dan andaikan dia mengerjakannya, dicatat atasnya satu keburukan.” (HR. Muslim no. 130)
Para ustadz berkata,
العازم كالفاعل
“Orang yang telah betekad seperti orang yang telah mengerjakan.”
Bertaubat kepada Allah
Tidak ada satu pun manusia yang luput dari kesalahan dan dosa. Bahkan orang-orang yang bertakwa, Allah firmankan di dalam Al-Qur’an, terkadang mereka juga terjatuh dalam fahisyah (perbuatan yang keji) dan mereka menzalimi dirinya sendiri. Akan tetapi, mereka bersegera bertaubat dan memohon pembebasan kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an,
وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُون
“Dan (juga) orang-orang yang andaikan mengerjakan perbuatan biadab alias menganiaya diri sendiri, mereka ingat bakal Allah, lampau memohon maaf terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)
Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْن
“Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499, Ibnu Majah no. 4251, Ahmad [III/198], Al-Hakim [IV/244], dan dihasankan oleh Al-Albani dalam kitab Shahih al-Jami’i ash–Shaghir no. 4391)
Menjaga Waktu
Waktu adalah modal utama bagi seorang muslim untuk melakukan kebaikan dan menggapai kemuliaan yang telah Allah janjikan. Sifatnya terbatas dan tidak bakal terulang kembali. Maka sudah sepatutnya untuk dipergunakan dengan baik.
Al-Khalil bin Ahmad rahimahullah berkata, “Waktu itu ada tiga bagian: waktu yang telah berlalu darimu dan takkan kembali, waktu yang sedang kau alami, dan lihatlah gimana dia bakal berlalu darimu, dan waktu yang engkau tunggu, bisa jadi engkau tidak bakal mendapatkannya.” (Thabaqat Al-Hanabilah [I/288])
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaibi wa sallam bersabda,
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkan lima perihal sebelum datangnya lima hal: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kekayaanmu sebelum kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu.” (HR. Al-Hakim [IV/306])
Amal-amal yang dianjurkan di sepuluh awal Zulhijah
Berdoa ketika memandang hilal
Dari Thalhah bin ‘Ubaidullah radhiyallahu ‘anhu bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat hilal, beliau mengucapkan,
اللَّهُمَّ أهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأمْنِ وَالإيمانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالإسْلاَمِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ، هِلالُ رُشْدٍ وخَيْرٍ
“Ya Allah, perlihatkanlah bulansabit itu kepada kami dengan keamanan dan keimanan, keselamatan dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, bulansabit petunjuk dan kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi. Dinukil dari kitab Riyadhus Shalihin, hadis ke-1236)
Menjaga ibadah-ibadah yang wajib
Hendaknya kita menjaga penyelenggaraan ibadah yang berkarakter wajib dan betul-betul menunaikan haknya seperti salat lima waktu, melaksanakan qadha puasa Ramadan bagi yang tetap mempunyai hutang puasa, menunaikan amal bagi yang telah mencapai nishab dan haul, melaksanakan haji bagi yang mampu, berkhidmat kepada kedua orang tua, alim kepada suami dan mendidik anak-anak dengan baik bagi seorang istri, dan sebagainya. Karena disebutkan di dalam sebuah sabda Qudsi yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
وما تقرَّب إليَّ عبدي بشيءٍ أحَبَّ إليَّ ممَّا افترَضْتُ عليه
‘Sesungguhnya seorang hamba tidaklah mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu pun yang lebih saya cintai dibandingkan perkara yang Aku wajibkan untuknya.’” (HR. Ibnu Hibban no. 347)
Salat malam
Salat malam alias qiyamul lail merupakan kebiasaan orang-orang saleh. Allah Ta’ala berfirman ketika menyebut ciri-ciri orang yang beriman,
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ ٱلْمَضَاجِع
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya.” (QS. As-Sajadah: 16)
Dalam surah yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
كَانُوا۟ قَلِيلًا مِّنَ ٱلَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam.” (QS. Adz-Dzariyat: 17)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل
‘Sebaik-baik salat setelah salat fardhu adalah salat malam.’” (Riyadush Shalihin, hadis no. 1175)
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ ، فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ الله ، وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأخَّرَ؟ قَالَ : أفَلاَ أكُونُ عَبْداً شَكُوراً؟
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa salat malam hingga kedua telapak kakinya pecah-pecah, maka saya bertanya kepada beliau, ‘Mengapa engkau melakukan seperti ini, wahai Rasulullah, padahal dosa-dosamu yang telah lampau dan yang bakal datang telah diampuni?’ Beliau menjawab, ‘Tidak bolehkah saya menjadi hamba yang bersyukur?” (Muttafaqun ‘alaih)
Sa’id bin Jubair, seorang tabi’in, andaikan memasuki sepuluh awal Zulhijah, dia bersungguh-sungguh dalam beragama sampai-sampai nyaris saja dia tidak bisa lagi melaksanakannya. Diriwayatkan juga bahwa dia berkata, “Jangan kalian matikan lampu-lampu kalian pada malam-malam sepuluh awal Zulhijah.” Maksudnya dia menganjurkan agar malam-malam tersebut dihidupkan dengan ibadah. (Lathaiful Ma’arif, hal. 494)
Berpuasa
Dalam sebuah sabda yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
الصوم لي وأنا أجزي به يدع شهوته واكله وشربه من أجلي
‘Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang bakal membalasnya. Ia meninggalkan syahwatnya, makanan dan minumannya lantaran diri-Ku.’” (HR. Muslim)
Berkata Ibnu Abdil Barr rahimahullah,
كفى بقوله: الصوم لي – فضلا للصيام على سائر العبادات
“Cukuplah sabda-Nya, ‘Puasa itu untuk-Ku’ menunjukkan keistimewaan puasa atas ibadah-ibadah yang lain.”
Maka sudah sepatutnya bagi kita untuk menunaikan ibadah yang utama pada hari-hari yang utama. Di antara sahabat yang biasa berpuasa di sepuluh hari pertama Zulhijah adalah Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Terlebih pada hari Arafah ialah tanggal 9 Zulhijah. Disebutkan di dalam sabda yang diriwayatkan sahabat Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa di hari Arafah, maka beliau bersabda,
يكفر السنة الماضية والباقية
“(Puasa Arafah) menghapus dosa satu tahun yang lampau dan satu tahun yang bakal datang.” (HR. Muslim no. 1162)
Bersedekah
Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَٰعَة
“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at.” (QS. Al-Baqarah: 254)
Dalam ayat yang lain, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا۟ ٱلْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِـَٔاخِذِيهِ إِلَّآ أَن تُغْمِضُوا۟ فِيهِ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيد
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah Anda memilih yang buruk-buruk lampau Anda menafkahkan daripadanya, padahal Anda sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)
Dan tetap banyak lagi ayat-ayat yang semisal, di mana Allah Tabaraka wa Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beragama untuk bersedekah.
Dari Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اتقو النار ولو بشق تمرة
“Takutlah kalian kepada api neraka, meskipun hanya dengan (bersedekah) separuh kurma.” (Muttafaqun ‘alaih)
Membaca Al-Qur’an
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعًا لأصحابه
“Bacalah Al-Qur’an lantaran sesungguhnya dia bakal datang pada hari hariakhir sebagai pemberi syafa’at bagi para pembacanya.” (HR. Muslim)
Berzikir
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما مِن أيَّامٍ أَعظَمَ عِندَ اللهِ، ولا أَحَبَّ إلَيهِ مِنَ العملِ فيهِنَّ مِن هذِه الأَيَّامِ العَشرِ؛ فأَكثِرُوا فيهِنَّ مِنَ التَّهليلِ، والتَّكبيرِ، والتَّحميدِ
“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah, tidak pula yang lebih disukai oleh-Nya untuk beramal di dalamnya, daripada hari-hari sepuluh (1-10 Zulhijah). Maka perbanyaklah pada hari-hari itu (ucapan) tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad [II/75])
Al-Bukhari mengatakan, “Dahulu Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum pergi ke pasar pada hari-hari yang sepuluh ini (dari tanggal 1 sampai 10), sembari bertakbir, dan orang-orang pun ikut bertakbir.” (Al-Bukhari dalam kitab Al-‘Idain bab Fadhlul ‘Amali fi Ayyamit Tasyriq)
Ja’far Al-Faryabi meriwayatkan dalam kitab Al-‘Idain, “Telah bercerita kepada kami Ishaq bin Rahawaih, telah memberitahukan kami Jarir dari Yazid bin Abu Ziyad berkata, Aku memandang Sa’id bin Jubair, Mujahid, dan ‘Abdurrahman bin Abu Laila -atau dua orang dari ketiganya- serta beberapa orang fakih di kalangan manusia bahwa mereka mengucapkan di sepuluh hari awal Zulhijah, ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ila ha illallah, Wallahu Akbar, Walillahil hamd.’” (Lathaiful Ma’arif, hal. 510)
Berkurban
Berkurban adalah sebuah ibadah yang Allah syariatkan pada setiap umat. Umat-umat terdahulu maupun umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ فَلَهُۥٓ أَسْلِمُوا۟ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُخْبِتِين
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah terhadap hewan ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, lantaran itu bertawakal dirilah Anda kepada-Nya. Dan berilah berita ceria kepada orang-orang yang tunduk alim (kepada Allah).” (QS. Al-Hajj: 34)
Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,
وَٱلْبُدْنَ جَعَلْنَٰهَا لَكُم مِّن شَعَٰٓئِرِ ٱللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ فَٱذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَيْهَا صَوَآفَّ ۖ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْقَانِعَ وَٱلْمُعْتَرَّ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرْنَٰهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون
“Dan telah Kami jadikan untuk Anda unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, Anda memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika Anda menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian andaikan telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan Anda bersyukur.” (QS. Al-Hajj: 36)
Al-Budn di sini ada yang mengatakan maksudnya adalah unta dan ada juga yang mengatakan maksudnya adalah sapi dan unta. (Tafsir Ibnu Katsir [6/167])
Jumhur ustadz mengatakan bahwa menyembelih satu budna ini sah untuk 7 orang (berbeda dengan kambing, di mana seekor untuk satu orang). Hal ini sebagaimana telah tetap dalam Shahih Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan lainnya, dia mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami agar berasosiasi dalam hewan kurban, unta besar bagi tujuh orang dan sapi pun bagi tujuh orang.” (Muslim no. 1318)
Dari ‘Ali bin Al-Husain dari Abu Rafi’ bahwa jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban, beliau membeli dua domba yang gemuk, bertanduk, dan bagus. Jika telah mengerjakan salat (yakni di tanah lapang) dan menyampaikan khotbah kepada umat manusia, beliau membawa salah satu dari keduanya dan beliau berdiri di tempat salat beliau. Lalu beliau menyembelihnya sendiri dengan pisau. Kemudian beliau mengucapkan,
اللهم هذا عن امتي جميعها من شهد لك بالتوحيد وشهد لي باالبلا
“Ya Allah, ini atas nama umatku seluruhnya, siapa yang bersaksi bagi-Mu dengan mengesakan dan bersaksi bagiku dengan penyampaian.”
Kemudian domba yang satu lagi diserahkan kepada beliau, lampau beliau menyembelihnya sendiri. Kemudian beliau bersabda,
هذا عن محمد وآل محمد
“Ini atas nama Muhammad dan family Muhammad.”
Kedua domba itu pun diberikan kepada orang-orang miskin, dan beliau beserta family beliau pun turut makan dari keduanya.” (HR. Ahmad [VI/8] dan Ibnu Majah [II/1043, 1044])
Termasuk corak pengagungan bakal perintah Allah untuk berkurban adalah membaguskan hewan kurban tersebut dan menggemukkannya. Abu Umamah bin Sahl mengatakan, “Kami dulu mempergemuk hewan-hewan kurban di Madinah dan kaum muslimin pun menggemukkannya.” (Fathul Bari [X/11])
Setiap tahunnya, selama tinggal di kota Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berkurban. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
أقام النبي صلى الله عليه وسلم بالمدينة عشر سنين يضحي
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Madinah selama sepuluh tahun dan senantiasa berkurban.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, sanadnya hasan)
Dan tujuan disyariatkannya ibadah kurban ini tidak lain adalah agar kita mengingat Allah disaat menyembelihnya. Sebab Allah-lah yang menciptakan dan yang memberi rezeki, dan Dia Maha Kaya dari selainnya. Allah Ta’ala berfirman,
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِين
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk Anda agar Anda mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah berita ceria kepada orang-orang yang melakukan baik.” (QS. Al Hajj: 37)
Disebutkan di dalam sabda yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن الله لا ينظر الى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم
“Sesungguhnya Allah tidak memandang rupamu, tidak pula hartamu, tetapi Dia memandang hati dan amalmu.” (HR. Muslim no. 2564)
Penutup
Demikian yang dapat penulis sampaikan sebagai sarana untuk meraih kesuksesan pada hari-hari terbaik dunia, ialah sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijah. Tentu, sebagian dari amal-amal ibadah yang telah disebutkan tidak hanya berakhir pada sepuluh hari yang utama ini, namun juga pada hari-hari yang lain hingga ajal menjemput. Sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala,
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِين
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)
Hanya kepada Allah kita memohon taufik.
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Kincai Media
Referensi:
- Kajian Keutamaan-Keutamaan Bulan Zulhijah, Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
- Kajian Amalan-Amalan Terbaik Di 10 Hari Awal Zulhijah, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc.
- Al-Hanbali, Al-Hafidz Ibnu Rajab. Latha’iful Ma’arif(Terjemahan: Sidiq, Yusuf). Sukoharjo: Penerbit Al-Qowam
- Katsir, Ibnu. Shahih Tafsir Ibnu Katsir. (Terjemahan: Tim Pustaka Ibnu Katsir). Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir
- An Nawawi. Riyadush Shalih(Terjemahan: Karimi, Lc, Izzudin). Jakarta: Penerbit Darul Haq
- Kajian Kiat-Kiat Agar Sukses di Bulan Ramadan, Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
- Abdul Qadir Jawas, Yazid. Syarah Arba’in An-Nawawi. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i
English (US) ·
Indonesian (ID) ·