Kincai Media , JAKARTA -- Bayangkan sebuah kue serabi sebesar piring kecil, hangat baru keluar dari tungku kayu bakar, permukaannya berliang lembut, aroma santan gurih alias gula jawa manis legit mengepul menggoda. Satu gigitan saja cukup membikin perut kenyang, tapi rasanya begitu mengena hingga meninggalkan rasa kangen yang dalam. Inilah Serabi Kalibeluk dari Kabupaten Batang, Jawa Tengah, bukan sekadar camilan, melainkan warisan rasa yang sudah memperkuat lebih dari tiga abad, membikin siapa pun yang mencobanya mau kembali lagi.
Cerita Serabi Kalibeluk bermulai sekitar tahun 1663, pada masa Kerajaan Mataram Islam di era Sultan Agung. Sosok Nyai Randinem, alias dikenal sebagai Mbok Rondo, menjadi pelopornya. Ia mendapatkan resep rahasia dari Ki Ageng Cempaluk, ayah dari Tumenggung Bahurekso, senopati kerajaan yang legendaris sebagai pembuka jalan di Alas Roban yang angker.
Nyai Randinem tak hanya membikin dan menjual serabi ini, tapi juga mengembangkannya hingga menjadi mata pencaharian yang memberkati keturunannya. Konon, Ki Ageng Cempaluk berpesan bahwa siapa saja yang menekuni pembuatan serabi bakal hidup berkecukupan, dan hingga kini, banyak perajin di Desa Kalibeluk tetap keturunan Nyai Randinem, menjaga resep turun-temurun itu.
Apa yang membikin Serabi Kalibeluk begitu istimewa? Ukuran jumbo-nya, berdiameter sekitar 10 sentimeter, jauh lebih besar dari serabi biasa, sehingga satu biji bisa dinikmati rame-rame alias cukup mengenyangkan satu orang dewasa. Teksturnya lembut berliang di dalam, seperti spons yang menyerap rasa gurih santan original alias manis legit gula jawa.
Fadhilah, salah satu perajin di Kampung Kalibeluk, bangga mengatakan resep yang digunakannya warisan nenek moyang. "Keaslian inilah yang membikin rasanya tetap otentik, beda dari serabi lain," katanya sembari tersenyum, tangannya sibuk menuang adonan.
Proses pembuatannya pun tetap tradisional, menjadi daya tarik tersendiri. Beras digiling manual alias dengan perangkat sederhana, dicampur kelapa parut dan bahan alami lain. Adonan kental dituang ke wajan tanah liat di atas tungku kayu bakar, asap wangi kayu menambah aroma unik yang tak tergantikan.
Datanglah pagi-pagi ke rumah perajin, Anda bisa menyaksikan langsung api menari di tungku, adukan mengembang perlahan, hingga serabi matang dengan warna keemasan. Banyak pembeli rela antre sejak subuh untuk mendapat yang tetap hangat.
Satu tangkup (dua biji) hanya Rp15.000, murah, mengenyangkan, dan penuh cerita. Bagi penduduk lokal, menyantapnya di pagi hari setara sarapan nasi. Dipadukan dengan kopi hitam pahit di senja hari, rasanya membawa nostalgia masa kecil, ketenangan sederhana yang susah ditemui di kuliner modern.
sumber : Antara
English (US) ·
Indonesian (ID) ·