Iman kepada Kitab Allah: Ketika Wahyu Menjadi Penentu Arah

Akidah dan Sunnah oleh Waktu baca 5 menit 519x dilihat
Iman kepada Kitab Allah: Ketika Wahyu Menjadi Penentu Arah

Bagikan Postingan

Menempatkan petunjuk Allah di atas derasnya opini, tren, dan pembenaran diri.

Kita tidak kekurangan informasi. Dalam beberapa menit, seseorang dapat menemukan ratusan penjelasan tentang satu masalah. Namun, banyaknya jawaban tidak selalu membikin arah menjadi lebih jelas. Tidak jarang, orang justru terus mencari sampai menemukan pendapat yang paling sesuai dengan keinginannya. Pertanyaannya bukan lagi, “Apa yang benar?” melainkan, “Mana yang membenarkan pilihan saya?”

Di tengah derasnya opini, ketaatan kepada kitab-kitab Allah memberi seorang mukmin ukuran yang kokoh. Allah tidak membiarkan manusia melangkah hanya dengan akal, pengalaman, dan selera yang terbatas. Dia menurunkan wahyu sebagai petunjuk, rahmat, dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

Beriman kepada kitab berfaedah menerima petunjuk Allah

Iman kepada kitab-kitab Allah mencakup beberapa perkara. Kita meyakini bahwa kitab-kitab tersebut betul-betul diturunkan oleh Allah. Kita mengimani kitab yang diketahui namanya, seperti Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an, serta mengimani kitab lain yang tidak diketahui namanya secara umum. Kita membenarkan buletin yang sahih darinya. Kita juga menerima norma yang bertindak bagi kita dengan rida dan tunduk.

Terhadap kitab-kitab terdahulu yang beredar sekarang, ukuran kebenarannya adalah wahyu yang terjaga. Al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang membenarkan pokok kebenaran kitab-kitab sebelumnya sekaligus menjadi pengadil atasnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya.” (QS. Al-Ma’idah: 48)

Karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul terakhir bagi seluruh manusia, Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia hingga hari kiamat. Kitab-kitab sebelumnya diturunkan kepada umat tertentu sesuai dengan keadaan mereka; sedangkan Al-Qur’an datang dengan hukum yang sempurna dan sesuai bagi seluruh era dan tempat.

Al-Qur’an bukan sekadar simbol kesalehan

Mushaf dapat diletakkan di tempat yang tinggi, referensi juga dapat dilantunkan dengan indah. Semua corak penghormatan itu baik andaikan dilakukan dengan benar. Namun, tujuan diturunkannya Al-Qur’an tidak berakhir pada penghormatan lahiriah. Allah menyebutnya sebagai petunjuk,

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Petunjuk berfaedah ketika diikuti. Oleh lantaran itu, hubungan yang betul dengan Al-Qur’an mencakup membaca, memahami, membenarkan, dan mengamalkan. Seseorang belum mengambil petunjuk secara utuh andaikan dia hanya membaca ayat yang menenangkan, tetapi menolak ayat yang mengoreksi kebiasaan, transaksi, pergaulan, alias keinginannya.

Iman kepada kitab Allah juga meluruskan langkah kita mencari jawaban. Seorang mukmin tidak memotong dalil untuk memenangkan pilihan yang telah ditetapkan sejak awal. Ia berupaya memahami petunjuk secara utuh, merujuk kepada penjelasan ustadz yang terpercaya, dan bersedia mengubah sikap ketika mengetahui bahwa keinginannya tidak sejalan dengan wahyu.

Sikap tunduk tidak berfaedah tergesa-gesa menyimpulkan norma hanya dari terjemahan satu ayat. Al-Qur’an dijelaskan oleh As-Sunah, ayat-ayatnya saling menerangkan, dan para ustadz membantu memahami bahasa, konteks, serta langkah menggabungkan dalil. Kesungguhan mengikuti wahyu juga tampak pada kerendahan hati untuk belajar. Seseorang tidak menjadikan keterbatasan pemahamannya sebagai argumen menolak petunjuk, tetapi juga tidak mengatasnamakan Al-Qur’an untuk pendapat yang belum dia pahami dengan benar.

Wahyu tidak meniadakan pengetahuan dan keahlian

Menjadikan wahyu sebagai penentu arah bukan berfaedah mengabaikan pengetahuan manusia. Dalam urusan teknis, kita tetap memerlukan dokter, insinyur, pendidik, mahir keuangan, dan orang-orang yang memahami bidangnya. Pengalaman dan penelitian dapat membantu memilih langkah yang paling efektif. Namun, wahyu menetapkan pemisah legal dan haram, tujuan hidup, serta nilai yang tidak boleh ditukar hanya lantaran sebuah langkah dianggap lebih sigap alias lebih populer.

Akal adalah nikmat besar, tetapi kemampuannya terbatas. Manusia dapat mengetahui sebagian faedah dan bahaya, sedangkan pengetahuannya tentang akibat jangka panjang, keadaan hati, dan kehidupan setelah kematian sangat terbatas. Diturunkannya kitab-kitab Allah menunjukkan rahmat-Nya: manusia tidak dibiarkan menebak sendiri jalan keselamatan.

Rahmat tersebut juga terlihat dari kesesuaian hukum dengan umat yang menerimanya. Pokok kepercayaan para rasul sama, ialah tauhid; sedangkan sebagian rincian hukum dapat berbeda sesuai hikmah Allah. Al-Qur’an sebagai kitab terakhir membawa petunjuk yang bertindak hingga hari kiamat. Perubahan era tidak menjadikan manusia bebas mengganti ukuran kebenaran, tetapi mendorong mereka untuk mempelajari gimana petunjuk yang tetap diterapkan secara betul pada keadaan yang berubah.

Seorang mukmin tidak resah hanya lantaran aliran wahyu tidak selalu mengikuti arus. Tren berubah, istilah berganti, dan pendapat yang dipuji hari ini dapat ditinggalkan besok. Wahyu memberi titik injak yang tidak bergerak berbareng tekanan sosial. Dari titik itulah manusia menilai perkembangan, mengambil manfaatnya, dan menolak bagian yang menyelisihi petunjuk Allah.

Berhenti mencari pembenaran

Di hadapan wahyu, pertanyaan yang sehat bukan hanya, “Apakah ada pendapat yang membolehkan kemauan saya?” Pertanyaan yang lebih jujur adalah, “Apa yang Allah tunjukkan, dan gimana saya dapat tunduk kepada-Nya?” Terkadang jawabannya sesuai dengan keinginan; terkadang dia menuntut kita meninggalkan sesuatu yang dicintai. Justru pada saat itulah ketundukan diuji. Iman kepada kitab Allah menjadikan wahyu bukan hanya sesuatu yang kita hormati, tetapi petunjuk yang menentukan arah langkah kita.

Baca juga:

***

Penulis: Mochammad Wibisono

Artikel Kincai Media

Referensi:

Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 328–344 dan 493–497.

Artikel Lainnya Akidah dan Sunnah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads